Jakarta, 14 Agustus 2020. Status pandemi Covid-19 yang diumumkan pemerintah pada awal Maret 2020, menyusul pernyataan dari beberapa negara, ternyata membawa dampak yang cukup signifikan di masyarakat.  Jika melihat berbagai gambar di media sosial, orang-orang di seluruh dunia menjadi sangat protektif pada dirinya, seperti menggunakan jas hujan, masker bedah, bahkan memodifikasi botol galon isi ulang menjadi alat pelindung diri yang membuat ketakutan masif.

Reaksi pasar sempat sangat tidak masuk akal, masker yang harganya semula 30 ribu rupiah saat itu menjadi Rp 350.000 bahkan lebih. Hand sanitizer dalam waktu cepat menghilang dari pasar ditambah sembako yang sempat diborong oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.  Kondisi seperti itu tentu sangat berat bagi banyak orang, terutama masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi.  

Pertamina Foundation melalui salah satu pilar kegiatannya disebut PFBangkit  segera menyusun rencana aksi baik secara mandiri maupun bekerja sama dengan lembaga lain.  Bersama Hope Worldwide Indonesia yang dipimpin oleh Pak Charles, Pertamina Foundation menyediakan layanan Unit Wastafel Keliling yang ditempatkan di RS Wisma Atlet Kemayoran. Ini merupakan bagian dari edukasi sejalan dengan himbauan pemerintah untuk sering mencuci tangan memakai sabun.

Selain Unit Wastafel Keliling, program PFBangkit juga terjun ke rumah-rumah sakit untuk memberikan bantuan berupa makan siang bagi para tenaga kesehatan. Masker, alat pelindung diri, hand sanitizer dan sembako diberikan kepada panti asuhan, panti yatim piatu, pekerja maupun pengunjung  pasar yang setelah kami survei ternyata banyak yang masih belum memakai masker.

Pertamina Foundation bahu membahu dengan The Jakarta Post Foundation dan konsultan Hora Tjitra and Associate memberikan bantuan sembako ke para penggali makam di lima makam pemakaman yaitu TPA Tanah Kusir, TPA Karet Bivak, TPU Pondok Ranji, TPU Kampung Kandang dan TPU Tegar Alur  yang bekerja ekstra memakamkan jenazah para korban Covid-19.  Selain bantuan yang sifatnya langsung bisa dimanfaatkan masyarakat, Pertamina Foundation juga memberikan stimulus yang menguatkan ketahanan ekonomi masyarakat marginal. Direktur Utama Pertamina Foundation Agus Mashud dan Direktur Operasional Unggul Putranto, bersama dengan pimpinan The Jakarta Post Foundation Bambang Trisno menyambangi langsung para penderita lepra di Jagakarsa dan Kebumen dengan menyerahkan sumbangan berupa bibit lele dan sayur kangkung yang ditempatkan di dalam ember. Direktur Keuangan Medianto Tjatur pun turut serta membantu ke Pondok Pesantren di Bogor, Depok, dan Jakarta Selatan serta Kampung Nelayan di Muara Angke Jakarta Utara untuk memberikan bantuan dari Pertamina Foundation.

Selain melalui beberapa pihak yang disebutkan di atas, Pertamina Foundation mendapatkan amanah dari para pekerja Pertamina yang ingin menyalurkan bantuannya.  Sebesar lebih dari 75 juta Rupiah diberikan kepada masyarakat, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di daerah-daerah lain. Bekerja sama dengan pihak RS Pertamina Tarakan di Kalimantan Utara, PF menyerahkan bantuan berupa APD dan sembako.  

Melalui Pemerintah Daerah Kebumen, Pertamina Foundation menyerahkan bantuan bibit lele dan kangkung sejumlah 100 unit, 100 paket alat pelindung diri (APD), dan 1000 buah masker kepada penyandang disabilitas di daerah tersebut. Bantuan diterima oleh Wakil Bupati Kebumen Bapak Arif Sugianto. Bibit lele dan kangkung ini merupakan bentuk penguatan ekonomi bagi kalangan yang terdampak karena penghasilan mereka yang menurun drastis. Diharapkan mereka bisa memanen ikan lelenya dalam waktu 3 bulan, dan memetik kangkung yang terus tumbuh sampai 3 sampai 4 kali panen.  Model bantuan seperti ini, seperti juga diberikan pada penderita Lepra di Jagakarsa dan Tangerang, diharapkan memberikan multiplier effect bagi masyarakat. Mereka akan rajin merawat ikan dalam embernya dan pada waktunya ikannya akan dijual kepada para pedagang pecel lele yang berada di sekitar mereka.

Penguatan daya tahan ekonomi juga diberikan kepada para petani. Dalam aksi ini Pertamina Foundation juga bersama dengan Pak Hora melalui kelompok anak muda yang tergabung dalam Baramoeda Indonesia di Yayasan Eco Learning Camp, melatih petani-petani dan pengurus Karang Taruna Desa Ciburial untuk belajar bertani menggunakan pupuk organik. Model yang dikembangkan adalah memberikan bantuan berupa bibit, pupuk dan pelatihan, serta memberikan kesempatan pada mereka untuk menanam langsung di area Eco Learning Camp di daerah Dago, Bandung. Agar bisnis tersebut sustain, Eco Learning Camp akan membeli produk sayuran sehat ini.  Diharapkan pengetahuan dari para pionir petani dan pengurus Karang Taruna di sana bisa mengajak petani di Desa Ciburial yang berjumlah 3600 orang akan beralih menggunakan pupuk organik, dan menjual sayur sehat organik di daerah mereka dengan harga lebih baik.

Dampak ekonomi pasti dirasakan oleh semua masyarakat, tidak terkecuali para seniman.  Jika biasanya mereka bisa menjual karyanya, pada kondisi ini mereka juga tidak bisa banyak berbuat. Penjualan menurun, penghasilan juga pasti merosot. Menyadari hal tersebut, Pertamina Foundation melalui program PFBangkit juga hadir, kali ini dengan pendekatan yang berbeda. Di Kampung Wisata Namburan Lor di Yogyakarta, Pertamina Foundation mengundang pembatik senior di daerah Pasar Ngasem yaitu Mas Tri Wahyono, mengadakan pelatihan membatik yang nantinya akan bisa dinikmati masyarakat lewat IGTV Pertamina Foundation.  Tri Wahyono bersama dengan adiknya Iwan adalah pembatik yang membuatkan kain batik untuk Raja Belanda yang datang berkunjung ke Yogyakarta sebelum masa pandemi, sehingga mereka sering disebut sebagai “pencipta batik Raja Belanda”.

Selain kegiatan membatik sebagai rangkaian kegiatan di Yogyakarta, Pertamina Foundation juga menunjukkan kepedulian pada seniman lukis yang saat ini tidak bisa memamerkan dan menjual karya seninya. Melalui tutorial melukis pemandangan Gunung Merapi, pelukis Bali yang menetap di Bantul I Dewa Made Mustika memberikan teknik dan cara menuangkan imajinasinya ke kanvas.  Tujuan dari kegiatan yang nantinya juga bisa disaksikan di IGTV PF adalah agar masyarakat pencinta seni bisa menikmati karya seniman, yang pada akhirnya jika kondisi sudah kembali normal, akan membantu kualitas hidup pekerja seni.

Kita berharap semua pandemi ini segera berakhir, semua kembali normal. Apa yang dilakukan oleh Pertamina Foundation melalui program PFBangkit ini menjadi gerakan moral, kepedulian kepada masyarakat terutama yang kurang beruntung, untuk tetap menjaga semangat dan berharap semakin banyak pihak yang turut serta meringankan beban hidup masyarakat yang membutuhkan.  Semoga (Unggul Putranto, Dir Operasional PF)