Jakarta, 30 Juli 2020. Selain beberapa program yang sudah digelar, Pertamina Foundation (PF) juga masuk dalam program seni dan budaya.  Kali ini PF ingin menyambangi salah satu sentra batik di Yogyakarta, tepatnya di Kampung Wisata Namburan Lor, Kecamatan Kraton. Pada kondisi normal sebelum Covid-19 merebak, kampung itu cukup ramai dengan berbagai aktivitas seni dan budaya, seperti latihan menari dan membatik. Namun karena pandemi ini, semuanya seolah berhenti. Kini untuk meningkatkan daya tahan pangan, mereka menanam berbagai jenis tanaman dan ternak kecil-kecilan memanfaatkan lahan yang masih kosong milik warga.

Pertamina Foundation yang kali ini saya pimpin dan staf Program Rohmat Pujiono dan Narto Presdianto menyerahkan bantuan 15 paket lele kangkung dan pelatihan membatik yang nantinya akan dijadikan content youtube, yang diterima olek Ketua RT Pak Lilik Karyoko disaksikan oleh sejumlah warga yang tetap mematuhi protokol kesehatan. Sementara itu dua bersaudara yaitu Tri Wahyono dan Iwan Setiawan memberikan penjelasan tentang proses membatik dari membuat pola, mencanting yaitu memberikan malam sebagai penutup warna, mewarnai hingga terakhir ‘melorot’ yaitu proses membuang malam.  Untuk memberikan gambaran nyata Tri menunjukkan contohnya membuat pola, sedangkan Iwan menerangkan proses mencanting yang dipraktekkan oleh tantenya Ibu Watik yang berusia sekitar 60 tahun yang dengan teliti memberikan coretan malam ke dalam pola yang cukup rumit yang sudah disiapkan.  

Tri dan Iwan adalah generasi kedua dari keluarga mereka. Bapaknya yang berusia 67 tahun sampai sekarang masih membatik, terutama batik klasik Yogyakarta. Sementara anaknya saat ini juga sudah cukup ahli dalam membatik. Mereka bercita-cita suatu saat akan mengadakan ekspedisi batik 3 generasi. Beberapa bulan lalu mereka didatangi oleh staf Kedutaan Belanda dan mendapat pesanan batik dari Raja Belanda. Setelah melalui beberapa kali percobaan Raja Belanda cukup senang mengenakan baik buatan dua bersaudara ini.  Banyak masyarakat kemudian memesan “motif Raja Belanda”, yang merupakan motif ekspresionisme dengan wana warni yang “berani”.

Iwan menyampaikan bahwa biasanya seorang akan cukup lancar membuat pola, mencanting dan melorot kain, setelah belajar setidaknya 3 bulan. Dalam kesempatan itu saya mencoba mempraktekkan proses mencanting, dan saya akui bahwa proses itu cukup sulit. Mengencerkan malam dalam wajan dilakukan sampai malam menjadi encer secara merata, butuh waktu lebih dari 30 menit. Setelah itu mengisi canting dengan malam yang sudah mencair, itupun bukan perkara mudah. Malam diisi sekitar sepertiga sampai setengan canting, setelah itu ujung canting harus ditiup untuk menghindari jarum canting tersumbat, setelah itu canting digoreskan ke kain dalam posisi kelingking menempel ke landasan kain serta bergerak dari kiri ke kanan. Berbeda dengan melukis di kanvas yang bisa bergerak ke kiri ke kanan dengan bebas, mencanting hanya satu arah. Ukuran keberhasilannya adalah apabila malam itu tembus ke sisi sebalinya kain. Dalam praktiknya, saya sering kali membuat kesalahan, malam tidak tembus dan lebih parah lagi malamnya tumpah ke atas kain.

Saya sampaikan pesan kepada Tri dan Iwan tentang harapan Pertamina Foundation, bahwa jika semakin banyak orang yang meu belajar membatik, memakai batik dan memasarkan batik, niscaya industri ini akan terus berkembang, apalagi Pemerintah telah menetapkan Hari Batik Nasional tanggal 2 Oktober tiap tahunnya.  Diharapkan tiap-tiap daerah akan mempunyai dan mengembangkan motifnya sendiri.  Misalnya motif “parang” dari Yogyakarta dan Surakarta, motif awan dari Cirebon, motif Cendrawasih dari Papua, motif penyu dari Kebumen dan lain-lain.  Secara berseluruh saya sampaikan bahwa membatik itu bisa menghilangkan stress, terutama di saat kita sedang menghadapi pandemi ini.

Mari teruskan galakkan dan pelihara seni dan budaya bangsa.

AM. Unggul Putranto

Direktur Operasional Pertamina Foundation