Saya cukup kaget disambut seperti tamu dengan acara minum teh. Tidak sekedar minum air teh tetapi Bu Shierly sebagai Pimpinan Eco Camp (@eco.learningcamp) membawa kita untuk merenungkan betapa baiknya alam menyediakan segalanya untuk kita, dari pucuk teh yang dipetik oleh ibu-ibu petani pada pagi hari, diolah sampai menjadi air teh segar yang dinikmati pagi hari itu.  Renungan yang berlangsung selama kurang lebih 15 menit itu dinikmati sambal kita menutupkan mata dan ditutup dengan pemberian teh oleh Romo Ferry Sutrisna sambil berlutut dan saling memberikan hormat.

Eco Camp atau Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang berlokasi di Jalan Dago Pakar Barat Nomor 3 Desa Cigangea, Bandung  ini terdiri di atas tanah yang cukup luas, sekitar 1 ha, dimana kita dapat merasakan kesejukan dan hijau di sepanjang mata memandang.  Sebagai tempat belajar bagi siapapun yang ingin mengenal alam, Eco Camp menyediakan fasilitas yang cukup luas dengan berbagai sentra laboratorium alam seperti kebon pembibitan, pembuatan jamur yang salah satunya saya nikmati dalam bentuk sate yang rasanya nikmat seperti ayam, membuatan kompos dari bakteri dan pengembangan bibit lalat pengolah sampah organik yang disebut black soldier fly.

Salah satu sayap dari Eco Camp ini adalah gerakan anak-anak muda yang menyebut diri mereka Baramoeda Indonesia (@Baramoeda). Pagi itu saya ditemani oleh tim Baramoeda yaitu Alexa, Detha dan Steven, dan tentunya para punggawa Eco Camp. Masih banyak anak muda lain sebenarnya yang terlihat dalam Baramoeda, tetapi saat itu banyak yang sedang pulang kampung karena liburan kuliah. Mereka terdiri dari berbagai latar belakang keilmuan, suku dan agama. Ada yang dari Fakultas Farmasi, Biologi, Fisika dan yang lain, yang penting mereka punya ketertarikan pada pelestarian lingkungan, seperti visi Eco Camp : Manusia Berkualitas, Merawat Bumi dan Berguru pada Bumi.

Steven yang sedang kuliah di Fakultas Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan merupakan salah satu penerima beasiswa Pertamina Sobat Bumi 2020 mengembangkan lalat hitam yang setelah saya cek di salah satu toko online ternyata ada juga yang menjual larvanya. Dia menceritakan bahwa lalat tentara hitam yang bahasa latinnya hermetia illucens ini berbeda dengan lalat yang banyak kita kenal sebagai pembawa penyakit. Lalat ini tidak membawa pathogen, karena mereka tidak suka tempat yang jorok dan basah tapi justru suka tempat yang kering dan gelap.  Larva dari lalat ini dikembang-biakkan dari limbah coklat yang dia dapat dari pabrik coklat. Dia ingin membuktikan media apa yang paling baik dan paling cepat bagi mengembang biakan larva lalat hitam ini.  Dalam jumlah yang cukup, larva ini akan mengubah sampah organik menjadi pupuk organik yang siap untuk menyuburkan tanah pertanian.

Lain lagi cerita Detha mahasiswa tingkat akhir Fakultas Farmasi ITB yang bermimpi akan banyak petani menggunakan bahan-bahan organik dalam mengolah lahan pertaniannya. Dalam diskusi tersebut saya sampaikan saran, kita harus mem-branding hasil dari petani yang dengan kesadarannya menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan. Dia menceritakan bunga kol saat ini hanya dijual Rp 1500/kg. Jika mereka dengan sadar mau menggunakan pupuk organik yang dihasilkan dari larva lalat hitam tadi, niscaya harga yang dihasilkan dapat terangkat dan branding Desa Ciburial sebagai penghasil sayuran organik mendapat tempat di pasar.  Yang lebih penting lagi gerakan Bara Moeda ini akan bisa diduplikasi di berbagai sentra sayuran misalnya di Bogor, Dieng atau Malang.   

Tidak kalah dahsyatnya adalah pembuatan kompos organik yang dikembangkan dari bakteri.  Saat saya berjalan di Rumah Kompos di salah satu sudut Eco Camp, saya ditemani oleh Pak Budi yang berhasil mengembang-biakkan bakteri pengolah sampah. Bakteri itu menyerap panas dan bau, sehingga tidak ada bau sama sekali di sana padahal di depan saya terhampar sampah basah termasuk kulit telur ayam dan sampah basah lainnya.  Bakteri tadi akan bekerja selama dua minggu sebelum menghasilkan kompos yang siap ditaburkan di lahan pertanian, dan waktu sedikit lebih lama untuk menghasilkan pupuk dalam bentuk cairan. Pak Budi yang sudah cukup lama mengabdi di sana adalah lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), saat ini sedang membantu pengembangan pertanian di salah satu kabupaten di Lampung. Dia adalah salah satu pemrakarsa mobil listrik yang diuji coba oleh mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan beberapa tahun silam, yaitu dengan memanfaatkan bakteri yang dikembangkannya menjadi energi untuk otomotif.

Masih banyak yang bisa diceritakan tentang Eco Camp ini dan potensinya yang bisa disumbangkan untuk kesejateraan petani dan pelestarian alam Indonesia.  Saya jadi ingat pertanyaan reflektif dari Bu Shierly di akhir upacara teh, apa yang Pak Unggul rasakan ?  Saya bilang, saya merasa nyaman dan penuh rasa syukur. Itulah yang alam berikan kepada kita jika kita mau berbuat sedikit kebaikan untuk alam.  Tidak terasa 4 jam lebih berlalu dengan cepat, saya berharap bisa mengikuti modul kepemimpian alam di sana setelah semua kembali normal.  

Jakarta, 6 Juli 2020

AM. Unggul Putranto

Direktur Operasional Pertamina Foundation