Publication

Pendaftaran Soccer Clinic Bersama Indra Sjafri

Indra SjafriUntuk lebih memeriahkan acara penutupan Liga Pertamina U1-8, Pertamina Foundation dan Pertamina Soccer School menyelenggarakan Soccer Clinic bersama coach yang pernah menangani Timnas Indonesia Indra Sjafri. Soccer Clinic juga dimeriahkan dengan pemain sepak bola Indonesia Paulo Sitanggang dan para pelatih dari Jurusan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Jakarta.

Pendaftaran Soccer Clinic ini dibuka untuk umum mulai 25 hingga 27 Maret 2015 khusus bagi peserta yang berusia 10-12 tahun. Acara ini akan diselenggarakan pada 28 Maret 2015 di Gelanggang Olahraga Ciracas, Jl. Raya Bogor Km 22, Jakarta Timur, mulai pukul 10.00 hingga selesai.

Bagi yang berminat, para orang tua dapat mendaftarkan buah hatinya secara online melalui website www.pertaminafoundation.org dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a. Download Form Registrasi di sini (http://bit.ly/1FykcQf)

b. Isi lengkap Form Registrasi tersebut dan kirim kembali via e-mail dengan melampirkan scan Akta Kelahiran ke soccer.clinic@pertaminafoundation.org

c. Peserta yang lolos klasifikasi akan mendapatkan e-mail balasan dari panitia dengan lampiran Form Konfirmasi.

d. Peserta mencetak lampiran tersebut untuk dibawa pada saat acara pada 28 Maret 2015.

e. Peserta melakukan registrasi ulang di tempat acara dengan menunjukan Form Konfirmasi.

Demikian informasi ini kami sampaikan. Selamat mengikuti Soccer Clinic bersama Indra Sjafri. Semoga ini menjadi langkah awal untuk menciptakan Garuda Muda yang dapat mengharumkan nama bangsa di kancah sepak bola dunia.

SOSIALISASI PENERIMAAN MAHASISWA BARU TAHUN 2015

Ikuti sosialisasi jalur penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2015-2016 bersama Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Indonesia Emil Budiarto pada Kamis, 18 Februari 2015, di Lantai M Kantor Pusat, pukul 08.00-13.00 WIB.

Broadcast Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru dan Program Kemitraan 2015

Relawan Guru Sobat Bumi: Butuh Kepiawaian Khusus Mengajar Anak Papua

Tri, seorang relawan guru sobi berfoto dengan siswa SD WalaiPapua, —Para Relawan Guru Sobat Bumi mengaku, butuh keahlian khusus untuk mengajar anak-anak di pedalaman Papua. Pasalnya, karakter timur Indonesia berbeda dengan karakter para relawan Sobi, yang semuanya berasal dari Barat Indonesia. Apalagi, pemahaman tentang nasionalisme di benak anak pedalaman masih sangat kurang.

“Sebagai pengajar, kami harus mampu menjelaskan tentang Indonesia. Dalam menghadapi murid dan orangtua, juga butuh kepiawaian sebagai seorang pemimpin dan pengayom di sekolah,” ujar Tri Wijayanto salah satu Relawan Sobat Bumi, Senin (2/2).

Sebelum diterjunkan langsung ke lapangan, para Relawan Guru Sobat Bumi dibekali ilmu tentang nasionalisme dan kepemimpinan. Pembekalan ini dimaksudkan agar mereka mampu memberikan pemahaman tentang kecintaan terhadap Indonesia, juga bagaimana menjadi seorang pemimpin, minimal dalam lingkup kecil.

Tri adalah mahasiswa semester akhir Jurusan Pendidikan Jasmani Universitas Negeri Semarang. Ia ditugaskan mengajar di Sekolah Dasar Negeri Usku, Distrik Sanggi, Kabupaten Keerom. Kampung Usku, berada di tengah belantara hutan. Jarak tempuh dari Kota Jayapura sekitar 7-8 jam perjalanan darat. “Hutan yang di dalamnya ada rumah,” ujar Tri memberi gambaran.

Pembekalan yang didapatnya selama sepekan di Rindam Sentani Jayapura, diakui memberikan banyak manfaat sebelum terjun ke lapangan. Namun begitu, dia mengaku memiliki cerita sendiri selepas dari pendidikan. “Saya dikira Kopasuss karena berambut cepak,” ujarnya tertawa.

Relawan Guru Sobat Bumi merupakan bagian dari program utama Inspirasi Indonesia Timur. PT. Pertamina melalui Pertamina Foundation mengirimkan mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate untuk menjadi tenaga pendidik di timur Indonesia.

Dengan dikirimnya para relawan guru Sobat Bumi, pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki kecakapan hidup (life skills) sehingga mendorong tegaknya pembangunan manusia seutuhnya serta masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila.

Daerah penempatan guru tersebut merupakan daerah terluar, terjauh dan terpencil (Daerah 3T), serta belum mendapatkan akses pendidikan yang baik. Melalui program ini, para relawan guru Sobat Bumi mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi mencerdaskan anak bangsa di daerah perbatasan dan daerah 3T.

Di samping itu, penempatan relawan guru tersebut juga untuk menumbuhkan dan memupuk rasa kebangsaan, bangga memiliki jati diri sebagai warga negara Indonesia. Pertamina Foundation memandang, perlunya tenaga pendidik yang berkualitas untuk membantu pelaksanaan kegitan belajar mengajar tingkat dasar, serta untuk mewujudkan Indonesia timur sebagai Inspirasi Indonesia dan dunia. []

 

Relawan Guru Sobat Bumi Berkah bagi Pendidikan Papua

DSC03474Papua, – Kepala Sekolah Dasar YPPK Amgotro Yuruf, Frans Watae menganggap, kehadiran Relawan Sobat Bumi di sekolah yang ia pimpin merupakan sebuah berkah. “Beliau sangat membantu kami. Harapan besar, kalau bisa Pertamina Foundation membantu lagi dua orang guru. Kami tidak mempunyai guru olahraga, Kesenian, IPA, dan Bahasa Inggris. Jika di kota anak-anak sudah bisa bahasa inggris, di sini belum,” kata Frans.

Frans lebih lanjut mengatakan, sekolahnya rutin meminta penambahan tenaga guru setiap tahunnya. “Kita minta tidak pernah ada, ” katanya Senin (2/2). Padahal, sekolah di Yuruf ini adalah sekolah inti di Kabupaten Keerom. Tercatat, sekitar 140 murid yang bersekolah di sana.

Anak-anak di Yuruf berbeda dengan di sekolah di Keerom lainnya. Hampir semua murid sudah bisa membaca. Hanya para orangtua yang masih buta aksara. Namun sayang, anak-anak masih kurang semangat untuk sekolah. “Penting untuk sosialisasi dengan orangtua murid tentang hal itu,” kata Hanif, Relawan Guru Sobat Bumi Pertamina Foundation.

Sebagai relawan, Hanif Setiawan sebelumnya tidak punya  pandangan sama sekali tentang kondisi pendidikan Papua. Ia baru paham ketika mengikuti pelatihan di Jakarta. Siswa pedalaman Papua umumnya mudah jenuh. Para guru harus kreatif mencari cara untuk mengajak anak-anak terlibat aktif.

Hanif adalah salah satu guru yang punya keinginan untuk kembali ke Papua, saat selesai kuliah nanti.  “Saya sedang melakukan penelitian di sini untuk skripsi. Nantinya jika kuliah saya selesai dan ada panggilan ke sini, saya akan kembali,” kata mahasiswa semester akhir Universitas Negeri Semarang ini.

Motif Hanif untuk mengajar di Papua semakin tinggi setelah melihat kondisi pendidikan di Papua. “Terus terang saya prihatin, saya harus memikirkan tentang pendidikan di sini,” katanya yakin. Rasa iba itu menjadi cinta. Cinta akan perbaikan negeri, mencerdaskan bangsa.

Relawan Guru Sobat Bumi merupakan bagian dari program utama Inspirasi Indonesia Timur. PT. Pertamina melalui Pertamina Foundation mengirimkan mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate untuk menjadi tenaga pendidik di timur Indonesia.

Dengan dikirimnya para relawan guru Sobat Bumi, pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki kecakapan hidup (life skills) sehingga mendorong tegaknya pembangunan manusia seutuhnya serta masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila.

Daerah penempatan guru tersebut merupakan daerah terluar, terjauh dan terpencil (Daerah 3T), serta belum mendapatkan akses pendidikan yang baik. Melalui program ini, para relawan guru Sobat Bumi mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi mencerdaskan anak bangsa di daerah perbatasan dan daerah 3T.

Di samping itu, penempatan relawan guru tersebut juga untuk menumbuhkan dan memupuk rasa kebangsaan, bangga memiliki jati diri sebagai warga negara Indonesia. Pertamina Foundation memandang, perlunya tenaga pendidik yang berkualitas untuk membantu pelaksanaan kegitan belajar mengajar tingkat dasar, serta untuk mewujudkan Indonesia timur sebagai Inspirasi Indonesia dan dunia. []

 

Anak Papua, Pagi Bermain Siang Lapar

IMG_3615Papua, — Anak-anak Papua punya karakteristik menarik. Mengajar mereka, haruslah dengan metode pembelajaran sambil bermain. “Kalau pagi kita ajak bermain, dan kalau siang mereka minta pulang. Alasannya, ‘pak guru saya lapar, kita pulang ya’,” ujar Azis Saifuddin, relawan guru sobat bumi yang mengajar di SD Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik Ubruk, Distrik Web, Keerom, Papua, Senin (2/2).

Azis adalah mahasiswa semester akhir dari Universitas Negeri Semarang. Sejak Agustus lalu, Azis mengabdi di kampung Ubruk di Distrik Web. Azis terbiasa mengajar dengan cara menderek anak-anak dengan cerita-cerita di pagi hari. Pengajaran yang utama di Papua adalah 3M. Membaca, menulis dan Menghitung. Ia pun rutin menanyai kegiatan mereka, bahkan menanyai, sudahkan mereka mandi dan gosok gigi.

Azis memandang, butuh keahlian kusus dalam mengajar anak Papua. Apalagi, karakter orang timur yang cenderung keras. “Kadang kita tetap harus menggunakan kekerasan untuk mengatur mereka, agar pembelajaran lancar,” katanya.

Sebagian besar bocah-bocah di kampung Ubruk tak terlalu antusias bersekolah. Mereka kerap bolos, hanya jika hujan turun. Saat para guru menjemput mereka ke rumah, anak-anak itu kedapatan bermain. Orangtua mereka memang terlihat tegas, tapi hanya ketika di depan para guru. Sedang di belakang pengajar, mereka kembali abai. Semangat Azis terbentuk karena beberapa anak Papua punya juga begitu semangat. “Masih ada yang rutin meminta diberikan pekerjaan rumah,” katanya.

Azis menyebutkan, sebelumnya ia hanya melihat fenomena tentang ironisnya pendidikan Papua di televisi dan pemberitaan media. Namun sekarang ia menghadapi kondisi itu sebagai sebuah kenyataan. Azis masih ingat, pada suatu waktu ia mengganti mengajar di kelas 1. Guru yang ia gantikan, memberi tugas untuk menulis tangan. Namun apa nyana, yang Azis saksikan, siswa-siswa itu hanya menulis dan menggambar benar-benar di tangan. Bukan di buku tulis.

“Saat itu seakan lucu, kasihan dan saya seperti tidak percaya. Ternyata benar seperti apa yang diberitakan televisi. Mereka masih sangat polos,” kata Azis.

Azis bersama 14 mahasiswa Unnes dan 5 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta ditugaskan untuk mengaplikasikan ilmunya di pedalaman Papua, melalui program Pertamina Foundation, Inspirasi Indonesia Timur. Melalui mereka, Pertamina Foundation mengharapkan adanya pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan di timur Indonesia. Program ini, diharapkan menjadi inspirasi bagi Indonesia dan Dunia. []

Relawan Guru Sobat Bumi Jadi Pengibar Bendera Pertama di Yabanda

IMG_3338Papua, — Sekolah itu dibuat berjejer. Lebih mirip seperti barak yang dihuni aparat atau pengungsi-pengungsi korban bencana, yang di beranda depan kelas dibuatkan pembatas sebagai pegangan. Pada beranda itu, anjing-anjing melintas bebas. Di depannya, lahan kosong yang ditumbuhi rumput setumit. Di tengah lapangan kosong itu, babi-babi terlihat mengeruk tanah, mencari cacing sebagai makanan. Di sisi kiri sekolah, ada lapangan volly, yang kerap dipakai siswa dan penduduk setempat untuk berolahraga.

Ini adalah potret Sekolah Dasar Yabanda, Distrik Sanggi, Kecamatan Keerom, Provinsi Papua. Jarak tempuh dari Jayapura, sekitar 8 jam perjalanan darat. Jalanan bolong di sana-sini, berada di tengah belantara dan jurang curam. Di sekolah itulah, Evanda Hirda Pratama mengabdi melalui program Relawan Guru Sobat Bumi Pertamina Foundation.

Evan, barangkali adalah sosok yang amat dihormati di sana. Ia adalah pengibar merah-putih pertama di sekolah yang tak terlalu jauh dari Papua New Guinea, itu.

Sebelum sampai di Keerom, Agustus lalu, Evan sudah membayangkan potret buram pendidikan di pelosok Papua. Nah, apa yang ia bayangkan adalah suatu hal yang amat lumrah, sekaligus sangat menyedihkan.

Hal pertama yang ia tanyakan, apa itu Pancasila? bagaimana lafalnya dan coba nyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka tidak tahu. “Itu menampar muka saya. Ini dasar negara saya, dan ini harus saya tanamkan terlebih dahulu ke mereka,” kata Evan, saat dijumpai di Keerom, Minggu sore.

Bukan hanya itu, SD Inpres Yabanda ini, juga tak pernah mengibarkan bendera merah-putih, dan tak pernah mengawali Senin pagi dengan upacara bendera. Sebuah pekerjaan rumah awal yang segera Evan siapkan. Ia menjadi penggagas upacara yang menabik sang saka sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Sekolah ini hanya mempunyai 5 orang guru. Sampai-sampai kepala sekolah harus mengajar. Menurut Evan, jika saja pemerintah lebih peduli, hal ini tidak terjadi di Keerom. Tapi, Evan melihat, pemerintah masih abai. Tak heran jika kemudian menemukan anak kelas 5-6 tak bisa baca-tulis.

“Perlahan mereka tahu. Metode mengajarkan mereka harus dibedakan,” kata Evan. Evan saat ini mengajar dengan metode aplikatif. Di mana, mengajarkan dengan sesuatu yang lebih akrab bagi anak, yaitu tak hanya dengan verbal, tapi dengan contoh.

Murid-murid, mungkin tak mengetahui hasil 2+2 jika ditanyai dengan verbal. Tanyakan ke mereka, 2 gula-gula (permen) + 2 gula-gula, hasilnya berapa? Semua kompak menjawab 4. Metode seperti itulah yang dipakai oleh Vanda untuk mengajari anak-anak Yabanda di Keerom. Saat ini pun, perlahan para murid mulai menguasai baca-tulis dan berhitung.

Keunikan lainnya, di sekolah ini anak-anak dari Papua New Guinea juga belajar. Mereka adalah siswa dari kampung Mambruk, dari Suku Vam Miala. Suku ini rata-rata bersaudara dengan penduduk Keerom. Nah, sebuah kesulitan mengajarkan mereka adalah bahasa. Kadang, Evan memakai anak setempat untuk menjelaskan maksudnya kepada anak dari Papua New Guinea ini.

Menurut beberapa masyarakat setempat, warga Mambruk ini adalah pelarian dari PNG. Negara ini tak mengakui kewarganegaraan mereka. Jadilah mereka sebagai warga tak bernegara yang belajar di Indonesia.

Pendeta Yabanda, Yacob Tahlele, mengatakan, kehadiran Evan merupakan berkah. “Kita bersukur dia sangat setia. Ketika guru lain tak hadir, dia pasti hadir. Ia sangat rindu anak-anak ini menjadi pintar selaku anak bangsa yang berguna bagi bangsa dan negara,” kata Yacob. Memang benar, telah sepekan lebih Evan mengajar seorang diri. Para guru PNS dan kontrak lagi libur. Liburan yang amat panjang.

Evanda merupakan relawan guru yang dikirim Pertamina Foundation melalui program Inspirasi Indonesia Timur. PT. Pertamina melalui Pertamina Foundation mengirimkan mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate untuk menjadi tenaga pendidik di timur Indonesia. Pertamina Foundation memandang, perlunya tenaga pendidik yang berkualitas untuk membantu pelaksanaan kegitan belajar mengajar tingkat dasar, serta untuk mewujudkan Indonesia timur sebagai Inspirasi Indonesia dan dunia. []

Relawan untuk Negeri

IMG_4245Papua, — Mereka mengabdi untuk negeri. Serasa di rumah sendiri.

Evanda Hirda Pratama, adalah salah satu dari 20 relawan guru sobat bumi yang mengabdi di Papua. Ia dikirim untuk mengajar di Papua, melalui program Relawan Guru Sobat Bumi oleh Direktorat Green Education Pertamina Foundation, Evan mengajar di Sekolah Dasar Inpres Yabanda, Distrik Senggi Kabupaten Keerom.

Sejak masih di kampus, Evanda membayangkan bagaimana  semrawutnya pendidikan di Papua, dan berbagai masalahnya. “Tapi saya cuma berpikir bagaimana membuat anak-anak Papua pintar,” kata Evanda, saat dijumpai di Yabanda, Minggu (1/2). Hal itu merupakan langkah awal semangatnya mengabdi di timur Indonesia ini.

Apa yang mahasiswa Universitas Negeri Semarang ini pikirkan sejak di kampus memang terjadi di Papua. Setiba di sini Agustus tahun lalu, Evanda mendapati banyak anak-anak yang buta huruf. “Miris saja, kelas 5 dan kelas 6 masih belum bisa baca tulis.”

Evanda menyebutkan, kehadiran guru sepertinya di SD di Kabupaten Keerom, sangat membantu masyarakat. Apalagi, sekolah-sekolah di Keerom menjadi sekolah yang dituju oleh anak, bahkan dari negara tetangga,Papua New Guinea. Evan yakin, kekurangan guru tak hanya di Papua, tapi hampir merata di semua pelosok di timur Indonesia. “Lokasi penerjunan harus lebih lebar lagi,” ujarnya memberi masukan kepada Pertamina Fouundation.

Evanda bahkan berencana untuk mengabdi lebih lama. Di Keerom, ia merasa seperti berada di kampung halaman ayahnya, Yogyakarta. “InsyaAllah kalau rezeki di sini, saya pasti kembali ke Papua,” kata Evanda.

Evanda merupakan relawan guru yang dikirim Pertamina Foundation melalui program Inspirasi Indonesia Timur. PT. Pertamina melalui Pertamina Foundation mengirimkan mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate untuk menjadi tenaga pendidik di timur Indonesia. Pertamina Foundation memandang, perlunya tenaga pendidik yang berkualitas untuk membantu pelaksanaan kegitan belajar mengajar tingkat dasar, serta untuk mewujudkan Indonesia timur sebagai Inspirasi Indonesia dan dunia. []

Harapan Pemkab Keerom Pada Pertamina Foundation

IMG_3330Papua, — Pemerintah Kabupaten Keerom, Jayapura, Papua mengharapkan, Pertamina Foundation melanjutkan seluruh program-program pendidikan untuk wilayah timur, khususnya Provinsi Papua. Pasalnya, tingkat pendidikan provinsi paling ujung timur Indonesia ini masih memprihatinkan. Apalagi di wilayah perbatasan antara Indonesia dan Papua New Guinea.

Kasubbag Program Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Kerom, La Irianto, mengatakan, Pertamina Foundation bisa mengirimkan guru-guru spesialisasi seperti guru eksakta, olahraga dan kesenian. Hal itu untuk pembinaan bakat siswa didik agar bisa mengikuti olimpiade sains, olahraga dan festival seni, baik dalam lingkup daerah maupun nasional. “Khusus untuk sekolah dasar, anak-anak kita yang notabanenya asli Keerom tidak pernah terlibat dalam kegiatan itu,” katanya, Sabtu (31/1) kemarin.

Selama ini, kata La, Kabupaten Keerom memang tidak pernah absen mengirim wakilnya di setiap ajang lomba tersebut. “Tapi kalau kita lihat dari rambut mereka, semuanya lurus,” katanya. Sedang anak asli Keerom, dan Papua pada umumnya, berambut keriting. Yang berambut lurus, kebanyakannya adalah anak-anak pekerja transmigrasi dari tanah Jawa ataupun mereka para suku Bugis yang tinggal dan bekerja di Papua.

Dengan kehadiran relawan guru Pertamina Foundation, terlebih jika ditambah dengan guru dengan spesialisasi khusus, bisa mengorbit anak-anak lokal untuk berprestasi. “Jadi pada saat awal penempatan kita kemas dengan target. Misal satu satu semester mereka bisa menguasai keilmuan itu,” kata La Irianto.

La Irianto  mencontoh, seorang anak asli Papua yang dikirim untuk belajar di Surya Institut di Jakarta, dan sukses menjadi menjadi pemain piano di sana. Saat ditarik kembali ke Papua, pihak kampus merasa kehilangan.

“Ini buktinya ada potensi dari anak-anak asli daerah, tinggal kita kembangkan. Padahal kalau kita bayangkan, seorang anak yang berasal jauh dari hutan, mengenal piano pun tidak, tapi mereka sebetulnya punya potensi kalau diarahkan dengan benar. Dari segi bakat kan sangat luar biasa?,” kata La.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Keerom, Stenly N. Moningka, mengatakan, jika pendidikan di Keerom bagus, tidak mustahil Keerom bakal menjadi model atau acuan pendidikan bagi anak-anak Papua New Guinea. Apalagi, jika keilmuan khusus yang disampaikan oleh La Irianto dikuasai oleh anak-anak Keerom, yang tinggal di perbatasan Negara ini.

Selain itu, Stenly juga mengharapkan, Pertamina Foundation bisa mengirimkan tenaga pendidik untuk melatih guru-guru lokal yang ada di Kerom. “Latih mereka mengenai pembelajaran yang benar. Jadi tidak hanya mengirim relawan guru, supaya ada keseimbangan nantinya,” kata Stenly.

“Keerom ini perbatasan. Otomatis kalau pendidikan di Keerom baik, Papua New Guinea bakal mengatakan pendidikan Indonesia baik,” kata Stenly. Pertamina Foundation, dengan programnya Relawan Guru Sobat Bumi, menempatkan 20 relawan guru di tiga kabupaten, yaitu Keerom, Meurauke dan Raja Ampat. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang mengabdi, mengajarkan ilmunya bagi anak-anak di pelosok ujung Timur Indonesia.

Pertamina Mengharapkan, bagian dari program Inspirasi Indonesia Timur bisa menjadi inspirasi Indonesia dan Dunia[]

Mahasiswa Unnes Antusias Jadi Relawan Guru Sobat Bumi

IMG_4527Papua, — Mahasiswa Universitas Negeri Semarang antusias mengikuti seleksi menjadi relawan guru yang mengabdi di Papua. Hal tersebut dikatakan oleh Cahyo Yuwono, Dosen Pembina Mahasiswa Unnes dalam kunjungan monitoring dan evaluasi Relawan Guru Sobat Bumi, di Papua, Sabtu (31/1).

“Dulu kita tampilkan di website KKN, hanya dalam empat hari pendaftarnya telah puluhan. Sebagian adalah perempuan,” kata Cahyo. Ia mengaku siap, jika tahun ini kampus Unnes diminta untuk mengirimkan lagi mahasiswa-mahasiswanya untuk mengabdi untuk pendidikan di timur Indonesia ini, bahkan jika yang diminta adalah guru perempuan.

Relawan Guru Sobat Bumi ini merupakan bagian dari program Direktorat Green Education Pertamina Foundation, sebagai bentuk tanggung jawab yayasan ini untuk pendidikan di Indonesia. Seperti diketahui, 20 orang relawan guru ditempatkan di tiga kabupaten, yaitu Kerom, Meurauke dan Raja Ampat. Sebagian besar di antaranya, yaitu 15 orang adalah mahasiswa Unnes.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Keerom, Stenly N Moningka, meminta agar Pertamina Foundation melalui kampus Unnes, untuk mengirimkan guru perempuan juga sebagai bentuk emansipasi wanita. Pihak dinas juga menyebutkan, jika guru speasialisasi khusus olahraga, kesenian dan eksakta, dirasa penting untuk ditempatkan di kabupatennya.

Ia juga meminta, ada dosen pembimbing yang mendampingi para relawan di lapangan. “Saya berharap, ke depan kalau bisa ada dosen yang mendampingi. Anak-anak semua kan sedang proses belajar dan penelitian. Sangat bagus jika ada pemdampingan,” ujar Stenly.

Cahyo mengatakan, pihaknya dekan dan rektorat Unnes sepakat, jika mahasiswa relawan ini adalah mahasiswa istimewa. “Prakteknya pasti lebih daripada mereka yang di kampus. Syukur-syukur kalau skripsi juga bisa diselesaikan di sana sekalian,” kata Stenly

Di kampus Unnes, Cahyo mengusulkan, mahasiswa bisa menerapkan model pembelajaran khusus. Misal dalam kaitan olahraga sepak bola, yang tujuannya adalah mencetak gol. Lapangan latihan sedikit diperkecil dengan penambahan dua gawang ukuran kecil. Hal itu merupakan bentuk penelitian langsung di lapangan.

“Jadi harapannya. di sini mereka PPL (praktek mengajar) dapat, KKN dapat (pengabdian masyarakat) dapat dan skripsi juga,” kata Cahyo. Ia mengkiaskan, jika dalam perjalanan dilakukan, berlayar sambil membetulkan perahu.

“Kami dari perguruan tinggi siap. Dengan saya kemari, kita bisa melihat yang harus dibenahi bagaimana,” ujarnya. []

Indonesia Bisa Jadi Model Pendidikan bagi Papua Nugini

Amin-Lain-3Papua, — Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Keerom, Jayapura, Papua, Stenly N. Moningka, mengharapkan sistem pendidikan di daerahnya bisa menjadi contoh bagi Negara tetangga Indonesia, Papua New Guinea. “Keerom ini perbatasan. Otomatis kalau pendidikan di Keerom baik, Papua New Guinea bakal mengatakan pendidikan Indonesia baik,” katanya, saat dijumpai Sabtu (31/1).

Hal itu, menjadikan pendidikan Keerom sebagai model pembelajaran bagi Negara tetangga. Seperti diketahui, kebanyakan penduduk tinggal bersisian, meski berbeda Negara mereka  saudara yang berasal dari suku yang sama. “Secara politis kami punya masyarakat pelintas batas,” kata Stenly.

Stenly menyebutkan, dengan baiknya sistem pendidikan yang dibangun, bakal menarik minat anak-anak Papua New Guinea untuk bersekolah ke Indonesia. “Pertamina Foundation sangat peduli terhadap pendidikan di Timur khususnya Papua. Jadi ini menjadi awal yang bagus,” katanya.

Pertamina Foundation mengirimkan 20 relawan guru melalui programnya Relawan Guru Sobat Bumi, ke beberapa daerah di Papua, yakni  Meurauke, Keerom, dan Raja Ampat. Guru-guru itu sebagian besarnya berasal dari kampus Universitas Negeri Semarang, yaitu sebanyak 15 orang. Sedangkan 5 lainnya berasal dari Universitas Negeri Jakarta. Penempatan para relawan tersebut sebagai bentuk komitmen yayasan ini untuk perbaikan pendidikan di Indonesia.

Stenly menyebutkan, saat ini, kabupaten yang ia pimpin masih kekurangan sangat banyak guru. Untuk tingkat sekolah dasar saja, kabupaten di tapal batas ini kekurangan 183 guru. “Dengan adanya Pertamina Foundation, wawasan anak-anak bisa terus terbuka. Kita minta program ini terus berlanjut,” harapnya. []

PENGUMUMAN : Pertamina Foundation Sudah Tidak Menggunakan Domain http://www.beasiswa-sobatbumi.com per tanggal 1 Juni 2014

Pengumuman :

Pertamina Foundation menyatakan bahwa website dengan domain http://www.beasiswa-sobatbumi.com bukan lagi milik dari Pertamina Foundation per tanggal 1 Juni 2014. Segala macam penyelewengan penggunaan dan isi (content) yang ada pada domain tersebut setelah tanggal 1 Juni 2014 bukan lagi tanggung jawab dari Pertamina Foundation.

–Management Pertamina Foundation

Pengumuman Hasil Seleksi Program Sekolah Sobat Bumi 2015-2017

Sekolah Sobat Bumi

Setelah melalui proses seleksi tahap I (Seleksi Pendaftaran Online) sampai dengan tahap IV (seleksi substantif hasil presentasi Bupati/Walikota), dengan mempertimbangkan komponen penilaian:

1. Kelengkapan Dokumen

2. Komitmen Bupati/Walikota berdasarkan observasi tim independen Sekolah Sobat Bumi yang mencakup kehadiran, kesiapan untuk sharing anggaran untuk pencapaian program.

3. Presentasi Bupati/Walikota, dengan penilaian oleh Dewan Juri Independen, mencakup : (a) Usulan Program, (b) Rencana pelibatan multipihak, (c) Kesiapan sekolah yang diusulkan maka,

Dengan ini ditetapkan Kota/Kabupaten terpilih sebagai Mitra Kerjasama Program Sekolah Sobat Bumi Pertamina Foundation Periode 2015-2017 adalah sebagai berikut.

1. Kota Metro, Lampung

2. Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

3. Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta

4. Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

5. Kabupaten Siak, Riau

6. Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan

7. Kota Jayapura, Papua

8. Kota Bandung, Jawa Barat

9. Kota Balikpapan, Kalimantan Timur

10. Provinsi DKI Jakarta

Selanjutnya, penandatanganan MoU bagi Walikota/Bupati terpilih serta penetapan program berbasis potensi masing-masing kota/kabupaten akan diinformasikan melalui email penanggung jawab yang ditunjuk oleh Bupati/Walikota.

Demikian disampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya disampaikan terima kasih.

Bupati Bojonegoro: Pertamina Foundation Buat Sejarah Baru

mou2 maket2 mou

 

Bojonegoro, Jawa Timur – Pertamina Foundation terus menyebarkan inspirasi ke wilayah-wilayah di Indonesia. Kali ini, bersama Pemkab Bojonegoro, Pertamina Foundation , siap terjun ke masyarakat untuk empat program sekaligus. Sejarah baru siap dibuat di kota ini.

Program yang akan dilaksanakam di kabupaten Bojonegoro adalah Perancangan Kebun Raya, Gerakan Menabung Pohon, Pemberian Beasiswa Sobat Bumi, dan Merintis Sekolah Sepak Bola. Nantinya keempat program tersebut diharapkan bisa menjadi percontohan bagi daerah lainnya.

“Kita akan memprovokasi kebaikan dari Bojonegoro. Semoga provokasi positif dari Pertamina Foundation mampu menggerakan masyarakat, minimal di wilayah Bojonegoro sendiri,” ujar Wakil Direktur Eksekutif Wahyudin Akbar saat penandatanganan nota kesepahaman dengan Bupati Bojonegoro Suyoto di Kediaman Dinas Bupati, Minggu (21/12).

Wahyudin menambahkan, Gerakan Menabung 100 Juta Pohon adalah salah satu program unggulan dan inovasi dari Pertamina Foundation di bawah direktorat Green Life. Berbeda dengan program menanam pohon yang sering dilakukan, Gerakan Menabung Pohon memiliki banyak manfaat lain. Tidak hanya untuk menghijaukan lingkungan, gerakan ini juga dapat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat dengan sistem bagi hasil pohon yang ditanam bersama para mitra yang disebut sebagai relawan.

Hingga akhir tahun 2014, bibit yang telah ditanam melalui gerakan ini sebanyak 90 juta pohon. Penanaman pohon ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Gerakan menabung pohon dilaksanakan di 2 kecamatan di kabupaten bojonegoro sebanyak 954.388 pohon sengon dengan luas lahan 88,03 ha.

Sedangkan untuk pembuatan Kebun Raya, pembuatan Design Landscape Master Plan Taman Kabupaten Bojonegoro dilakukan di wisata Dander Bojonegoro seluas 20 ha.

Untuk penyaluran Basiswa Sobat Bumi para siswa terbaik dari Bojonegoro akan diberikan kesempatan untuk bergabung dengan penerima beasiswa lain di seluruh Indonesia. Hingga saat ini, program ini telah bekerja sama dengan 24 universitas di seluruh Indonesia. Jumlah penerima beasiswa hingga tahun ke-4 ini telah mencapai 1132 mahasiswa berprestasi.

Dalam sambutannya Bupati Bojonegoro Suyoto menyambut baik program yamg ditawarkan Pertamina Foundation. Setidaknya, Pertamina Foundation ikut membuat sejarah bagi Bojonegoro. “Mengapa Pertamina Foundation ikut membuat sejarah bagi Bojonegoro, karena memang apa yang akan dilakukan benar-benar bisa merubah wajah kota ini,” tandas Suyoto.

Ia mengatakan, saat ini Bojonegoro sedang naik daun karena kandungan minyak yang ada di dalammnya menjadi incaran banyak pihak. Sehingga, eksplorasi yang terjadi, di sisi lain dapat menimbulkan bencana. “Diamnya saja sudah bencana. Jadi, kalau tidak ada tindakan apapun, bersiap saja.Banyak yg memperkirakanmasa keemasan hanya 5-7 tahun saja,” terang Suyoto.

Karena itu, Gerakan Menabung Pohon dari Pertamina Foundation dapat mengurangi dampak itu. Apalagi saat ini sudah tertanam 31 juta pohon untuk mengatasi masalah lingkungan. Dengan tambahan 10 juta pohon dari Pertamina Foundation, tentu membuat Bojonegoro menjadi lebih hijau lagi. Belum lagi, program beasiswa dan pertamina soccer school yang memberikan perhatian pada kualitas sumber daya manusia di Bojonegoro. “Padahal,itu juga sangat peting, dan sering luput dari Perhatian,”kata Suyoto

Indonesia. Jumlah penerima beasiswa hingga tahun ke-4 ini mencapai 1.132 mahasiswa berprestasi. Melalui kerja sama dengan pihak terkait di Bojonegoro, diharapkan program ini akan menjaring lebih banyak lagi mahasiswa.

Di bidang pendidikan, Pertamina Foundation juga memiliki program Sekolah Sobat Bumi. Program ini bekerja sama dengan 17 Sekolah Sobat Bumi Champion dan 170 Sekolah Sobat Bumi Binaan yang tersebar di seluruh Indonesian. Tujuan program ini adalah membantu lembaga pendidikan untuk tidak hanya memperhatikan faktor akademis, tetapi juga kelestarian alam. Diharapkan, program ini juga bisa dikembangkan di Bojonegoro melalui pihak sekolah terkait.

Terkait Pertamina Soccer School, sekolah sepak bola ini didirikan PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Foundation pada 15 September 2012. Sekolah ini merupakan cita-cita Pertamina untuk mendidik bibit-bibit muda pemain sepak bola agar menjadi pemain profesional yang dapat mengharumkan nama bangsa.

Pendirian sekolah sepak bola ini diawali dengan dukungan Pertamina terhadap Tim Milan Junior Indonesia yang mampu menjuarai Turnament Intesa San Paolo, Milan Junior Camp Day, di Milan, Italia, pada 2011 dan 2012. Sejak saat itu, Pertamina Foundation secara gencar mencari bakat-bakat terpendam dari pelosok Nusantara untuk dididik di Jakarta dengan fasilitas yang memadai. Hingga saat ini, Pertamina Soccer School telah memasuki tahun ketiga dengan jumlah siswa sebanyak 69 orang.

Program sekolah sepak bola rintisan Bojonegoro ini merupakan kegiatan tanggung jawab sosial dan lingkungan Pertamina di Cepu, Bojonegoro, dan sekitarnya. Sekolah sepak bola ini diharapkan dapat menjadi perpanjangan Pertamina Soccer School dalam mencapai tujuan menjadi “center of excellence” dalam pembinaan sepak bola usia muda. Melalui program ini, diharapkan akan lahir pemain-pemain muda yang berbakat, berakhlak baik, profesional, dan dapat dijadikan lumbung pemain untuk persepakbolaan lokal daerah ataupun nasional.

 

 

Buku Sekolahku Sobat Bumiku

Kover Buku Sekolahku Sobat BumikuBuku Sekolahku Sobat Bumiku bercerita tentang sekolah ideal yang tidak hanya mementingkan faktor akademis, tetapi juga gerakan ramah lingkungan. Buku ini bisa dibaca secara gratis di: https://copy.com/hPSrQiUyLMeFrRTe

Buku Impian Bukan Mimpi

Kover Buku Impian Bukan MimpiBuku Impian Bukan Mimpi dilatarbelakangi kisah nyata tentang perjuangan mendapatkan beasiswa demi mendapatkan pendidikan tinggi untuk menggapai cita-cita. Baca buku ini secara gratis di: https://copy.com/DUqOFjoV1abl2FMQ

Buku Dapur Sobat Bumi

Kover Buku Dapur Sobat BumiBuku Dapur Sobat Bumi bercerita tentang kisah nyata tentang lika-liku di balik pelaksanaan program Pertamina Foundation. Dapatkan inspirasi menarik melalui buku ini. Buku ini dapat dibaca secara gratis di: https://copy.com/6x6WuEuWfaDGheAq

Majalah GreenLife Edisi “Bahari Nusantara, Menyimpan Harta Pemakmuran Bangsa

Majalah GreenLife IIIMajalah GreenLife Edisi “Bahari Nusantara, Menyimpan Harta Pemakmuran Bangsa” yang terbit pada Desember 2014 bisa dibaca secara gratis di link berikut ini: https://copy.com/PF7qpkUv06sErEH0

Susun SOP Mandiri, SMAN 76 Siap Bebas Korupsi

3Mimpi Indonesia bebas korupsi, bisa dimulai dari lingkungan sekolah. Program good school governance merupakan langkah kecil upaya Indonesia bebas korupsi. Program good school governance dimotori oleh Pertamina Foundation. Menurut Kepala Sekolah SMAN 76, Retno Listyarti, SMAN 76 mengajukan diri kepada Pertamina Foundation untuk didampingi. Padahal, katanya, sekolahnya tidak memenuhi syarat sekolah yang didampingi.      “Kami bukanlah sekolah sobat bumi, kami juga bukanlah pemenang Adiwiyata. Tetapi saya memaksa kepada Pak Nanang (Ahmad Rizali Gaffar, Direktur Green Education Pertamina Foundation), saya butuh bimbingan untuk mengelola sekolah yang baik, akuntabel, dan transparan,” kata Retno saat berbicara di  “Deklarasi dan penandatanganan nota kesepahaman mewujudkan tata kelola sekolah yang baik, membangun Jakarta antikorupsi melalui Sekolah Sobat Bumi” di halaman SMAN 76, Cakung, Jakarta Timur, Rabu (12/11).

Lalu, kata Retno yang merupakan kepala sekolah hasil seleksi terbuka lelang jabatan ini, tim Pertamina Foundation mengirimkan tim ahli akuntan dari Synergy Icon Solution untuk membimbing sekolah ini. ”Kami memulai dari yang nama SOP (Standard Operating Procedure), bagaimana caranya mengelola dari prosedur yang kami bikin sendiri. Kami berjalan, bahkan sebelum ada komitmen bersama,”katanya.

Retno mengubah banyak hal di sekolahnya, terutama dari manajemennya. Salah satunya, sekolah ini memiliki tiga bendahara. “Karena menurut Sinergy Icon Solution antara yang mengambil uang, memegang uang, membagi uang, mencatat, dan melaporkan haruslah orang yang berbeda.” Kemudian, dilakukan jugaperubahan alur keuangan, di mana semua orang, termasuk para siswa, bisa mengetahui laporan keuangan di SMAN 76. “Laporan dilaporkan setiap bulan dan bisa diakses di www.sman76.sch.id. Kemudian uang sosial yang dikumpulkan secara sumbangan itu bisa dilihat oleh publik. Begitupun penerima KJP (Kartu Jakarta Pintar) maupun BSM (Bantuan Siswa Miskin) kami membuka keterbukaan dengan uji publik.”

Monitoring kepada siswa kurang mampu juga dilakukan dengan turun langsung ke rumah-rumah siswa. Retno mengatakan, sekolahnya melatih para siswa untuk jujur, tidak hanya memberi pengetahuan tentang apa itu jujur saja, tapi melakukannya melalui sistem di sekolah. “Sehingga SMAN 76 pada Desember 2014 akan menjadi sekolah pertama di Indonesia, bukan di Jakarta tapi di Indonesia, yang bersedia diaudit oleh akuntan publik manapun,” kata Retno disambut para hadirin yang berasal dari berbagai sekolah di DKI Jakarta.

Menurut Direktur Eksekutif Pertamina Foundation, Nina Nurlina Pramono, Pertamina dan Synergy Icon Solution menawarkan dan melatih sekolah-sekolah agar mau berbasis good school governance. “Good school governance ini yang paling sukar. Sukarnya itu bertingkat sekali. Kenapa? Karena itu harus ada keikhlasan, kekuatan hati, dan kekonsistenan. Jadi kalau cuma belajar, kemudian membikin pembukuan satu dua bulan, kemudian tidak dilanjutkan, tidak bisa,” kata Nina.

Nina mengatakan, SMAN 76 harus menularkan ke 10 sekolah untuk ikut menjadi sekolah yang berbasis good school governance. “Nah, di dalam gerakan ini, SMA ibu (Retno Listyarti) satu. Ibu harus mengajak 10. Karena kalau tidak berbagi maka menurut kami tidak keren. Jadi kita harus membagi ilmu kita, kemudian harus bergerak bersama. Karena kalau sendiri saja, kita tergilas.” Dalam kesempatan ini, Nina juga menganjurkan agar provinsi DKI Jakarta, melalui Dinas Pendidikan mencanangkan gerakan serupa. “Nanti mungkin kita harus kerja sama dengan universitas yang ada akuntansinya. Biar anak-anak itu, ilmunya ke sekolah. Pertama mengajari, menemani, ketiga mengaudit. Karena itu harus terus menerus. Dan mungkin itu setelah tiga tahun itu baru menjadi biasa. Dan kalau sudah menjadi biasa baru kita mengatakan ini sudah menjadi sistem,” kata Nina.

Nota kesepahaman ditandatangani oleh Direktur Eksekutif Pertamina Foundation, Nina Nurlina Pramono, dan Kepala Sekolah SMAN 76 Retno Listyarti. Penandatanganan ini disaksikan pula oleh Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Lasro Marbun dan tenaga ahli Synergy Icon Solution, Bowo Prayitno.

Seleksi Program Pertamina Sekolah Sobat Bumi 2015-2017

Panduan Seleksi Sekolah Sobat Bumi

Pertamina Foundation kembali menyelenggarakan Program Pertamina Sekolah Sobat Bumi 2015-2017. Tahun ini, Pertamina Foundation memberikan kesempatan kepada wali kota atau bupati se-Indonesia untuk ambil bagian dalam program ini.

Pengumuman, pemberian penghagaan, serta penandaanganan MoU terhadap kota atau kabupaten yang terpilih dalam program ini akan dilakukan dalam rangkaian acara Festival Sobat Bumi 2014. Dalam acara ini, para pemenang juga mendapat kesempatan ikut workshop-sharing session.

 

Ketentuan untuk pengikuti program ini dapat dilihat pada link sebagai berikut.

1. Surat Penawaran Kerja Sama

https://copy.com/j3hiy6JXveitnrY7

2. Formulir Pernyataan Kesediaan

https://copy.com/WGW1vINpJhrgvvDJ

3. Panduan Seleksi Sekolah Sobat Bumi 2015-2017

https://copy.com/oQ4eOTtrlsQabVqw

Peluncuran Liga Pertamina U18

IMG_6443

Selain memberikan wadah pertandingan sepak bola bagi anak-anak usia 16 tahun melalui Liga Pertamina U16, tahun ini Pertamina Foundation juga meluncurkan Liga Pertamina U18. Liga untuk para pemain usia 17 dan 18 tahun ini dimaksudkan sebagai kesinambungan dari Liga U16 agar para pemain yang lebih senior bisa terus menambah pengalaman mereka dalam bertanding.

Pertamina melalui Pertamina Foundation memang sangat serius dengan penyelenggaraan pendidikan sepak bola usia dini. Hal ini semata-mata demi memunculkan tunas-tunas muda yang dapat mengharumkan bangsa Indonesia di kancah dunia melalui sepak bola.

Setiap pemain yang diperbolehkan ikut adalah mereka yang terdaftar sebagai siswa di sekolah sepak bola di wilayah Jabodetabek dan lahir pada tahun 1996-1997. Selain memenuhi syarat dari segi usia, mereka juga harus mendapat surat rekomendasi mengikuti Pertamina League U18 2014/2015 dari pengurus cabang (pengcab) PSSI setempat. Bagi pemain yang sedang mengikuti Liga Pertamina U16, mereka tidak diperkenankan mengikuti Liga Pertamina U18.

Selain itu, para peserta harus memberikan profil sekolah sepak bola atau klub mereka, seperti tahun berdiri, struktur kepengurusan, jumlah siswa (per usia), jadwal latihan, dan tempat latihan rutin. Profil ini harus dilengkapi dengan album pemain, fotokopi akta, kartu keluarga, rapor dan ijazah SD, serta identitas lainnya. Para pelatih klub yang ikut dalam liga ini pun harus menyerahkan fotokopi lisensi kepelatihan minimal D dan aktif memberikan latihan. Tim pelatih (pelatih kepala, pelatih penjaga gawang, pelatih fisik) juga harus mampu menyusun program latihan dan memaparkannya.

Liga Pertamina U18 akan mulai diselenggarakan pada Sabtu, 18 Oktober 2014, di Stadion Ciracas, Jakarta Timur, pukul 07.00-18.00. Waktu yang digunakan dalam pertandingan ini adalah 2 x 45 menit dengan ukuran lapangan 110 x 70 meter. Adapun aturan yang diterapkan mengadopsi dari peraturan FIFA dengan sistem kompetisi penuh (tandang dan kandang). Jumlah peserta maksimal 25 pemain setiap tim.

Dalam Liga Pertamina U18 tahun ini, jumlah klub sepak bola yang ikut sebanyak 12 tim. Teknis pelaksanaanya, setiap pekan akan ada enam pertandingan. Satu musim pertandingan ini terdiri atas 22 pekan. Dengan demikian, akan ada 264 pertandingan dalam Liga Pertamina U18 musim ini.

Liga Pertamina U-16 Kembali Diselenggarakan

10Tahun ini, Liga Pertamina U16 kembali diluncurkan bertepatan dengan ulang tahun ke-2 Pertamina Soccer School. Selain untuk mengukur kembali kekuatan siswa-siswa Pertamina Soccer School, ajang ini juga untuk meningkatkan prestasi sepak bola usia dini, khususnya di usia 16 tahun. Ajang ini pun bisa digunakan sebagai bank data pemain sepak bola usia dini sekaligus sebagai silaturahmi antar-sekolah sepak bola, baik bagi pengurus, pelatih, pemain maupun orangtua/suporter.

Setiap pemain yang diperbolehkan ikut adalah mereka yang terdaftar sebagai siswa di sekolah sepak bola di wilayah Jabodetabek dan lahir pada tahun 1998-1999. Selain memenuhi syarat dari segi usia, mereka juga harus mendapat surat rekomendasi mengikuti Pertamina League U16 2014/2015 dari pengurus cabang (pengcab) PSSI setempat.

Selain itu, para peserta harus memberikan profil sekolah sepak bola atau klub mereka, seperti tahu berdiri, struktur kepengurusan, jumlah siswa (per usia), jadwal latihan, dan tempat latihan rutin. Profil ini harus dilengkapi dengan album pemain, fotokopi akta, kartu keluarga, rapor dan ijazah SD, serta identitas lainnya. Para pelatih klub yang ikut dalam liga ini pun harus menyerahkan fotokopi lisensi kepelatihan minimal D dan aktif memberikan latihan. Tim pelatih (pelatih kepala, pelatih penjaga gawang, pelatih fisik) juga harus mampu menyusun program latihan dan memaparkannya.

Liga Pertamina U16 akan mulai diselenggarakan setiap hari Minggu pada September 2014 sampai dengan April 2015. Waktu yang digunakan dalam pertandingan ini adalah 2 x 35 menit dengan menggunakan sistem tandang dan kandang. Ukuran lapangan yang digunakan 90 x 60 meter. Adapun aturan yang digunakan mengadopsi dari peraturan FIFA. Jumlah peserta maksimal 25 pemain setiap tim.

Setiap pekan ada 8 pertandingan yang diselenggarakan. Jumlah total laga yang dipertandingkan dalam liga ini adalah 240 pertandingan dengan jumlah klub yang ikut sebanyak 16 sekolah sepak bola dari wilayah Jabodetabek. Jumlah ini meningkat dari 14 klub pada Liga Pertamina U16 tahun lalu.

Ke-16 klub sepak bola yang ikut adalah sebagai berikut.

1.

Asiop Apacinti

Jakarta

2.

Bintang Muda Senayan

Jakarta

3.

G-Razz CSC Indonesia

Jakarta

4.

Jakarta North City

Jakarta

5.

Persigawa

Jakarta

6.

Pertamina Soccer School

Jakarta

7.

Kabomania

Bogor

8.

Pelita Jaya

Depok

9.

Sukmajaya

Depok

10.

Benteng Muda Ifa

Tangerang

11.

Rajawali Muda

Tangerang

12.

South Tangerang City SS

Tangerang

13.

Villa 2000

Tangerang

14.

Bina Muda Sukatani

Bekasi

15.

Soccer Team

Bekasi

16.

Tunas Patriot

bekasi

Dari jumlah peserta Liga Pertamina U16 tahun ini, lima klub adalah tim play off, yakni Bintang Muda Senayan, Kabomania, Rajawali Muda, South Tangerang City SS, dan Tunas Patriot. Sebanyak 11 klub sisanya merupakan tim bertahan.

Pemerintah Akan Sinergikan Program Inspirasi Indonesia Timur Pertamina Foundation

6

8Jakarta—Untuk lebih memeratakan kualitas pendidikan di Tanah Air, pemerintah ingin bersinergi dengan Pertamina melalui Pertamina Foundation dalam program Inspirasi Indonesia Timur.

“Semoga program Inspirasi Indonesia Timur ini bisa disinergikan dengan program pemerintah yang sudah ada di sana,” kata Wakil Menteri Pendidikan Musliar Kasim saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran Program Inspirasi Indonesia Timur di gedung Pertamina Foundation, Jakarta (18/8).

Sosialisasi program Inspirasi Indonesia ini juga dirangkai dengan peluncuran buku “Ayo Sekolah Papua!” yang berisi pengalaman menarik 12 relawan Guru Sobat Bumi Pertamina Foundation angkatan pertama selama mengajar di Kabupaten Keerom, Papua.

Dalam acara tersebut, Musliar meminta para penerima manfaat program ini dan relawan yang terlibat dalam program ini untuk dapat melakukan koordinasi dengan dinas-dinas pendidikan terkait di wilayah tersebut.

Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono dalam kesempatan tersebut mengaku senang atas sambutan positif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Kami berharap program ini dapat membantu terwujudnya pemerataan pendidikan dan kesejahteraan serta memupuk jiwa persatuan dan kesatuan bangsa,” katanya.

Nina mengatakan, sejak tahun 2013, program-program yang dimiliki Pertamina Foundation juga difokuskan untuk menyasar masyarakat di daerah Terluar, Terjauh, dan Terpencil (Daerah 3T) melalui program Inspirasi Indonesia Timur.

Program ini dilaksanakan melalui program Relawan Guru Sobat Bumi dengan mengirim 12 guru ke Kabupaten Keerom, Papua, pemberian beasiswa kepada 59 mahasiswa di universitas di wilayah Indonesia Timur, serta pemberian beasiswa 50 murid SMP untuk bersekolah di Pulau Jawa dan Bali.

Selain itu, Pertamina Foundation juga melaksanakan program penyeleksian bibit-bibit terpendam sepak bola di daerah 3T melalui Pertamina Soccer School. “Ide untuk  memfokuskan diri wilayah Indonesia Timur ini tercetus dari keinginan Pertamina Foundation membantu masyarakat di wilayah 3T agar merasakan kualitas pendidikan yang lebih baik,” ujarnya.

Dalam program Inspirasi Indonesia periode 2014-2015, Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali memaparkan, akan mengirim 102 siswa lulusan SMP di Papua dan Papua Barat untuk mendapat pengalaman bersekolah di Pulau Jawa dan Bali melalui Beasiswa Sobat Bumi Pertamina Foundation.

“Untuk jenjang S-1, Pertamina Foundation akan memberikan beasiswa sebanyak 60 mahasiswa yang berkuliah di universitas di wilayah Indonesia Timur,” ujarnya.

Selain itu, Pertamina Foundation juga akan mengirim 20 Relawan Guru Sobat Bumi angkatan kedua ke pedalaman Papua dan Papua Barat bekerja sama dengan Universitas Negeri Semarang dan Universitas Negeri Jakarta.

Di bidang olahraga, lanjut Rizali, Pertamina Foundation juga melakukan pencairan bibit-bibit terpendam di daerah 3T melalui Pertamina Soccer School. Pencarian bakat-bakat sepak bola dari Indonesia Timur ini dirangkai melalui kegiatan Coaching Clinic Grassroots, Festival Grassroots, dan Tournament Grassroots Program yang telah dilaksanakan di Manokwari dan Sorong akan diperluas ke Jayapura, Merauke, Serui, Pegunungan Bintang, Wamena, Raja Ampat dan Ambon.

Buku Ayo Sekolah, Papua!

Kover Buku Ayo Sekolah, PapuaBuku Ayo Sekolah, Papua! bercerita tentang perjuangan relawan guru dalam membantu mendidik anak-anak Papua. Baca buku ini secara gratis di link berikut ini: https://copy.com/oM4izEIYLoSdX8lS

 

Program Kemitraan Pertamina Foundation dengan PTN

  • BC Kemitraan Update 3 RevSaat ini Pertamina Foundation membuka pendaftaran PKM ITS dan SPMK UB (7-18 Juli 2014)
  • Panduan pendaftraran dapat diunduh DI SINI.

 

Pelepasan 16 Delegasi Pertamina Sobat Bumi ke Taiwan

Delegasi ke Taiwan 02Delegasi ke Taiwan 01Jakarta—Pertamina Foundation (7/4) melepas 16 delegasi Pertamina Sobat Bumi untuk mewakili Indonesia dalam konferensi penggerak lingkungan Caretakers of the Environment International (CEI) ke-28 pada 6-12 Juli 2014 di Yilan, Taiwan. Ini merupakan konferensi jaringan guru dan pelajar di tingkat global dalam bidang pendidikan lingkungan yang memiliki perwakilan di sejumlah negara.

“Bawalah nama Indonesia melalui Pertamina. Ini merupakan delegasi gerakan Pertamina Sobat Bumi agar lebih dikenal oleh masyarakat internasional. Tunjukkan, ‘Saya datang, saya berbuat sesuatu yang baik, dan ada yang membekas dari sesuatu yang telah kita lakukan tersebut,’” ujar Nina Nurlina Pramono, Direktur Eksekutif Pertamina Foundation, memberi wejangan saat melepas ke-16 delegasi tersebut.

Dalam acara ini juga ditampilkan demonstrasi presentasi dari Hafizh Mi Razul Gozali, siswa SMPN 7 Bandung, yang merupakan salah satu dari 16 delegasi Pertamina Sobat Bumi. Dalam presentasi ini, Hafizh memaparkan program eco-transportation dalam bahasa Inggris yang memukau para hadirin. Lebih lanjut, ia menjelaskan salah satu cara mengurangi polusi yang mengganggu lingkungan adalah menggunakan moda transportasi sepeda untuk beraktivitas.

Selain itu, ada juga demo tarian Bali yang diwakili oleh sejumlah delegasi Pertamina Sobat Bumi. Nantinya, di sana, ke-16 delegasi akan ikut dalam tarian ini.

Ini merupakan delegasi pertama Pertamina Sobat Bumi di ajang berkancah internasional tersebut. Menurut rencana, acara seperti ini akan dilakukan setiap tahun dengan tujuan negara yang berbeda-beda. []

Olimpiade Sains Kuark 2014

Olimpiade Sains Kuark 2014Jakarta—Pertamina kembali hadir dalam sebuah ajang lomba yang diadakan di kampus Prasetiya Mulya Business School. Adalah Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2014 yang telah mengundang Pertamina untuk berpartisipasi pada acara puncak, Sabtu 21 Juli 2014. Ini merupakan Olimpiade tingkat sekolah dasar yang diikuti oleh 303 finalis se-Indonesia. Agenda hari itu adalah Festival Sains Kuark untuk sekitar 700 orang tua dan guru yang dibagi dalam beberapa sub acara, yakni seminar, workshop, mock laboratory, message wall, photo booth, wahana bermain, dan lomba eksperimen.

Dalam kesempatan ini, Pertamina selaku salah satu sponsor memberi mandat Pertamina Foundation untuk mengisi booth yang disediakan panitia kepada sponsor yang telah turut serta dalam menyukseskan acara ini. Pertamina Foundation pun langsung menunjuk scholars yang tergabung dalam Sobat Bumi Indonesia regional Jakarta. Mereka antara lain Odit Mukti, Hanifah Rahmani, Cut Miranda, Evi Santi, M. Fajar Anugrah, dan Dewi Ratih. Kegiatan seperti ini sekaligus menjadi salah satu ajang silahturahmi dan menunjukkan kreativitas scholars.

Jalannya Acara

Pukul 7.30, di saat scholars mulai mengeluarkan alat sosialisasi berupa notes, CD, buku cerita, pulpen, dan flyer, saat itulah mereka mendapat kejutan. Pengunjung yang kala itu masih “berkeliaran” langsung mendatangi booth Pertamina. Tak tanggung-tanggung, setengah dari jumlah kit yang disiapkan habis dalam waktu kurang dari 30 menit. Anggota yang bertugas memberi edukasi pun terlihat kewalahan dengan antusiasme pengunjung saat itu.

Di sela istirahat, scholars melakukan briefing dan mengatur strategi agar pesan yang ingin disampaikan dari kehadiran booth ini tersampaikan. Benar saja, dengan pengaturan barisan yang lebih baik dari sebelumnya, scholars bisa memberikan pemahaman kepada pengunjung mengenai program-program yang dimiliki Pertamina Foundation. Alhasil, antusiasme pengunjung terus meningkat.

Namun, sekitar pukul 13.00, hujan mengguyur arena acara. Booth Pertamina yang berada di outdoor tak luput dari guyuran hujan. Scholars pun bergegas pindah ke dalam gedung yang saat itu juga dipenuhi oleh para orang tua pendamping. Ternyata di dalam gedung antusiasme pengunjung makin meningkat. Komunikasi dua arah pun terlihat semakin hidup antara mereka dan pengunjung.

Semoga, melalui acara ini, program-program yang dimiliki Pertamina Foundation seperti Beasiswa Pertamina Sobat Bumi dapat lebih dikenal masyarakat. Masyarakat pun bisa ikut aktif dalam program-program ini.

Pertamina Beasiswa Sobat Bumi 2014 Kembali Dibuka

Preson Beasiswa 2014

Jakarta, 13 Juni 2014 – PT Pertamina (Persero), melalui Pertamina Foundation, kembali membuka Pertamina Beasiswa Sobat Bumi. Di tahun ketiga penyelenggaraannya, beasiswa ini menyasar mahasiswa jenjang Strata-1 dari beragam disiplin ilmu di 21 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia. Nantinya, penerima beasiswa berhak menerima penggantian biaya pendidikan setiap semester, bantuan biaya hidup setiap bulan sebesar Rp 500.000, dan bantuan penyusunan tugas akhir. Selain itu, para penerima Beasiswa Sobat Bumi juga diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman kerja di perusahaan yang berafiliasi dengan PT Pertamina (Persero).

“Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini sangatlah kompleks. Kelestarian lingkungan hidup adalah salah satunya. Guna mewujudkannya, bekal pendidikan saja tidaklah cukup. Diperlukan kesadaran dan kepedulian tinggi terhadap pelestarian lingkungan hidup. Aspek inilah yang hendak kami sentuh melalui pemberian Pertamina Beasiswa Sobat Bumi. Melalui beasiswa ini, kami berharap akan terbentuk calon pemimpin masa depan yang memiliki kapasitas keilmuan mumpuni serta ditunjang dengan wawasan serta kepedulian tinggi terhadap lingkungan,” ungkap Ifki Sukarya, Corporate Social Responsibility (CSR) Manager, PT Pertamina (Persero).

Pertamina juga menyadari upaya pemberian beasiswa ini sebagai bagian upaya menularkan pola pikir dan tindakan sadar lingkungan diantara generasi muda. “Kami berkomitmen untuk terus melanjutkan program ini karena kami berharap akan semakin banyak mahasiswa penerima Beasiswa Sobat Bumi yang dapat menjadi agen perubahan dalam bidang lingkungan, bagi komunitas di sekitarnya. Harapannya, pola-pikir dan sikap-tindakan positif akan tertular pada ruang lingkup masyarakat lebih luas lagi. Dengan demikian akan timbul kesadaran luas akan pentingnya pelestarian lingkungan hidup di tengah-tengah masyarakat. Namun semua hal ini tentunya dibarengi dengan sikap dan tindakan untuk terus menomersatukan pendidikan,” ujar Direktur Eksekutif Pertamina Foundation, Nina Nurlina Pramono.

Tahun ini, dana yang dialokasikan oleh Pertamina Foundation lewat program Pertamina Beasiswa Sobat Bumi mencapai 4,5 miliar rupiah. Sumber pendanaan program ini berasal dari pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina yang dikelola oleh Pertamina Foundation. Berbeda dengan program beasiswa lainnya, Pertamina Beasiswa Sobat Bumi tidak hanya memberikan bantuan dana untuk pendidikan akademik namun juga mengalokasikan anggaran program inisiatif yang diusulkan oleh penerima Beasiswa Sobat Bumi di seluruh Tanah Air yang tergabung dalam komunitas Sobat Bumi Indonesia.

Setiap tahun, para penerima Beasiswa Sobat Bumi juga diberi fasilitas untuk melakukan pertemuan guna membahas inisiatif pemecahan masalah lingkungan yang ada. “Ini sebagai ajang pembelajaran agar mereka dapat mulai berkontribusi terhadap penyelesaian masalah-masalah lingkungan di sekitarnya,” ujar Direktur Pendidikan Pertamina Foundation, Ahmad Rizali.

Program Beasiswa Sobat Bumi ini terbuka bagi para mahasiswa yang sudah menempuh semester empat dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,01. Pendaftaran program ini dibuka mulai 13 Juni hingga 12 Juli 2014. Mahasiswa yang berminat bisa mendaftarkan diri secara online dengan mengisi data lengkap di situs www.sobatbumi-indonesia.org.

Majalah GreenLife Edisi “Ramah Lingkungan Tak Ramah Kebijakan”

Majalah GreenLife IIMajalah GreenLife Edisi “Ramah Lingkungan Tak Ramah Kebijakan” yang terbit pada Juni 2014 bisa dibaca secara gratis di link berikut ini: https://copy.com/p6NkzjcWIcOGWf4N

Pengumuman Peraih Anugerah Riset Sobat Bumi 2014

ARSB 2014

JAKARTA—Pertamina Foundation memberikan penghargaan kepada 15 peneliti berbasis pembangunan berkelanjutan. Mereka menyisihkan 1.023 proposal yang masuk ke panitia. Hibah penelitian yang diberi nama Anugerah Riset Sobat Bumi ini diikuti oleh beragam peneliti mulai dari mahasiswa hingga profesor.

“Hal ini membanggakan karena memperlihatkan kesadaran peneliti untuk berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penelitian berbasis pemberdayaan masyarakat,” jelas Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/5).

Hadir dalam kesempatan tersebut, Corporate Secretary Pertamina Nursatyo Argo, CSR Manager Pertamina Ifki Sukarya, dan Ketua Program Anugerah Riset Sobat Bumi Rida Hesti Ratnasari. Selain itu, hadir pula tiga peraih Anugerah Riset Sobat Bumi, yakni Linda Damarjati (Universitas Indonesia), Takhsinul Khuluq (Lembaga Pendidikan Seni Nusantara), dan Qouamunas Tsani Nurargimah (Institut Pertanian Bogor).

Diakui Nina, Anugerah Riset Sobat Bumi mendapatkan respon luar biasa dibandingkan tahun pertamanya yang dihelat tahun 2013. Hal ini terbukti dari jumlah proposal yang masuk jauh melebihi perkiraan, bahkan mencapai dua kali lipatnya.

“Saya rasa reputasi dan kredibilitas yang disandang oleh Anugerah Riset Sobat Bumi yang membuat animo masyarakat membludak,” tegas Nina.

Sementara itu, Nursyatyo menambahkan, anugerah riset ini menjadi perwujudan komitmen Pertamina dalam membantu dunia pendidikan Tanah Air. Peneliti sebagai kaum intelektual di Indonesia, memiliki peran sentral dalam membangun iklim penelitian kondusif yang mampu menghasilkan beragam penelitian aplikatif, tepat guna dan memiliki manfaat besar bagi masyarakat secara berkelanjutan.

Rida menegaskan, berbeda dengan tahun sebelumnya, penelitian ini berfokus pada disertasi S-3, penelitian mandiri serta penelitian berbasis pengabdian masyarakat. Artinya, siapa saja dapat mengajukan proposal, dan tidak harus yang akan melakukan penelitian untuk skripsi atau tesis.

Yang terpenting lanjut Rida, proposal yang masuk dapat memenuhi empat aspek yang memiliki kesesuaian dengan empat pilar pembangunan berkelanjutan dan bobot manfaat penelitian bagi masyarakat. Dari 15 penerima Anugerah Riset Sobat Bumi, tujuh adalah kategori Penelitian Mandiri, enam kategori Pengabdian Masyarakat dan dua kategori Disertasi. Nilai hibah yang diberikan adalah Rp 50 hingga Rp 100 juta.

“Buktinya, mas Unas bisa mengalahkan profesor-profesor yang juga ikut dalam Anugera Riset Sobat Bumi ini,” tegas Rida.

Unas yang memiliki nama lengkap Qouamunas Tsani Nuargimah merupakan mahasiswa Semester Dua IPB yang mengajukan judul riset “Lamarin (Lampu Mandiri dan Ramah Lingkungan): Pemanfaatan Sumberdaya Tanah sebagai Energi”.

Unas mengatakan, dirinya sama sekali tidak mengira mendapatkan Anugerah Riset Sobat Bumi ini mengingat pesaingnya begitu berat. “Saya terkejut ketika dikabari menjadi salah satu penerima anugerah. Saya menjadi yakin, anugerah ini memang memiliki kredibilitas,” ujarnya.

Lain lagi cerita Takhsinul Khuluq dari Lembaga Pendidikan Seni Nusantara. Ia awalnya tidak yakin akan menjadi pemenang, mengingat selama ini riset bidang seni budaya selalu dipandang sebelah mata. Namun ternyata proposalnya yang berjudul “Pembuatan Ensambel Musik Keroncong dari Bambu” membetot perhatian para juri.

Sedangkan Linda Damarjanti dari Universitas Indonesia untuk kategori Pengabdian Masyarakat dengan judul riset “Pembangunan Komunitas Hutan Berkelanjutan Pentingnya Analisis Struktur, Kultur, dan Proses dalam Program Pengembangan Komunitas Hutan” mengakui telah mengikuti berbagai hibah sejenis. Namun Anugerah Riset Sobat Bumi memiliki keunggulan sendiri. Salah satunya adalah penekanan pada basis pembangunan berkelanjutan. “Ini saya rasa patut mendapatkan apresiasi,” katanya.

Bambang Shergi Laksmono, salah seorang juri yang juga merupakan Guru Besar Kebijakan dan Perencanaan Sosial Universitas Indonesia, mengapresiasi proposal yang mendorong kepeloporan, penyadaran untuk jangka panjang, kepemimpinan, serta inisiatif kolektif.

“Kita perlu menghadirkan contoh dan keteladanan lewat misi Sobat Bumi. Pertamina Foundation dalam hal ini dapat berperan dalam proses pembentukan karakter dan watak serta identitas manusia yang berkualitas,” tegas Bambang.

Daftar Pemenang Anugerah Riset Sobat Bumi 2014

Anugerah-Sobat-Bumi-2014

Anugerah Riset Sobat Bumi merupakan hadiah dari Pertamina Foundation kepada mahasiswa, dosen, praktisi, atau pakar maestro yang melakukan riset untuk disertasi, penelitian mandiri, dan pengabdian masyarakat dengan topik yang terkait dengan pilar-pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu ekologi/alam, masyarakat, ekonomi, dan kesejahteraan.

Pada Seleksi Tahap I terpilih 40 proposal yang lanjut pada Seleksi Tahap II (Seleksi Wawancara). Berdasarkan hasil seleksi yang telah dilaksanakan pada tanggal 29-30 April 2014 terpilih 30 orang peserta yang mendapat kesempatan mengikuti Seleksi Tahap III, yaitu seminar proposal yang dilaksanakan pada Senin, 5 Mei 2014 yang lalu.

Penilaian ini dilakukan oleh dewan juri independen yang mewakili unsur akademisi, Kementerian Riset dan Teknologi, Dewan Energi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta PT Pertamina. Anggota Dewan Juri Anugerah Riset Sobat Bumi 2014 ini sebagai berikut.

1. Bapak Dr. Djedi Setyo Widarto (Chief Energi Baru dan Terbarukan UTC Pertamina Hulu)

2. Bapak Prof. Ir. Rinaldy Dalimi, M.Sc, Ph.D (Anggota Dewan Energi Nasional)

3. Bapak Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono, M.Sc (Guru Besar Kebijakan dan Perencanaan Sosial Universitas Indonesia)

4. Bapak Dr. Andika Fajar (Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Manusia IPTEK Riset dan Teknologi Republik Indonesia)

5. Ibu Dr. Margareta Rahayuningtyas, S.Si., M.Si (Dewan Kehormatan Badan Pengembangan Konservasi Universitas Negeri Semarang)

6. Ibu Prof. Dr. Ir. Tien R. Muchtadi (Perwakilan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

Melalui konferensi pers yang diselenggarakan pada 8 Mei 2014 di gedung Pertamina Foundation, panitia mengumumkan 15 pemenang  Anugerah Riset Sobat Bumi 2014. Selamat kepada para pemenang. Berikut ini nama-nama pemenang Anugerah Riset Sobat Bumi 2014.

No.

Nama

Judul Riset

Kategori

Institusi/Lembaga

1.

Ade Yeti Nuryantini Pengembangan Perban Antibakteri dari Bahan Alam (Ekstrak Daun Binahong/Anredera Cordifolia (Ten.) Steenis) dengan Metoda Pemintal Elektrik

Disertasi

Institut Teknologi Bandung

2.

Irwan, S.Si, M.Sc Telecolaborasi dan Visualisasi Data Explorasi Geologi menggunakan Virtual Reality

Disertasi

Paris Technology University

3.

Dr. Ir. Syafrullah, MP Aplikasi Pupuk Organik Plus Batubara dalam Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan dengan Memelihara Bumi dan Meningkatkan Produksi Tanaman Kedelai

Penelitian Mandiri

Universitas Muhammadiyah Palembang

4.

Ir. Budiman Achmad, M.Sc. Penyusunan Pita Karbon Jenis Mahoni (Swietenia spp.) untuk Menduga Karbon Tersimpan pada Hutan Rakyat

Penelitian Mandiri

Balai Penelitian Teknologi Agroforestry

5.

Dr. Masturi, M.Si. Fabrikasi Keramik Berpori Clay dan Serbuk Pasir Silika serta Aplikasinya sebagai Filter Limbah

Penelitian Mandiri

Universitas Negeri Semarang

6.

DR Suhartono S.Si M.Kom Pengembangan Teknologi Listrik Tenaga Air Skala Piko Menggunakan Kincir Tipe Rantai dengan Sudut Tabung Untuk Mendukung Pemenuhan Listrik Berkelanjutan

Penelitian Mandiri

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

7.

Takhsinul Khuluq Pembuatan Ensambel Musik Keroncong dari Bambu

Penelitian Mandiri

Lembaga Pendidikan Seni Nusantara

8.

Himawan Tri Bayu Murti Petrus Pemanfaatan Silika Geotermal sebagai Bahan Konstruksi Berbasis Geopolimer: Usaha untuk Mewujudkan Pembangkit Listrik Geotermal yang Sustainable

Penelitian Mandiri

Universitas Gadjah Mada

9.

Ahmad Rizqy Akbar Inovasi Penerapan Teknologi GRYDO Generator (Gravity Hydro Pump Generator) Sebagai Trobosan Krisis Energi dan Air Bersih di Wilayah Pesisir Kab. Malang Selatan

Penelitian Mandiri

Universitas Brawijaya

10.

Prof. Robert Markus Zaka Lawang Kandang Kambing Kolektif dengan Sistem Bergulir di Dusun Ratung-Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur

Pengabdian Masyarakat

Universitas Indonesia

11.

Dr. Ir. Budi Leksono, MP. Integrasi Industri Minyak Nyamplung dan Ternak Kambing untuk Kelestarian Lingkungan dan Kesejahteraan Masyarakat

Pengabdian Masyarakat

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman, Yogyakarta

12.

Dr. Yossi Wibisono, S.Tp, MP Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu serta Penggunaan Kedelai Edamame Afkiran sebagai BahanPengganti Kedelai Import untuk Pembuatan Tempe Metode Baru Berbasis Paten yang Hemat Air

Pengabdian Masyarakat

Politeknik Negeri Jember

13.

Moh. Taqiuddin, SP. M.Si. Pengetahuan, Istitusi Sosial dan Risiko Perubahan Iklim: Keragaman dan Dinamika Strategi Adaptasi Petani Sawah Tadah Hujan di Pulau Lombok

Pengabdian Masyarakat

Universitas Mataram

14.

Qouamunas Tsani Nuargimah “Lamarin” Lampu Mandiri dan Ramah Lingkungan: Pemanfaatan Sumberdaya Tanah Sebagai Energi Terbarukan untuk Penerangan Jalan di Desa Situ Gede

Pengabdian Masyarakat

Institut Pertanian Bogor

15.

Dr. Linda Damarjanti Pembangunan Komunitas Hutan Berkelanjutan Pentingnya Analisa Struktur, Kulturdan Proses Dalam Program Pengembangan Komunitas Hutan

Pengabdian Masyarakat

Universitas Indonesia

 

Seleksi Tahap III Anugerah Riset Sobat Bumi 2014

Seleksi Riset ARSB Tahap III

JAKARTA—Senin, 5 Mei 2014, seleksi tahap III program Anugerah Riset Sobat Bumi 2014 dilakukan di Gedung Pertamina Foundation di wilayah Simprug, Jakarta Selatan. Peserta yang ikut hadir dalam seleksi berdasarkan presentasi dan wawancara ini berjumlah 30 orang. Presentasi ke-30 peserta ini akan dinilai oleh enam anggota dewan juri independen. Dari 30 proposal yang dipresentasikan, dewan juri akan memilih 12 peserta yang layak untuk mendapat Anugerah Riset Sobat Bumi 2014.

Anugerah Riset Sobat Bumi 2014 tahun ini memasuki tahun kedua. Program yang diselenggarakan Pertamina Foundation Program ini bertujuan memberikan anugerah kepada proposal riset dengan kategori disertasi, penelitian mandiri, dan pengabdian masyarakat dengan nilai Rp 50 juta hingga Rp 100 juta untuk masing-masing penelitian.

Untuk tahun ini, Anugerah Sobat Bumi tidak mengikutsertakan penelitian kategori skripsi (S-1) dan tesis (S-2). Hal ini untuk memberikan tantangan yang lebih besar kepada peserta agar dapat mengembangkan pilar pembangunan berkelanjutan (alam, ekonomi, kesejahteraan, dan masyarakat) dengan lebih mumpuni.

Penilaian dewan juri ini berdasarkan kriteria kesesuaian dengan tema, integrasi empat pilar pembangunan berkelanjutan, dan manfaat riset untuk masyarakat. Periset terpilih akan menjadi bagian dari Komunitas Periset Sobat Bumi yang senantiasa mendorong gerakan sosial ramah lingkungan dan mewujudkan generasi berkarakter Sobat Bumi. []

Daftar Peserta Hasil Seleksi Tahap II Anugerah Riset Sobat Bumi 2014

Anugerah-Sobat-Bumi-2014

Anugerah Riset Sobat Bumi merupakan hadiah dari Pertamina Foundation kepada mahasiswa, praktisi, atau pakar maestro yang melakukan riset untuk disertasi, penelitian mandiri, dan pengabdian masyarakat dengan topik yang terkait pilar-pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu ekologi/alam, masyarakat, ekonomi, dan kesejahteraan.

Dari hasil Seleksi Tahap I Anugerah Riset Sobat Bumi 2014, terpilih 40 proposal yang lolos ke Seleksi Tahap II (Seleksi Wawancara). Berdasarkan hasil seleksi yang telah dilaksanakan pada tanggal 29 – 30 April 2014, terpilih 30 orang peserta yang mendapat kesempatan mengikuti Seleksi Tahap II, yaitu Seminar Proposal pada 5 Mei 2014 di Kantor Pertamina Foundation, Jakarta.

Berikut ini nama-nama peserta yang lolos pada Seleksi Tahap II Anugerah Riset Sobat Bumi 2014.

Daftar Peserta Hasil Seleksi Tahap II Anugerah Riset Sobat Bumi 2014

 

Pertamina Foundation Anugerahi 21 Sekolah Binaan Sekolah Sobat Bumi

Sarasehan Publik

JAKARTA—Pertamina Foundation menganugerahkan dana mini hibah untuk 21 sekolah binaan program Sekolah Sobat Bumi untuk pengembangan model pelestarian keanekaragaman hayati berbasis sekolah.

Penganugerahan diberikan oleh Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono saat Sarasehan Publik Sekolah Sobat Bumi bertema “Berbagi Inspirasi Model Pengelolaan Sumberdaya Hayati Berbasis Sekolah” yang diselenggarakan Pertamina Foundation bersama Yayasan Kehati di Jakarta, (17/4).

Pemberian anugerah didasarkan pada proposal terbaik dari 70 sekolah binaan yang dilakukan oleh 7 SDN Sekolah Sobat Bumi Champions.

Nina dalam sambutannya mengatakan, project yang dirancang Sekolah Sobat Bumi, khususnya bersama Yayasan Kehati melaksanakan tiga project sekaligus. Yakni, membuat Kebun Raya Mini, menciptakan Kantin Sehat, dan Pengelolaan Limbah Sekolah.

“Kami tentu berharap, 7 SDN Sekolah Sobat Bumi Champions bersama 70 sekolah binaan lainnya menjadi pionir dalam pengembangan keanekaragaman hayati di Indonesia,” tegas Nina.

Lebih lanjut, katanya, setiap orangtua tentunya menginginkan anaknya sehat. Untuk itulah  penting mendorong Kantin Sehat di setiap sekolah. Tujuannya agar sekolah dapat menyediakan ragam pangan yang aman, bergizi, bermutu, dan lebih bagus jika dihasilkan dari Kebun Sekolah. Sedangkan, limbahnya dapat dikelola secara maksimal.

“Institusi sekolah merupakan elemen penting untuk membentuk pola berpikir, pemahaman, tindakan, dan perubahan perilaku generasi masa depan,” pungkas Nina.

Sementara itu, Ketua Yayasan Kehati MS Sembiring mengatakan, Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman hayati melimpah dengan penghasil 400 jenis tanaman buah, 370 tanaman sayur, 70 tanaman berumbi, dan 55 jenis rempah-rempah. Sayangnya, hal ini belum dapat dikelola secara optimal.

“Kita masih saja sering mendengar adanya anak yang memiliki masalah dengan gizi,” tegas Ketua Yayasan Kehati MS Sembiring.

Melihat kondisi seperti itu, lanjut Sembiring, sangat tepat untuk melaksanakan program Sekolah Sobat Bumi yang diinisiasi oleh Pertamina Foundation. Sebab, program yang melibatkan 7 SDN dan sedikitnya 70 sekolah binaan ini dapat menjadi cikal-bakal untuk memulai gerakan sejak dini.

“Membangun bangsa adalah masalah fondasi. Dan, ini dilakukan oleh Sekolah Sobat Bumi,” tegasnya.

Dalam sarasehan setengah hari tersebut juga dipamerkan hasil pengolahan dari sekolah-sekolah penerima manfaat program Sekolah Sobat Bumi.

Sarasehan Publik diselenggarakan dengan tujuan menginformasikan kepada masyarakat mengenai program keanekaragaman hayati terpadu Sekolah Sobat Bumi. Selain itu, acara ini juga untuk berbagi pengalaman dan pembelajaran dalam program pengelolaan sumberdaya hayati terpadu Sekolah Sobat Bumi dan mendapat masukan dari hasil pembelajaran serta dukungan pelaksanaan program selanjutnya dari berbagai pihak.

Ketujuh sekolah dasar yang dibina oleh Pertamina Foundation dan Yayasan Kehati untuk program keanekaragaman hayati terpadu Sekolah Sobat Bumi adalah SDN 83 Pekanbaru (Riau), SDN Metro 4 (Lampung), SDN Bendungan Hilir 12 (Jakarta), Sekolah Citra Alam Ciganjur (Jakarta), SDN Bantarjati 9 Bogor (Jawa Barat), SDN Ungaran (Jogjakarta), dan SDN 3 Balikpapan (Kalimantan Timur). Ketujuh sekolah ini sejak September 2013 hingga Maret 2014 mendapat dana hibah, pendampingan intensif, pelatihan, dan berbagai program pembinaan lainnya. []

Bandung Kembangkan Buah Maja Sebagai Energi Alternatif

Maja Bandung

BANDUNG—Buah Maja sebagai Bahan Bakar Nabati (Bakarti) masih belum banyak diketahui orang. Padahal, potensi pengembangan buah ini sangat besar di Indonesia. Setelah sukses dikembangkan oleh siswa-siswa SMAN 5 Denpasar Bali dan SMPN 1 Kedamean Gresik, kini buah Maja akan dikembangkan di Bandung.

Deklarasi Bakarti di Kota Bandung dilakukan Minggu (30/3) oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil bersama masyarakat Bandung saat car free day. Hadir pula perwakilan dari Pertamina Foundation selaku  pendukung pengembangan Bakarti melalui program Sekolah Sobat Bumi, yakni Wakil Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Wahyudin Akbar serta Direktur Pendidikan  Ahmad Rizali. Turut pula tokoh sekaligus pengusaha Bandung Perry Tristianto.

Ridwan mengatakan, Bandung selalu terbuka untuk menerima hal-hal yang inovatif termasuk pengembangan buah Maja sebagai bahan bakar nabati. Apalagi, jika hal ini dikembangkan secara serius, dan didukung oleh peran swasta maka bukan mustahil Bandung nantinya menjadi pelopor dalam gerakan energi ramah lingkungan.

“Hal ini kalau dikemas bersama Pak Perry tentu akan lain. Marketingnya bisa jalan dan kalau hal ini bisa mendorong masyarakat tentu akan semakin baik,” ujar Ridwan.

Sebelumnya, Kota Bandung juga telah mendeklarasikan menjadi ecotransport city. Pendeklarasian dan pengembangan komunitas sepeda untuk sekolah dilakukan di SMPN 7 Bandung.  Program ini juga menjadi bagian lain dari program Sekolah Sobat Bumi.

Sementara itu Wahyudin mengatakan, bakarti yang telah dikembangkan oleh siswa-siswa SMAN 5 Denpasar dan juga SMPN 1 Kedamean Gresik sebenarnya hanya memanfaatkan ketersediaan buah Maja yang banyak dan tidak termakan.

“Potensi ini yang kemudian didorong untuk dikembangkan oleh siswa-siswa ini. Daripada membusuk,” tandas Wahyudin.

Untuk itu ia berharap, dengan potensi buah maja yang ada di sekitar Bandung dan kawasan Jawa Barat pada umumnya, bakarti dari buah maja ini diharapkan dapat berkembang dan menjadi energi alternative dan menjadikan Bandung sebagai pelopor dalam hal pengembangan energy alternatif.

Ahmad menambahkan, Bandung sebagai  salah satu kota kuliner terbesar di Indonesia sangat berpotensi untuk mengembangkan bakarti dari buah Maja ini. Apalagi, buah maja termasuk tumbuhan yang dapat hidup dalam kondisi ekstrim. Kondisi lingkungan yang demikian, memungkinkan pohon Maja tumbuh di wilayah Indonesia manapun.

“Kalau di Bali yang dikembangkan oleh siswa SMAN 5 Denpasar mereka akan menawarkannya sebagai energy alternative untuk pengrajin kriya. Kalau siswa siswa SMPN 1 Gresik mereka akan menawarkannya ke para pembatik. Kalau di sini barangkali kuliner, tentu saja dalam skala terbatas dulu,” tegas Ahmad. []

Surat Pernyataan Program Anugerah Sobat Bumi 2014

Anugerah-Sobat-Bumi-2014

Berikut ini template surat pernyataan untuk mengikuti program Anugerah Sobat Bumi 2014 dari Pertamina Foundation. Template ini terdiri atas dua jenis. Pertama untuk kategori Tesis, Disertasi, dan Penelitian Mandiri. Kedua untuk kategori Pengabdian masyarakat.

 

01. Surat pernyataan, Halaman Pengesahan dan CV Anugerah Sobat Bumi 2014 Kategori Thesis, Disertasi dan Penelitian Mandiri (https://copy.com/bfbrnLDvKjxE)

 

02. Surat pernyataan, Halaman Pengesahan dan CV Anugerah Sobat Bumi 2014 Kategori Pengabdian Masyarakat (https://copy.com/sNUoYzKvtCUP92id)

 

 

Panduan Mendaftarkan Diri dalam Program Anugerah Sobat Bumi 2014

Anugerah-Sobat-Bumi-2014-rev

Ingin mendapat bantuan biaya penelitian dalam program Anugerah Sobat Bumi 2014, ikuti panduannya di sini (http://bit.ly/1cY8ykF)

Riset dan pengabdian masyarakat didanai hingga Rp 100 juta. Batas akhir pengumpulan proposal diperpanjang hingga 25 April 2014. Semua berkas dikirimkan ke: anugerah.sobatbumi@gmail.com Contact Person: Ibu Rida 08128857110 dan Renny 085717480296.

Pendaftaran Anugerah Riset Sobat Bumi Diperpajang hingga 25 April

Foto Anugerah Sobat Bumi

 

JAKARTA—Pertamina Foundation untuk kedua kalinya akan memberikan penghargaan bagi para mahasiswa, praktisi atau pakar (maestro) yang melakukan riset untuk disertasi, penelitian mandiri dan pengabdian masyarakat.

“Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk kepedulian kami dalam meningkatkan peran dalam mengembangkan penegakan pilar-pilar sustainable development di Indonesia,” terang Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali di Jakarta, Rabu (19/3).

Selain itu, lanjut Ahmad, penghargaan ini juga memberikan kesempatan kepada para mahasiswa, dosen, peneliti, dan pakar untuk berkontribusi dalam mewujudkan sustainable development melalui jalur riset dan pengabdian masyarakat.

“Tentu saja hasil riset dan pengabdian masyarakat ini harus berkualitas karena telah melalui proses kompetisi terbuka dan sesuai standar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan,” tandas Ahmad.

Anugerah Riset Sobat Bumi 2014, lanjutnya, mengambil topik terkait pilar sustainable development yakni ekologi/alam, sosial budaya, ekonomi dan kesejahteraan alam. Sedangkan program Anugerah Riset Sobat Bumi 2014 terbagi dalam dua bagian. Masing-masing adalah Anugerah Riset dan Anugerah Pengabdian Masyarakat.

Diterangkan Ahmad, Anugerah Riset diberikan kepada pemenang proposal kategori disertasi dan penelitian mandiri. Sedangkan Anugerah Pengabdian Masyarakat diberikan kepada pemenang proposal pengabdian masyarakat, yang dapat diusulkan oleh masyarakat umum yang bermaksud melaksanakan program pengabdian untuk menyelesaikan permasalah lingkungan.

Sementara itu, Staf Ahli Pendidikan Pertamina Foundation Rida Hesti Ratnasari mengatakan, tema yang diangkat tahun ini adalah “Mewujudkan Riset dan Pengabdian Masyarakat sebagai Bagian dari Gerakan Sosial Periset Sobat Bumi.”

Rida menerangkan, pada tahun 2014 ini Anugerah Riset Sobat Bumi akan memberikan penghargaan dengan jumlah Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. “Kami berharap pelamar untuk Anugerah Riset tahun ini lebih banyak yang mengapresiasi,” katanya.

Dengan begitu, sambungnya, semakin banyak pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan sustainable development di Indonesia. Apalagi, para peneliti yang terpilih nantinya akan bergabung dengan penerima Anugerah Riset Sobat Bumi 2013 yang berjumlah 56 periset.

“Para periset ini akan terhubung secara otomatis dalam keanggotaan Komunitas Periset Sobat Bumi yang berkewajiban membentuk Generasi Sobat Bumi,” terangnya.

Sebagai informasi, tahun 2013 lalu, dari 1.215 proposal yang masuk, tersaring 771 proposal yang dianggap layak diseleksi. Terdiri dari 249 skripsi, 149 tesis, 65 disertasi, dan 308 pengabdian masyarakat dan penelitian mandiri.

Sedangkan dilihat dari institusi pendidikan terdapat 93 Universitas—tujuh di antaranya dari universitas luar negeri—serta instansi pemerintah tidak kurang dari 15 dan sedikitnya 10  Non-Government Organization (NGO).

Rida mengatakan, pengumuman resmi Anugerah Riset Sobat Bumi hanya dipublikasikan di halaman www.pertaminafoundation.org/ sedangkan batas akhir pengiriman proposal dan dokumen-dokumen pendukung ke panitia diperpanjang hingga 25 April 2014 dengan dikirimkan ke alamat anugerah.risetsobatbumi@gmail.com. []

 

Anugerah Riset Sobat Bumi 2014

Anugerah Sobat Bumi 2014Anugerah Riset Sobat Bumi adalah suatu bentuk penghargaaan yang diberikan oleh Pertamina Foundation kepada mahasiswa pascasarjana, praktisi, atau pakar maestro yang melakukan riset untuk disertasi, penelitian mandiri, dan pengabdian masyarakat dengan topik yang terkait dengan pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu ekologi/alam, sosial budaya, ekonomi, dan kesejahteraan. Penerima Anugerah Riset Sobat Bumi secara otomatis akan menjadi anggota Komunitas Periset Sobat Bumi yang berkewajiban membentuk karakter Generasi Sobat Bumi.

Anugerah Riset Sobat Bumi terdiri atas dua program pemberian penghargaan, yakni Anugerah Riset dan Anugerah Pengabdian Masyarakat. Anugerah Riset diberikan kepada pemenang proposal kategori disertasi dan penelitian mandiri. Sedangkan Anugerah Riset kategori pengabdian masyarakat diberikan kepada pemenang proposal pengabdian masyarakat. Proposal kategori pengabdian masyarakat juga dapat diusulkan oleh masyarakat umum yang bermaksud melaksanakan program pengabdian masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan terkait energi terbarukan, seperti pengelolaan sampah, limbah, serta permasalahan-permasalahan lain. Dalam pelaksanaannya, Anugerah Pengabdian Masyarakat tetap harus melibatkan unsur riset (research based).

Tema Anugerah Riset Sobat Bumi 2014 adalah Mewujudkan Riset dan Pengabdian Masyarakat Sebagai Gerakan Sosial Sobat Bumi. Kriteria umum penerima Anugerah Riset Sobat Bumi adalah terpadunya pilar-pilar pembangunan berkelanjutan dalam riset kategori penelitian ataupun kategori pengabdian masyarakat yang akan dilakukan. Pilar-pilar ini adalah Ekologi/Alam (Nature), Sosial Budaya (Society), Ekonomi (Economy), dan Kesejahteraan (Well-being).

Anugerah Riset Sobat Bumi pertama kali dilaksanakan pada tahun 2013. Ribuan pelamar mengirimkan proposal  ke Pertamina Foundation dan terpilih 56 periset yang memenangi Anugerah Riset Sobat Bumi. Dari 56 periset, sejumlah 40 adalah riset kategori penelitian berupa tugas akhir (TA/Skripsi), tesis, dan desertasi, dan sejumlah 16 adalah riset kategori pengabdian masyarakat. Penerima Anugerah Riset Sobat Bumi 2013 bervariasi dari mahasiswa, aktivis lingkungan, hingga guru besar dengan topik yang bervariasi. Di akhir tahun 2013, terpilih 3 periset dari sejumlah 56 periset untuk menerima penghargaan dari PT Pertamina (Persero) karena ketiga riset tersebut dinilai paling baik dalam mengintegrasikan pilar-pilar sustainable development serta penggalangan sinergi multipihak. Pada tahun 2014 ini, Anugerah Riset Sobat Bumi ini akan diberikan kepada periset dengan total dana sebesar Rp 1,3 miliar.

Proses pendaftaran dimulai dengan submit proposal deskripsi riset atau pengabdian masyarakat, jika lulus tahap seleksi administrasi dan substansi akan diminta untuk presentasi seminar proposal di depan dewan juri yang kompeten dan independen.

Contact Person: Renny Septiani (021) 29054409 Ext 207, 0857 1748 0296

 

“Mulung Sampah” ala Sobat Bumi Jakarta

Mulung Sampah Sobatbumi

Car Free Day merupakan salah satu ajang yang sering diikuti oleh masyarakat ibu kota, baik yang tinggal di Jakarta maupunkota-kota satelit di sekitarnya. Sejak pagi hari, mereka yang rutinitasnya dihadapkan dengan kemacetan dan asap kendaraan bermotor ini rela berbondong-bondong mendatangi ruas Jalan Sudirman—MH Thamrin demi berolahraga, bersepeda, atau sekadar berjalan santai sembari menghirup udara segar di setiap minggunya. Sayangnya, dalam setiap car free day yang diadakan seringkali meninggalkan sampah yang berserakan, mulai dari botol air mineral, puntung rokok, hingga bungkus plastik bekas jajanan.

Pada hari Minggu (02/03) kemarin, Sobat Bumi Regional Jakarta melakukan aksi “mulung sampah” yang diadakan saat hari bebas kendaraan. Acara yang diikuti oleh perwakilan Sobat Bumi di berbagai kampus di Jakarta dan sekitarnya seperti UI, UNJ,IPB, UPN Veteran, dan President Univ ini dimulai pada pukul 8.00 WIB, berawal dari kawasan Dukuh Atas sebagai titik start-nya.

Selama dua jam, belasan anggota Sobat Bumi Regional Jakarta menyusuri tiap kawasan sambil mengumpulkan sampah yang tergeletak di badan jalan, parit, maupun di pinggir-pinggir pedestrian. Setelah berhasil mengumpulkan delapan trashbag besar, tim pun bergerak ke Lapangan Silang Monumen Nasional untuk mengikuti peluncuran majalah Green Life Inspiration yang diadakan oleh Pertamina Foundation. Dengan aksi hijau ini, diharapkan kesadaran gaya hidup sehat yang dilakukan masyarakat pada akhirnya tidak sebatas berolahraga di ruang publik saja, tetapi juga bisa dimulai dari hal yang paling kecil dan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya.

(Rizki Dwika, SB Jakarta).

Peluang Kerja Sama Pertamina Foundation dengan Canada World Youth

canadaworldyouth.org

Pertamina Foundation berencana melakukan kerja sama dengan Canada World Youth. Melalui pertemuan antara Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono dan Senior Program Associate Canada World Youth Nadia Morales yang dilakukan pada 25 Februari, kedua lembaga ini sepakat melakukan sejumlah kegiatan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal ini sesuai dengan misi Canada World Youth untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, terutama kaum muda, untuk aktif berpartisipasi mengembangkan harmonisasi dalam masyarakat dunia. Selain itu, Canada World Youth juga memiliki misi agar apa yang dilakukan kaum muda memiliki dampak besar, tidak hanya bagi Kanada, tetapi juga negara yang diajak bekerja sama.

Di Indonesia, Canada World Youth telah melakukan kerja sama selama puluhan tahun. Kegiatan ini dimulai sejak 1971 dengan meluncurkan program pertukaran ribuan relawan muda Indanesia dan Kanada.

Secara pribadi, Nadia Morales sangat tertarik dengan program-program yang ada di Pertamina Foundation. Nadia mengetahui program-program Pertamina Foundation dari situs resmi Pertamina. “Akan menjadi pengalaman yang luar biasa apabila Canada World Youth diberi kesempatan ambil bagian dalam program Pertamina Foundation,” ujarnya.

Dari pertemuan ini, kedua lembaga merumuskan sejumlah rencana yang akan diaplikasikan dalam waktu dekat. Antara lain, Canada World Youth akan mengirimkan relawan muda ke negara-negara yang telah menjalin kerja sama, termasuk Indonesia. Untuk Indonesia, relawan muda yang dikirim berjumlah 40 orang, 20 relawan laki-laki dan sisanya perempuan. Usianya 18-24 tahun. Menurut rencana, para relawan ini akan dilibatkan dalam semua program Pertamina Foundation, seperti Gerakan Menabung Pohon, Sekolah Sobat Bumi, Pertamina Foundation Scholar, dan Pertamina Soccer School. Mereka akan ditempatkan di sejumlah wilayah di Nusantara seperti Aceh, Jambi, Jawa Timur, dan Papua.

Selain itu, Canada World Youth juga memberi kesempatan Pertamina Foundation untuk mengirimkan dua ke acara International Youth Conference pada Oktober mendatang di Ottawa, Kanada. Dalam konferensi ini, Pertamina Foundation diberi kesempatan menjelaskan program-program yang telah dilakukan selama ini di forum tingkat dunia.

Semoga, melalui kerja sama antara Pertamina Foundation dan Canada World Youth, misi kedua lembaga yang sama-sama ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat segera terwujud. []

Majalah Greenlife Inspiration versi Online

 

GreenLIfe_001_MARET'14

Telah terbit majalah Greenlife Inspiration edisi Maret 2014. Majalah ini bisa dibaca secara gratis melalui versi online-nya di sini (http://bit.ly/1g1rzxR).

 

Pembangkit Listrik Mikro Hidro ala SMKN 1 Probolinggo

Mikro Hidro ProbolinggoMikro Hidro Probolinggo 2Foto Lokasi Mikro Hidro SMKN 1 Probolinggo 

Tak dapat dimungkiri, masyarakat Indonesia belum semuanya dapat menikmati pasokan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Hal ini karena keterbatasan infrastruktur, mengingat Indonesia memiliki negara kepulauan dan masih banyak wilayah yang berada di daerah terpencil.

Guna membantu masyarakat yang belum mendapat akses aliran listrik, SMKN 1 Probolinggo melakukan eksperimen pembuatan pembangkit listrik mikro hidro. Pembangkit listrik tenaga air dengan skala mikro ini dipilih karena memiliki banyak keunggulan. Selain biayanya terjangkau, bahan-bahan yang diperlukan mudah ditemukan di pasaran. Aplikasinya pun mudah dipadukan dengan jaringan irigasi yang ada di wilayah pedesaan. Yang tak kalah penting, teknologi mikro hidro sangat ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar fosil dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Menurut daya yang dihasilkan, pembangkit listrik dengan teknologi hidro ini dibagi menjadi enam kategori.

1. Large-hydro: daya di atas 100 MW
2. Medium-hydro: 15-100 MW
3. Small-hydro: 1-15 MW
4. Mini-hydro: 100 KW-1 MW
5. Micro-hydro: 5 KW-100 KW
6. Pico-hydro: ratusan watt sampai 5 KW

Sebenarnya, pembuatan pembangkit listrik mikro hidro ini merupakan pelaksanaan program Sekolah Sobat Bumi Champions dari Pertamina Foundation. Sebagai salah satu dari 17 Sekolah Sobat Bumi, SMKN 1 Probolinggo berkomitmen untuk mendukung program-program penerapan teknologi ramah lingkungan.

Adapun rencana peresmian pembangkit listrik tenaga mikro hidro ini dilakukan di GOR SMK Negeri 1 Probolinggo pada 10 Februari 2014. Diharapkan, dengan penerapan teknologi terapan ini, masyarakat yang belum dapat menikmati aliran listrik bisa memanfaatkannya untuk kehidupan yang lebih baik dan ramah lingkungan.

Buku “Indonesia di Tanganmu!”

Buku di TanganmuOk

Pertamina Foundation mendapat kesempatan berharga mendukung penerbitan buku Prof. Dr. Subroto berjudul Indonesia di Tanganmu!. Penerbitan buku ini patut diapresiasi karena merupakan karya salah satu tokoh ekonomi yang dapat memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara.

Hal ini sejalan dengan program Pertamina Foundation yang merupakan “perpanjangan tangan” Pertamina untuk membantu masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Salah satu program Pertamina Foundation yang membantu menciptakan pemimpin-pemimpin generasi mendatang yang peduli terhadap kelestarian alam adalah pemberian Beasiswa Sobat Bumi. Beasiswa ini telah diberikan kepada lebih dari 500 generasi muda yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Pertamina Foundation akan membagikan buku Indonesia di Tanganmu! ini antara lain kepada 500 Sobat Bumi Pertamina Foundation Scholars. Buku ini tentu saja sangat berguna bagi mereka sebagai generasi muda untuk tambahan bekal dalam membawa perubahan yang berarti terhadap kemajuan bangsa dan negara.

Aksi Sobat Bumi Peduli Korban Letusan Sinabung

Guna membantu saudara-saudara kita yang terkena dampak letusan Gunung Sinabung, Sobat Bumi melakukan aksi Peduli Sinabung. Mari kita satukan hati, peduli, dan saling berbagi kepada korban letusan Gunung Sinabung. Bantuan dapat disalurkan ke kontak seperti yang tertera di poster.

Sobat Bumi Peduli Korban Sinabung

Penjajakan Kerja Sama Program TV untuk Liga Pertamina U-16

Foto TV Jepang (2)

Liga Pertamina U-16 yang diluncurkan pada 3 Februari 2013 oleh Pertamina telah selesai digelar. Tahun ini, liga ini diikuti oleh 14 peserta sekolah sepak bola yang tersebar di wilayah Jabotabek dengan menggunakan sistem kompetisi penuh. Masing-masing tim akan bermain sebanyak 26 kali dalam satu musim.

Setelah digelar selama 26 pekan, Liga Pertamina U-16 menobatkan sekolah sepak bola Villa 2000 dari Tangerang sebagai juara pertama. Peringkat kedua diraih Pertamina Soccer School, sedangkan peringkat ketiga diduduki ASIOP Apacinti.

Ternyata, ajang kompetisi sepak bola untuk anak usia 16 tahun ini mendapat sambutan sangat positif dari masyarakat. Tidak hanya di dalam negeri, ajang ini juga mendapat apresiasi dari dunia internasional. Hal ini terbukti dari penjajakan kerja sama yang dilakukan perusahaan televisi berjaringan asal Jepang. Melalui Makoto Makino, Tim Manager Business Development Division Multichannel Pay TV Business Group Sky Perfect JSAT Corporation, mereka berencana menyiarkan pertandingan Liga Pertamina U-16 di stasiun televisi jaringan mereka. Tim ini datang bersama Adri Wahyuprakarsa, Marketing Director Curio Asia, selaku bagian pemasaran televisi Jepang tersebut

Tawaran kerja sama ini langsung disambut baik oleh pihak Pertamina Foundation selaku penyelenggara Liga Pertamina U-16. Melalui Direktur Pertamina Soccer School Hadi Rahmaddani, Pertamina Foundation berharap kerja sama ini dapat meningkatkan motivasi dan prestasi pemain muda sepak bola di seluruh Tanah Air. “Kegiatan ini bisa menjadi motivasi untuk mengirimkan pemain Pertamina Soccer School ataupun 25 pemain muda terbaik Liga Pertamina U-16 agar bisa ikut turnamen yang diselenggarakan klub sepak bola Jepang Gamba Osaka,” ujarnya. []

Verifikasi Gerakan Menabung 100 Pohon Dilakukan Secara Akurat

Verifikasi GMP 02

Hingga saat ini, Pertamina Foundation terus berupaya menyukseskan program Gerakan 100 Juta Pohon dengan melakukan penanaman pohon di seluruh Nusantara. Guna mengetahui secara akurat dan real time berapa jumlah pohon yang telah ditanam melalui program ini, Pertamina Foundation membangun situs http://twitgreen.com/. Di situs itu dijelaskan secara terperinci progres program Gerakan 100 Juta Pohon.

Berdasarkan data di Twitgreen hingga saat ini, dari sekitar 191,254  juta perencanaan dan penanaman pohon Relawan Gerakan Menabung Pohon, yang telah dilakukan verifikasi mencapai 56.859.998 pohon. Pengecekan program ini dilakukan oleh Tim Verifikator Pertamina Foundation. Setelah diverifikasi, pohon-pohon ini nantinya dibagi menjadi lot-lot. Dari jumlah keseluruhan program Gerakan Menabung 100 Juta Pohon, Tim Verifikator Pertamina Foundation membaginya menjadi sekitar 13.600 lot. Lot-lot ini dikelola oleh sekitar 7.800 petani atau ecopreneur yang tersebar di 302 desa dengan luas total lahan mencapai 298.428 hektare. Dari keseluruhan lot yang telah diverifikasi, total progresnya mencapai 79 persen.

Secara terperinci, hingga saat ini terdapat empat proses pemverifikasian di Twitgreen. Pertama adalah program penanaman pohon melalui CSR Pertamina 2012, dengan penanaman 13,3 juta pohon dan telah 100 persen diverifikasi. Kedua adalah penanaman pohon CSR Pertamina 2013, dengan penanaman 17 juta pohon dan telah diverifikasi sebanyak 90 persen. Ketiga program Patra Kartika 2013, dengan rencana penanaman sebanyak 20 juta pohon. Keempat adalah program CSR Pertamina 2013, dengan penanaman 25 juta pohon dan telah diverifikasi sebanyak 59 persen.

Agar mencapai hasil yang akurat, verifikasi program ini memerlukan sejumlah tahapan. Lot-lot yang telah berstatus verified harus dicek ulang untuk meyakinkan program ini telah benar-benar dilaksanakan dengan baik.

Setiap verifikasi lot biasanya dihadiri oleh minimal tiga anggota penguji dari pihak Pertamina ataupun dari publik. Mulai tahun 2013 kegiatan ini dilakukan dengan cara “sidang” verifikator dengan tujuan tambahan untuk pembinaan verifikator dan meningkatkan kredibilitas dari sistem. []

Pramuka Siap Dukung Gerakan Menabung Pohon

Tabung Pohon Pramuka (7)

JAKARTA—Salah satu cara mengentaskan kemiskinan di Indonesia adalah dengan menabung pohon. Langkah ini selain mendapatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat atau petani, pohon-pohon yang ditanam juga akan menghasilkan oksigen yang sangat bermanfaat bagi lingkungan.

“Kalau rakyat Indonesia mau menabung pohon, insya allah kemiskinan bisa teratasi,” tegas Direktur Greenlife Lendo Novo di hadapan tidak kurang dari 300 Pembina Pramuka dalam acara Karang Pamitraan Nasional 2013 di Cibubur, Kamis (12/9/2013).

Lendo mengatakan, saat ini Pertamina Foundation hingga Desember 2012 sudah menanam hingga 13,3 juta pohon yang tertanam di 1.315 lot.  Dari jumlah tersebut, pihak yang terlibat mencapai 45.622 orang.

Dengan potensi Pramuka yang begitu luas, dan lahan Buperta yang tersebar, Lendo meyakini, Pramuka juga dapat melakukan Gerakan Menabung Pohon (GMP). Apalagi prinsip-prinsip yang diemban pramuka sejalan dengan tujuan dari GMP.

Menanggapi ajakan Pertamina Foundation tersebut, para Pembina Pramuka yang berasal dari seluruh Indonesia tersebut mengaku  terinsiprasi dan akan mendukung GMP. Seperti diungkapkan Sugeng Haryono, pembina asal Malang, Jawa Timur, mengatakan niat untuk menanam pohon memang sudah ada  namun memang belum bisa dilakukan masal karena membutuhkan inspirasi dan sebuah gerakan yang menginisiasi.

Hal sama dikatakan Mahyuzan, Pembina asal Riau. Menurutnya, jika GMP bisa dilakukan secara nasional akan lebih baik. Untuk itu, memang dibutuhkan lobi-lobi tingkat nasional pula. “Apa yang ditawarkan Pertamina Foundation terus terang menjadi tantangan buat kami,” terangnya.

Lendo menambahkan, bila Pramuka bisa mendukung GMP, maka Pramuka bisa benar-benar bisa mandiri, terutama dari segi ekonomi. “Jadi, Pramuka lebih leluasa untuk melakukan kegiatan, apalagi yang menyejahterakan,” tutup Lendo. []

Kompas Cetak: Relawan Guru Sobat Bumi Mengabdi di Indonesia Timur

Relawan Guru Sobat Bumi Mengabdi di Indonesia Timur, Kompas, 11 Oktober 2013 halaman 25.

Kompas-Relawan Guru Sobat Bumi Mengabdi di Indonesia Timur

Kompas.com: Relawan Guru Sobat Bumi Mengabdi di Indonesia Timur

http://travel.kompas.com/read/2013/10/18/0833127/Relawan.Guru.Sobat.Bumi.Mengabdi.di.Indonesia.Timur

Sosialisasi Program-Program Pertamina Foundation di Pameran GKPM

PF di GKPM

Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat bekerja sama dengan Cendekia Mulia mengadakan acara Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat (GKPM) Expo & Forum 2013 di Jakarta Convention Centre Hall B, Senayan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan apresiasi terhadap program pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan yang telah dilakukan pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Pameran ini diikuti oleh 13 kementerian/lembaga, 23 pemerintah daerah, 4 BUMN, 10 perusahaan nasional, 4 lembaga donor dan lembaga swadaya masyarakat, serta 70 kelompok usaha mikro. Salah satu perusahaan milik negara yang ikut memeriahkan acara ini adalah Pertamina. Dalam pameran ini, Pertamina menghadirkan stan dengan tema “Pemberdayaan Peran dan Kreativitas Kaum Perempuan Indonesia dalam Peningkatan Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan”.

“Kami [Pertamina] memberikan dukungan penuh terhadap pergelaran ini. Melalui kegiatan ini, kami bisa berbagi pengalaman program-program yang sudah kami lakukan,” ujar Yulian Iskandar, perwakilan CSR Pertamina.

Di stan ini, Pertamina juga memaparkan sejumlah kegiatan CSR mereka. Salah satunya program kegiatan kelestarian lingkungan yang dilakukan melalui Pertamina Foundation. “Kami berharap apa yang kami lakukan bisa menggaungkan kembali lagu lama yang telah mati. Hal ini agar bisa kembali mewujudkan kesadaran masyarakat terhadap perilaku ramah lingkungan,” kata Muhammad Fathii, perwakilan dari Pertamina Foundation, yang menjadi salah satu pembicara dalam pameran ini.

Puluhan peserta dengan antusias berbagi pengalaman dalam diskusi program kelestarian alam ini. “Saya sangat antusias bila membahas tentang lingkungan. Mudah-mudahan, dengan kegiatan ini, masyarakat lebih menghargai lingkungan. Modal awalnya adalah membentuk mental masyarakat untuk mencintai lingkungan,” ungkap Antonie, salah satu peserta diskusi.

Pada hari kedua, Pertamina Foundation kembali mempresentasikan program ramah lingkungan, yaitu Gerakan Menabung 100 Juta Pohon. Diskusi ini dihadiri sekitar 40 siswa dari SMA Ksatria Jatinegara dan sejumlah mahasiswa dari Universitas Indonesia. Sebagai pembicara, Mika Halpin Hasanah dan Sri Budianti Santoso selaku Project Manager Gerakan Menabung Pohon Pertamina Foundation, berbagi pengalaman tentang pelaksanaan program ini. “Tantangan program ini adalah ketika proses pengumpulan relawan di setiap daerah,” kata Mika.

Hal itu karena kesadaran masyarakat akan program kelestarian alam masih kurang. Namun Ghina, satu peserta diskusi, sangat mendukung program ini. “Program ini sangabagus dan bermanfaat. Sementara di sejumlah daerah banyak terjadi penebangan pohon liar, program bisa dijadikan cara untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya lingkungan,” ujarnya.

Acara GKPM ini diselenggarakan selama empat hari, yakni pada 3-6 Oktober 2013. Selain pameran dan diskusi, acara ini juga diisi dengan sejumlah pelatihan seperti pengolahan rumput laut, workshop kewirausahaan, pengenalan industri hulu migas, dan pengenalan ragam budaya untuk mendukung pemberdayaan masyarakat. []

Membangun Anak-anak Khatulistiwa

 

 

JAKARTA—Berangkat dari pentingnya peran sekolah sebagai media transfer ilmu pengetahuan, Pertamina Foundation melalui Sekolah Sobat Bumi menginisiasi program keanekaragaman hayati terpadu bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). Program ini memfasilitasi 17 sekolah Adiwiyata Mandiri yang terpilih sebagai model sekolah umum berbudaya ramah lingkungan.

“Program ini diharapkan dapat mendorong transformasi dalam memanfaatkan sumber daya di sekolah dan menciptakan perilaku ramah lingkungan,” ujar Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali saat membuka workhsop dan Sarasehan Menumbuhkan Anak-anak Khatulistiwa “Memantapkan Kemitraan Bersama Membangun Generasi Indonesia Peduli Lingkungan Sumberdaya Hayati” di Jakarta, Senin (2/9).

Dikatakan Ahmad, sekolah yang terpilih harus mampu membina sekolah lain melalui program tematik seperti Kebun Raya Mini Sekolah, Kantin Sehat Sekolah, dan Pengelolaan Sampah Sekolah 100% Bersih. Program ini telah dilakukan di tujuh Sekolah Sobat Bumi Champions tingkat sekolah dasar di enam kota. Setiap sekolah akan membantu 10 sekolah binaan untuk mengembangkan kegiatan serupa pada 2014.

Direktur Komunikasi dan Penggalangan Sumber Daya (KPSD) Yayasan KEHATI, Raudatul J. Suraya menambahkan, melalui program ini, sekolah diharapkan bisa mengembangkan model pembelajaran dengan memanfaatkan sumber daya hayati lokal di kebun sekolahnya, memanfaatkan hasil kebun untuk menu pangan sehat di kantin sekolah, serta mengelola sampah dan limbah yang dihasilkan sekolah untuk kebutuhan kebun ataupun inisiasi kewirausahaan sekolah.

Sarasehan tersebut menghadirkan narasumber antara lain Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian Sri Sulianti, Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Kementerian Kesehatan Indah Yuningprapti, penggerak komunitas GROPESH Romo Andang Binawan, dan anggota Dewan Pembina Yayasan KEHATI Bondan Winarno.

Sarasehan dilanjutkan dengan workshop hingga 5 September 2013. Acara ini diikuti tujuh sekolah dasar wakil Sekolah Sobat Bumi Champions, yakni SDN Ungaran 1 (Yogyakarta), SD Citra Alam Ciganjur (Jakarta), SDN 005 Bukit Raya (Riau), SDNP 12 Benhil (Jakarta), SDN Bantarjati 9 (Bogor), SDN 04 Metro Timur (Lampung), dan SDN 003 Balikpapan (Kalimantan Timur).

Untuk mendapatkan hasil maksimal dari upaya melestarikan lingkungan, sekolah memang mutlak dilibatkan. Institusi pendidikan ini memiliki kemampuan mentransformasi ilmu pengetahuan dan pengalaman. Selain itu, sekolah juga mampu mendorong aksi-aksi nyata agar masyarakat lebih peduli terhadap perilaku ramah lingkungan. []

50 Siswa Indonesia Timur dan Terpencil Memulai Program Beasiswa

IMG_1346

 

JAKARTA—Pertamina Foundation secara serempak menyerahkan 50 siswa lulusan SMP untuk mengikuti program Beasiswa Sobat Bumi kepada empat sekolah pembina, yang terdiri dari dua SMA dan dua SMK akhir pekan lalu.

Program inisiatif dari Pertamina Foundation yang pelaksanannya bersama TNI AD dimaksudkan untuk menyentuh wilayah Indonesia Timur dan wilayah Indonesia terluar, terpencil dan terjauh (3T). Langkah ini dilakukan untuk mengembangkan potensi siswa-siswa di wilayah tersebut.

“Mereka harus dapat mengakses pendidikan dan mutu pendidikan seperti di daerah-daerah lain. Peningkatan SDM di Papua, Papua Barat dan anak-anak TKI di Sabah, Malaysia, perlu dilakukan sejak dini,” tegas Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali di Jakarta, Senin (15/7).

Lebih jauh Ahmad mengatakan, program untuk menyentuh Indonesia bagian Timur dan wilayah 3T ini adalah untuk melengkapi program pendidikan yang selama ini telah dilakukan Pertamina Foundation. Seperti,  Beasiswa Sobat Bumi yang tersebar di 16 Perguruan Tinggi Negeri, Sekolah Sobat Bumi dengan jumlah total 187 sekolah yang berada di 8 propinsi dan Anugerah Riset Sobat Bumi.

Serah terima 50 siwa lulusan SMP dilakukan serempak pada Jumat (12/7) dan Sabtu (13/7) pekan lalu di masing-masing sekolah pembina dengan disaksikan oleh Dinas Pendidikan kota setempat. Adapun 50 penerima beasiswa,  10 siswa berasal dari Sabah, Malaysia, 10 siswa dari Papua Barat dan 30 siswa dari Papua.

Dari jumlah tersebut SMK 3 Sukabumi membina dua siswa dari Papua dan satu siswa dari Papua Barat. Sedangkan di SMAN 10 Malang, sebanyak 14 siswa dari Papua, empat siswa dari Sabah, dan dua siswa dari Papua Barat.

Untuk SMKN 1 Probolinggo sebanyak empat siswa  dari sabah, delapan siswa dari Papua, dan lima siswa dari Papua Barat. Di SMAN 5 Denpasar terdiri dari dua siswa dari Sabah, dua dari Papua Barat, dan enam dari Papua.

Para siswa tersebut, akan mendapatkan beasiswa selama tiga tahun, dan dipertimbangkan meneruskan beasiswa untuk S1 melalui Beasiswa Sobat Bumi, jika memang lulus tes. Selama tiga tahun siswa akan mendapatkan biaya hidup dan biaya pendidikan tidak kurang dari 20 juta perorang pertahun.

Manfaat tersebut tidak termasuk biaya untuk asuransi kesehatan, biaya kepulangan, peningkatan kapasitas kemampuan siswa dan uang saku. Untuk pembinaan, masing-masing siswa juga mendapatkan kakak asuh yang tidak lain adalah mahasiswa penerima beasiswa Pertamina Foundation yang berasal dari kampus terdekat.

Program ini juga mendapatkan dukungan penuh dari masing-masing Dinas Pendidikan juga dari walikota. Seperti dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Kota Denpasar I Nyoman Arnawa yang sangat mengapresiasi inisiasi dari Pertamina Foundation.

“Di sekolah kami, program pendidikan dilakukan terbuka, untuk semua. Tidak ada diskriminasi. Kami juga terintegrasi dalam mengembangkan pendidikan dengan program pariwisata dan budaya,” ujar Nyoman.

Di tempat terpisah, Kepala Sekolah SMAN 10 Malang Niken Asih mengatakan, dalam pembinaannya nanti siswa dari Indonesia Timur tidak saja ditingkatkan kemampuan akademiknya, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana ngasah karakter dari peserta didik.

Hal sama dikatakan Wakil Kepala Sekolah SMKN 1 Probolinggo Ismail yang mengatakan, untuk menempatkan jurusan-jurusan, siswa akan menjalani serangkaian tes. “Pembinaan karakter juga menjadi prioritas di kami,” katanya.

Salah satu penerima beasiswa asal Papua, Dan Kogoya mengaku bangga menjadi bagian dari program ini. Selain karena mendapatkan pengalaman baru bersekolah di luar daerahnya, yakni SMKN 1 Probolinggo, program ini juga membuktikan kemampuannya karena telah menjalani serangkaian tes. []

Antisipasi Daerah Rawan Erosi

Jakarta—Beberapa desa di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, rawan terjadi tanah longsor dan erosi. Misalnya adalah Desa Drawati, Kecamatan Paseh, yang terletak di ketinggian 800 hingga 1.500 Mdpl. Desa seluas sekitar 1.700 hektare ini rawan longsor karena sebagian besar memiliki tingkat kemiringan tanah mencapai 45-60 derajat.

2. Press Release-Drawati (Sofyan) (1)

Selain rawan tanah longsor, Desa Drawati juga sering kekeringan jika musim kemarau tiba. Hal ini karena tanah yang ada tidak mampu menyerap air ketika musim penghujan datang. Tanah ini justru ikut longsor bersama air karena tidak adanya pepohonan yang bisa menahannya.

Selama ini, masyarakat di sana hanya menanam sayuran berupa ketela pohon, tomat, cabai, jagung, dan tembakau. Masa tanam yang hanya 80 hari dan harga yang cukup menguntungkan menjadi alasan para petani di Desa Drawati untuk memilih komoditas ini.

Berdasarkan permasalahan seperti ini, perlu adanya solusi untuk menjaga tanah di sana tidak rawan longsor dan tak mengalami kekeringan saat musim kemarau. Pertamina Foundation pun mencoba menawarkan solusi konversi lahan hortikultura menjadi hutan produksi dengan metode tumpang sari pohon jabon dan pohon kopi.

Dengan adanya gagasan ini, para petani Desa Drawati bersama Koperasi Sari Bumi Lestari dan pihak-pihak terkait menjalankan konservasi lahan kritis seluas 860 hektare melalui program “Menabung Pohon”. Program ini disebut “Menabung Pohon” karena merupakan investasi jangka panjang yang manfaat ekonominya nantinya bisa dirasakan masyarakat.

Dari lahan kritis seluas itu, saat ini masyarakat setempat baru melakukan penanaman 350.000 pohon jabon di lahan seluas 190 hektare. Penanaman pohon ini melibatkan  86 petani yang terbagi dalam 86 lot.

Selama melakukan konservasi ini, ada beberapa kendala yang dihadapi petani. Misalnya, jumlah pohon yang ditanam tidak sesuai harapan mencapai 20%. Hal ini terjadi karena berbagai faktor, antara lain adanya cuaca ekstrem, kelalaian petani, dan ulah orang-orang yang kurang bertanggung jawab. Koperasi Sari Bumi Lestari selaku pengelola program ini pun merekomendasikan dilakukannya penyulaman pada musim tanam bulan September-Desember 2012.

Memang, segala upaya pasti ada kendalanya. Namun bukan berarti tidak ada jalan untuk mengatasinya. Jika masyarakat Desa Drawati mau terus berjuang mengatasi masalah ini, lahan produktif yang aman dan bahaya erosi serta kekeringan akan mereka dapatkan.

Desa-Desa di Kabupaten Bandung Rawan Longsor

Jakarta—Pada 26 April 2010, Desa Bumiwangi, Kecamatan Ciparay, Bandung, Jawa Barat, pernah mengalami tanah ambles. Menurut Kepala Seksi Geologi Bidang Pertambangan Dinas Sumber Daya Alam Pertambangan dan Energi Kabupaten Bandung, Norfian, selain faktor gempa bumi, meningkatnya kasus gerakan tanah itu disebabkan musim hujan yang ekstrem.

Kasus pergerakan tanah di Kabupaten Bandu3. Press Release-Bumiwangi (Sofyan) (1)ng ini memang meningkat tajam. Dari data yang ada, 22 kecamatan di Kabupaten Bandung masuk kategori rawan gerakan tanah. Yang membuat kasus ini makin parah, kadang-kadang warga tidak menyadari adanya gerakan tanah di daerahnya. Misalnya, ketika tanah di daerahnya sudah ambles, warga tetap saja membuat kolam ikan sebagai mata pencaharian. Akibatnya, airnya bisa masuk ke retakan tanah dan terjadilah longsor. Kondisi ini akan semakin parah jika terjadi hujan lebat.

Selain itu, para petani di Desa Bumiwangi lebih memilih menanam sayuran yang kurang bisa menahan air ketika hujan turun. Hal ini tentu saja menambah risiko tanah longsor semakin besar.

Warga sebenarnya bisa mengurangi terjadinya retakan tanah dengan tidak membabat hutan, membuat terasering, ataupun menumpuk bebatuan di lereng terjal. Kalau ada retakan tanah yang memanjang, mereka harus segera menutupnya dengan tanah liat yang dipadatkan agar air tidak masuk ke sela-sela retakan. Hal ini bisa dilakukan sebagai tindakan jangka pendek.

Untuk jangka panjang, masyarakat Desa Bumiwangi bersama Koperasi Sari Bumi Lestari dan didukung oleh Pertamina Foundation melakukan gerakan tabung pohon untuk menghijaukan kembali hutan mereka yang sudah mulai gundul. Gerakan ini disebut tabung pohon karena pohon yang ditanam merupakan tabungan atau investasi yang bisa dinikmati ketika pohon tersebut sudah besar.

Adapun pohon yang ditanam adalah jabon dan kopi. Tanaman ini dipilih karena memiliki perakaran yang kuat dan mampu menyerap air, sehingga bisa mencegah tanah retak dan longsor. Dalam gerakan tabung pohon kali ini, bibit yang ditanam sebanyak 60.000 pohon dengan 22 lot.

Dalam jangka pendek, gerakan ini mungkin belum terasa manfaatnya. Namun, dalam jangka panjang, pohon-pohon ini akan mampu mencegah tanah retak dan dapat menyerap air untuk mengurangi risiko terjadinya longsor.

Meningkatkan Ekonomi Masyarakat dengan Tabung Pohon

Jakarta—Desa Cinangela, Pacet, Bandung, Jawa Barat, merupakan salah satu desa yang tingkat ekonominya belum beruntung dibanding desa-desa lain di Jawa Barat. Bahkan, desa ini pernah disebut sebagai desa yang rawan pangan. Maka, mulai tahun 2009, Cinangela ditetapkan sebagai lokasi Program Desa Mandiri Pangan.4. Press Release-Cinangela (Sofyan) (1)

Hal ini karena waktu itu hanya sedikit petani yang menerapkan teknologi usaha tani yang lebih baik. Alih informasi teknologi pertanian kurang lancar. Kegiatan penyuluhan pun belum bisa dioptimalkan.

Akibatnya, penghasilan dari pertanian sering rugi. Ini karena mereka masih bercocok tanam secara individual, menggunakan teknologi tradisional, di samping juga kekurangan modal.

Kondisi tersebut masih ditambah dengan latar pendidikan masyarakatnya yang kebanyakan lulusan sekolah dasar. Masih sedikit dari mereka yang berpendidikan SMP, SMA, atau bahkan perguruan tinggi. Ini karena, untuk bersekolah dengan standar mutu yang baik, mereka harus menempuhnya ke desa tetangga atau bahkan ke kota di kecamatan ataupun kabupaten.

Padahal, jika dilihat segi potensi lahan pertanian, wilayah ini sangat subur. Letaknya berada di pegunungan dengan curah hujan cukup baik. Suhu rata-ratanya 15 sampai 32 derajat Celsius. Ini membuat wilayah Desa Cinangela bisa ditanami dengan berbagai jenis tanaman.

Hal itulah yang melatarbelakangi munculnya gerakan tabung pohon bekerja sama dengan Pertamina Foundation. Ini merupakan program penanaman bibit pohon yang sekaligus sebagai investasi jangka panjang. Masyarakat akan bisa memetik hasilnya jika bibit pohon yang ditanam dalam gerakan tabung pohon sudah bisa dipanen.

Gerakan ini melibatkan 36 petani sekaligus pemilik lahan dengan bibit yang ditanam sebanyak 47.636 pohon dalam 36 lot. Adapun jenis pohon yang ditanam adalah jabon dan kopi. Dapat dibayangkan jika penanaman bibit pohon ini berhasil, ekonomi masyarakat akan meningkat.

Sebenarnya, gerakan tabung pohon ini tidak hanya dapat meningkatkan kesejahteraan warga Desa Cinangela. Dengan adanya program penanaman kembali hutan ini, masyarakat akan terhindar dari bahaya kekeringan ketika kemarau dan tanah longsor. Seperti diketahui, daerah di Kecamatan Pacet ini memang rawan longsor. Ini karena lahannya banyak yang miring. Hutannya pun sudah mulai banyak yang gundul.

Diharapkan, gerakan tabung pohon ini bisa menjadi solusi untuk memperbaiki tingkat ekonomi masyarakat, sekaligus sebagai gerakan penghijauan untuk melestarikan lingkungan.

Pemanfaatan Lahan Kritis Menjadi Hutan Produksi

5. Press Release-Gunungleutik (Sofyan)Jakarta—Saat ini, Pemerintah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, telah melakukan penyebaran peta rawan bencana tanah longsor. Sebagai tindak lanjut penyebaran peta ini, pemerintah mulai melakukan pembentukan kampung siaga bencana yang melibatkan masyarakat setempat. Langkah ini perlu dilakukan, mengingat wilayah di Kabupaten Bandung memiliki potensi rawan bencana tanah longsor.

Salah satu daerah yang berisiko terjadi tanah longsor adalah Desa Gunungleutik, Kecamatan Ciparay, Bandung, Jawa Barat. Kawasan di desa ini berisiko longsor karena sebagian lahannya memiliki tingkat kemiringan hingga 45-50 derajat.

Di samping itu, Desa Gunungleutik juga memiliki masalah lain, yakni 35 hektare dari 313 hektare total luas wilayah di desa ini mengalami kekeringan ketika musim kemarau tiba. Hal ini tentu menyulitkan masyarakat di sana yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari dunia pertanian. Mereka kebanyakan bercocok tanam berbagai jenis sayuran.

Dari analisis permasalahan yang ada di Desa Gunungleutik , masyarakat yang tergabung dalam Koperasi Sari Bumi Lestari bersama Pertamina Foundation mencoba membuat sebuah solusi. Gagasan ini bertujuan menciptakan masyarakat yang produktif dan ramah lingkungan. Salah satu cara yang telah dilakukan adalah konservasi lahan hortikultura menjadi hutan produksi dengan metode tumpang sari pohon jabon dan pohon kopi.

Dari 35 lahan kritis yang ada di desa ini, lahan yang telah dikonservasi mencapai 33 hektare. Ini berarti hanya tersisa 2 hektare yang direncanakan akan dilakukan konservasi menjadi hutan produksi. Dalam waktu dekat, sisa lahan yang belum dikonservasi ini akan dilakukan kembali oleh masyarakat bersama Pertamina Foundation.

Konservasi lahan ini melibatkan 22 petani setempat yang terbagi dalam 22 lot. Merekalah yang nantinya akan mengurusi bibit yang ditanam. Setelah bibit tumbuh menjadi pohon yang besar, para petani bisa memanfaatkan hasilnya. Ini dimungkinkan karena program konservasi lahan tersebut menggunakan sistem tabung pohon. Ini merupakan sebuah sistem investasi dalam bentuk bibit tanaman. Seperti halnya menabung, manfaatnya secara ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat kelak di kemudian hari.

Program ini diharapkan dapat meningkatkan ekonomi warga sekitar, sekaligus mewujudkan masyarakat yang produktif dan peduli terhadap kelestarian alam.

70.000 Bibit Pohon untuk Reboisasi Hutan Desa Mandalahaji

6. Press Release-Mandalahaji (Sofyan)Jakarta—Menurut data Badan Pusat Statistik, Desa Mandalahaji di Kecamatan Pacet, merupakan salah satu dari lima desa miskin di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Keempat desa lainnya adalah Desa Cipanjalu (Kecamatan Cilengkrang), Desa Neglasari (Kecamatan Ibun), Desa Sukamulya, dan (Kecamatan Kutawaringin).

Selain masalah ekonomi, masyarakat di Desa Mandalahaji juga memiliki persoalan lain, yakni gundulnya hutan di sana akibat penebangan yang tak terkendali. Penggundulan hutan ini tentunya berdampak buruk terhadap kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah tanah  longsor. Ini seperti yang terjadi pada 2009. Jalan di Desa Mandalahaji sempat rusak dan tak bisa dilalui kendaraan akibat tanah longsor ini.

Tidak hanya tanah longsor, desa ini juga rawan kekeringan ketika musim kemarau. Ini karena minimnya tanaman yang bisa menampung air saat musim penghujan. Akibatnya, pasokan air saat musim kemarau menjadi terganggu. Padahal, Desa Mandalahaji merupakan kawasan resapan penyangga Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

Pasokan air yang terbatas tentu merugikan para petani. Akibatnya, ketahanan pangan di desa ini menjadi terganggu. Untuk memperkuat ketahanan pangan, masyarakat Desa Mandalahaji pernah mendapat program Aksi Desa Mandiri Pangan yang dananya bersumber dari APBD II Tahun 2011. Tujuan program ini adalah untuk memberdayakan potensi masyarakat miskin secara optimal agar mampu mencapai kemandirian pangan rumah tangga.

Tahun 2012 ini, Pertamina Foundation memberi bantuan berupa 70.000 bibit pohon jabon dan kopi. Dengan melibatkan 27 petani dalam 27 lot di lahan seluas 35 hektare, ke-70.000 bibit pohon ini ditanam menggunakan sistem tabung pohon. Layaknya sebuah tabungan di bank, para petani yang berperan serta dalam program ini juga bisa ikut mengambil tabungan mereka dalam jangka panjang. Tabungan ini berupa hasil dari nilai ekonomi terhadap pohon yang mereka tanam tersebut.

Selain mendapatkan hasil berupa materi, masyarakat Desa Mandalahaji juga akan memperoleh manfaat berupa minimnya risiko terjadi kekeringan dan tanah longsor karena hutan mereka telah direboisasi. Dengan demikian, ketiga masalah di desa ini—yakni kemiskinan, tanah longsor, dan kekeringan—setidaknya bisa diatasi sekaligus dengan satu gerakan: menabung pohon.

Program Penghijauan dengan Konsep Baru dari Pertamina Foundation

7. Press Release-Mekarjaya (Sofyan)Jakarta—Sebagai wujud nyata dari program kepedulian sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), Pertamina Foundation melakukan penghijauan di Desa Mekarjaya, Kecamatan Pacet, Bandung, Jawa Barat. Bibit yang ditanam di wilayah ini mencapai 71.287 pohon. Program ini dilakukan bersama Koperasi Bumi Lestari dengan melibatkan 39 petani setempat yang terbagi dalam 39 lot. Adapun bibit yang dipilih adalah jabon dan kopi.

Desa Mekarjaya dipilih karena sebagian besar wilayahnya dikategorikan sebagai lahan kritis. Dari total 877 hektare luas desa yang ada, 441 hektare di antaranya merupakan tanah kering. Itu karena hutan di desa ini sudah mulai gundul, sehingga tanahnya tidak mampu menampung air ketika musim hujan tiba untuk memasok saat musim kemarau. Padahal, awalnya Desa Mekarjaya dan sekitarnya merupakan kawasan resapan sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

Sebenarnya, Pertamina Foundation tidak hanya melakukan penghijauan di Desa Mekarjaya. Desa-desa lain di wilayah Kabupaten Bandung juga dilakukan penghijauan. Yang menarik, konsep yang diterapkan bukan sekadar menanam bibit untuk menghijaukan hutan. Pertamina Foundation menerapkan konsep baru dalam menanam pohon, yaitu yang disebut “tabung pohon”.

Konsep ini, menurut Direktur Program Green Life Pertamina Foundation Wahyudin Akbar, bukan semata-mata menyelamatkan lingkungan dengan menanam pohon. Namun konsep ini juga mempertimbangkan agar dalam penanaman pohon ini, masyarakat mendapat keuntungan dari segi ekonomi, sehingga bisa membantu meningkatkan kesejahteraan mereka.

Tentu saja proses penanaman bibit dan pemeliharaannya membutuhkan biaya. Menurut perencanaan, total biaya penanaman dan pemeliharaan selama sekitar lima tahun hingga masa panen tiba sebesar Rp 15.000 per pohon.

Agar bisa belajar mandiri dan merasa ikut memiliki bibit yang ditanam, masyarakat juga dilibatkan dalam hal pembiayaan. Tentu saja tidak semuanya. Pertamina Foundation memberikan subsidi Rp 6.000 per pohon dengan bagi hasil 25 persen. Sisanya, sebesar Rp 9.000 per pohon, ditanggung penabung pohon dengan bagi hasil 25 persen. Sedangkan petani, pemilik lahan, dan pengelola mendapatkan bagi hasil 50 persen. “Dengan tingkat keberhasilan mendekati 100 persen, saya yakin program tabung pohon ini akan memberikan keuntungan kepada masyarakat, sekaligus melestarikan lingkungan,” ujar Wahyudin.

Langkah Awal Pertamina Foundation Menghijaukan Desa Mekarsari

8. Press Release-Mekarsari (Sofyan)Jakarta—Desa Mekarsari di Kecamatan Pacet merupakan salah satu desa mandiri Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Bahkan, tahun 2012 ini, Desa Mekarsari mendapat penghargaan sebagai Desa Peradaban ke-2 di wilayah Kabupaten Bandung. Itu menandakan desa ini telah dilengkapi berbagai fasilitas sosial yang sangat memadai seperti sarana olahraga, kesehatan, pendidikan, ibadah, hiburan, dan pusat perbelanjaan.

Masyarakat Desa Mekarsari pun telah memiliki tingkat ekonomi yang cukup baik. Pendapatan asli daerah ini mencapai lebih dari Rp 49,5 juta per tahun. Kemajuan desa ini tak lepas dari peran serta seluruh lapisan masyarakat untuk berusaha memajukan wilayah mereka dengan moto “berdikari”.

Dari data yang ada, desa seluas 610 hektare ini memiliki jumlah penduduk sebesar 7.414 orang. Dari jumlah itu, sekitar setengahnya, atau 3.768 orang, merupakan tenaga produktif. Mereka bekerja di berbagai bidang seperti pertanian, peternakan, perdagangan, pegawai negeri sipil, jasa, dan buruh pabrik. Dari semua jenis mata pencaharian ini, sebagian besar, atau 2.174 orang, menggantungkan hidup di bidang pertanian, baik sebagai pemilik lahan, petani penggarap, maupun buruh tani.

Penduduk Desa Mekarsari lebih banyak yang memilih sebagai petani karena lahan di daerah ini sangat mendukung. Namun, menurut data lembaga swadaya masyarakat Reksa Alam Indonesia, saat ini lahan subur di Desa Mekarsari mulai berkurang. Jumlah lahan yang dikategorikan sebagai lahan kritis mencapai 244 hektare, yang di dalamnya termasuk lahan perkebunan.

Sebagai langkah awal, Pertamina Foundation bersama masyarakat sekitar berusaha melakukan konservasi lahan hortikultura menjadi hutan produksi dengan metode tumpang sari pohon jabon dan kopi. Dalam program kali ini, pohon yang ditanam mencapai 5.000 bibit. Penanaman ini dilakukan melalui sistem “tabung pohon” di lahan seluas 2 hektare. Sistem ini merupakan buah inovasi Pertamina Foundation dalam penghijauan hutan. Sistem ini memiliki keunggulan tidak hanya untuk konservasi hutan, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang yang nilai ekonominya bisa dirasakan masyarakat sekitar.

Dengan langkah awal ini diharapkan akan muncul langkah-langkah selanjutnya untuk melakukan konservasi. Hal itu mengingat masih ada 242 hektare lagi yang menunggu untuk dilestarikan dan dihijaukan.

Meningkatkan Ekonomi dengan Menabung Ratusan Ribu Pohon

9. Press Release-Nagrak (Sofyan)Jakarta—Desa Nagrak, Kecamatan Pacet, Bandung, Jawa Barat, memiliki luas tanah 798 hektare Lahan ini terdiri atas tanah sawah, tanah kering, tanah basah, tanah hutan, dan tanah fasilitas umum. Sebagai wilayah agraris, sebagian besar tanah di desa ini dimanfaatkan untuk pertanian.

Namun, menurut data Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD), kebanyakan dari masyarakat di desa ini hanya sebagai buruh tani. Bisanya mereka hanya bekerja pada saat menjelang waktu panen. Sisanya, mereka mencari nafkah sebagai buruh di industri rumah tangga. Jumlah buruh tani di Desa Nagrak mencapai 1.183 orang dari total keseluruhan pekerja yang sebanyak 2.302 orang. Hal itu tentu saja memengaruhi tingkat ekonomi masyarakat di desa ini.

Untuk lebih memberdayakan ekonomi masyarakat di Desa Nagrak sekaligus melestarikan lingkungan, Pertamina Foundation melakukan gerakan “tabung pohon”. Ini adalah gerakan investasi jangka panjang yang hasilnya akan dimanfaatkan untuk kesejahteraan warga sekitar.

Adapun pelaksanaan gerakan ini adalah pemberian 102.070 bibit pohon kepada 60 petani pemilik lahan untuk dilakukan penanaman. Para pemilik lahan itu bisa bekerja sama dengan buruh tani dalam program ini. Sementara itu, biaya perawatan hingga pohon bisa dipanen mencapai Rp 15.000 per pohon. Biaya ini nantinya akan ditanggung oleh Pertamina Foundation. Namun tidak semuanya. Subsidi yang diberikan sebesar Rp 6.000 per pohon. Untuk menutupi sisanya, masyarakat diberi kesempatan untuk ikut bekerja sama melakukan investasi.

Apabila pohon yang ditanam sudah bisa dipanen, biasanya sekitar lima hingga enam tahun, mereka yang ikut andil dalam penanaman pohon ini akan mendapatkan bagian. Persentasenya ditetapkan pemilik lahan dan petani penggarap mendapat bagian sebesar 50 persen. Para investor akan memperoleh 25 persen. Sisanya akan dikelola Pertamina Foundation untuk dibelikan bibit lagi guna melakukan “tabung pohon” secara berkesinambungan dan untuk penanaman di tempat-tempat lain.

Menurut Direktur Program Green Life Pertamina Foundation Wahyudin Akbar, tingkat keberhasilan konsep ini mencapai hampir 100 persen. Ia menambahkan, selain menghijaukan lingkungan, program ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Konservasi Lahan untuk Penyangga DAS Citarum

10.Press Release-Cikawao (AS)Jakarta—Salah satu daerah penyangga terpenting Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Desa Cikawao membutuhkan perhatian serius. Cikawao yang berada di Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung Jawa Barat, dengan tingkat kemiringan 30-60 derajat  di ketinggian 859-1200 Mdpl merupakan daerah dengan potensi bencana alam yang tinggi.

Hal ini disebabkan karena di Cikawao sudah jarang terlihatnya pohon-pohon tegak di wilayah yang sudah dikategorikan sebagai lahan kritis, meski secara keseluruhan tanahnya tergolong subur. Luas lahan yang memerlukan konservasi dan penanganan komprehensif mencapai 223,603 ha dari total luas lahan Cikawao 443,603 ha.

Dengan luas hutan yang hanya 5,8 persen jauh di bawah luas sawah dan perkebunan sebesar 36,4 ha menjadikan masyarakat bergantung pada hasil panen dan tanaman holtikultura.  Produktivitas yang rendah, jika dilihat dari lahan kritis yang ada sebesar 26,8 persen, Cikawao tidak saja membutuhkan konservasi untuk perbaikan mutu lingkungan juga meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.

Salah satu langkah menyelamatkan DAS Citarum dan juga potensi terjadinya bencana alam serta sekaligus memperbaiki pendapatan masyarakat adalah dengan mengkonversi lahan hortikultura menjadi hutan produksi dengan metode tumpang sari pohon jabon dan pohon kopi.

Hingga saat ini, dari total 223,603 ha lahan kritis yang ada, dimana sebagiannya merupakan lahan perkebunan dan carik desa, Pertamina Foundation sudah merealisasikan penanaman sebanyak  70.000 pohon jabon di luas lahan 60 ha. Penanaman tersebut terbagi dalam 163 Lot dengan melibatkan 163 petani.

Langkah konvervasi Pertamina Foundation melalui program “Menabung Pohon” yang sudah dimulia pada periode Maret-April 2012 itu telah menumbuhkan harapan baru dari masyarakat Cikawao akan kondisi lingkungan yang lebih baik dan kesejahteraan yang meningkat.

Seperti diungkapkan Asmara, penggarap 648 pohon di luas lahan  6000 m2,  yang mengaku terlibat karena prihatin dengan kondisi gersang Cikawao dan demi kesejahteraan keluarga ikut terlibat dalam proyek ini.

Pasalnya, dengan biaya penanaman dan pemeliharaan yang hanya Rp 2.000, ketika panen lima tahun mendatang nilai pohon akan mencapai Rp 500.000-Rp 1.000.000. Artinya, Asmara saat panen akan mendapatkan sedikitnya Rp 3.000.000.000.

Dalam waktu dekat Pertamina Foundation akan kembali melakukan penanaman di luas lahan 163,603 ha untuk menutupi total lahan kritis yang tersisa.

Diblasting ke : KCM, ROL, ANTARA, Pikiran Rakyat

Reboisasi dengan Sistem Tabung Pohon

12. Press Release-Pakutandang (Sofyan)Jakarta—Kecamatan Ciparay adalah salah satu lumbung padi Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tak hanya mampu menyuplai persediaan beras regional, wilayah ini juga berpartisipasi memasok ketahanan pangan nasional. Tak kurang dari 10.000 ton per musim panen dihasilkan dari sekitar 4.200 hektare sawah di Kecamatan Ciparay, yang tersebar di 14 desa.

Salah satu desa yang berkontribusi terhadap persediaan beras ini adalah Desa Pakutandang. Desa ini juga menjadi pusat ternak domba di Kabupaten Bandung. Namun di balik banyaknya potensi itu, 60 hektare dari total 337 hektare lahan Desa Pakutandang dinyatakan kritis. Tanahnya kering.

Selain itu, kawasan desa ini berpotensi longsor. Hal ini terjadi karena hutan di sana banyak yang gundul. Salah satu kondisi terparah terjadi pada 2008, tepatnya di Bukit Cula, Dusun Kadaleman, Desa Pakutandang. Ketika itu, kondisi hutan di bukit ini hampir 80 persennya habis dibabat warga untuk dijadikan lahan pertanian atau untuk kayu bakar. Padahal di bawah bukit ini terdapat ratusan rumah warga. Terdapatnya batu-batu besar di beberapa bagian bukit juga semakin mengancam jiwa penduduk di bawahnya jika terjadi longsor.

Pemerintah daerah setempat pun menggalakkan program penghijauan. Kini, Pertamina Foundation juga berperan serta secara aktif membantu menghijaukan kawasan Desa Pakutandang dengan menanam 33.250 bibit pohon jabon dan kopi. Penghijauan ini melibatkan 47 petani yang terbagi dalam 47 lot.

Berbeda dengan penghijauan yang pernah dilakukan di Desa Pakutandang, Pertamina Foundation menerapkan reboisasi hutan ini dengan sistem “tabung pohon”. Jadi, selain untuk menghijaukan kembali hutan yang gundul, program ini juga dimaksudkan sebagai tabungan atau investasi. Pohon yang ditanam nantinya akan bisa dipanen oleh para petani ataupun mereka yang ikut berinvestasi dalam program ini.

Program “tabung pohon” ini disambut positif oleh masyarakat Desa Pakutandang. Ai Suryati, misalnya. Dalam program ini, ia mendapat 40 bibit pohon jabon, yang ditanam di lahan seluas 700 meter persegi. Jika lima tahun lagi ke-40 bibit ini sudah tumbuh besar dan bisa dipanen, setidaknya Ai akan mendapat Rp 40 juta, jika asumsi harga per pohonnya sekitar Rp 1 juta.

Ia sangat yakin investasinya ini akan berhasil. “Terima kasih, jabon. Nantinya saya bisa beunghar (kaya),” ujarnya penuh semangat.

Mengatasi Lahan Kritis dengan Metode Tumpang Sari

13. Press Release-Sukarame (Sofyan)Jakarta—Desa Sukarame, Kecamatan Pacet, Bandung, Jawa Barat, adalah salah satu desa yang merupakan bagian dari hulu Sungai Citarum. Namun desa seluas 2.799 hektare ini dikategorikan sebagai salah satu lahan kritis di Kabupaten Bandung.

Jumlah lahan kritis di Desa Sukarame mencapai 357 hektare. Lahan kritis ini berupa lahan kering dan bahkan retak-retak ketika musim kemarau tiba. Ditambah dengan banyaknya lahan yang miring, desa ini sangat rawan terjadi tanah longsor apabila hujan lebat tiba. Ini karena kurangnya tanaman yang mampu menahan dan menyerap air ketika hujan datang.

Selama ini, masyarakat sekitar lebih memilih memanfaatkan hutan yang ada untuk dialihfungsikan sebagai areal persawahan atau perkebunan. Mereka lebih senang menanam sayur-mayur karena masa panennya cepat dan hasilnya lebih banyak dibutuhkan masyarakat.

Dari analisis permasalahan yang ada di Desa Sukarame, Pertamina Foundation mencoba membuat sebuah solusi. Solusi ini bertujuan menciptakan masyarakat yang produktif dan ramah lingkungan. Salah satu cara yang telah dilakukan adalah konversi lahan  hortikultura menjadi hutan produksi dengan metode tumpang sari pohon jabon dan kopi.

Hingga saat ini, dari 357 hektare lahan kritis yang ada, yang termasuk di dalamnya lahan produktif, nonproduktif, dan perkebunan, Pertamina Foundation telah melakukan konservasi sebanyak 36,5 hektare dengan 73.000 bibit. Program ini melibatkan 27 petani yang terbagi ke dalam 27 lot.

Program ini memang baru bisa menangani sekitar 10 persen lahan kritis yang ada di Desa Sukarame. Tapi, ke depan, Pertamina Foundation akan terus berusaha memperluas konservasi lahan untuk mengurangi lahan kritis yang ada.

Menurut Direktur Program Green Life Pertamina Foundation Wahyudin Akbar, pihaknya akan terus melakukan konservasi lingkungan dengan melakukan penanaman pohon. “Kami akan terus melakukan penanaman pohon dengan sistem tabung pohon,” ujarnya.

Ia menambahkan, program tabung pohon ini merupakan konsep baru penghijauan. Disebut tabung pohon karena program ini tidak hanya untuk melestarikan lingkungan, tetapi juga sebagai investasi. Jika masa panen tiba, masyarakat juga berhak mendapatkan nilai ekonomi dari penanaman pohon tersebut.

Verifikasi dan Pencacahan Hutan untuk Kelestarian Alam

14. Press Release-Konawe (Sofyan)Jakarta—Selama ini, di hutan di Konawe Selatan, Sulawesi Selatan, sering terjadi pembalakan liar. Hal itu terjadi karena kurang adanya pengawasan terhadap pohon-pohon yang ada di kawasan ini. Untuk meminimalisasi penebangan liar, masyarakat sekitar yang tergabung dalam Koperasi Hutan Jaya Lestari bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat dan Pertamina Foundation melakukan verifikasi serta pencacahan pohon di hutan Konawe Selatan.

Tujuan dari pelaksanaan program ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai jumlah tanaman yang ada. Kegiatan ini juga bertujuan mengecek batas-batas areal yang telah ditentukan, baik areal yang merupakan hutan tanaman rakyat maupun hutan milik anggota Koperasi Hutan Jaya Lestari.

Metode yang digunakan dalam program verifikasi dan pencacahan ini adalah dengan menghitung semua populasi tanaman. Selama pencacahan juga dilakukan pengambilan titik-titik koordinat lokasi lahan. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai lokasi, jumlah, dan jenis tanaman terhadap seluruh areal pencacahan.

Adapun obyek yang diamati adalah pokok tanaman yang terdapat di lokasi. Variabel yang diamati dalam pencacahan ini adalah jenis tanaman hidup (tertanam) dan tanaman mati atau kosong. Untuk menunjang kegiatan ini,

Perlengkapan yang digunakan untuk pelaksanaan sensus di lapangan ini antara lain alat-alat tulis, alat penentu koordinat (GPS), papan alas form, peralatan dokumentasi, papan atau pelang foto, dan perangkat komputer. Agar memudahkan sensus ini, program ini juga melibatkan masyarakat sekitar. Ini karena merekalah yang lebih mengetahui medan dan batas-batas wilayah yang ada.

Untuk tahap awal, kawasan hutan yang telah diverifikasi antara lain areal blok IX di dalam Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Rakyat Koperasi Hutan Jaya Lestari. Selain itu, verifikasi juga dilakukan di areal hutan milik masyarakat yang merupakan anggota Koperasi Hutan Jaya Lestari yang berlokasi di Desa Lambakarra di Kecamatan Laeya dan Desa Pamandati serta Desa Aoreo di Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan. Kegiatan verifikasi dan pencacahan ini berlangsung sejak 9 sampai 18 Juli 2012.

Diharapkan nantinya seluruh hutan di Konawe dapat dilakukan verifikasi dan pencacahan. Hal ini agar pembalakan liar tidak terjadi lagi. Ini juga sekaligus untuk memudahkan pengawasan hutan agar tetap lestari.

17 Sekolah Adiwiyata Menyabet Gelar Sekolah Sobat Bumi

15sbb copyJAKARTA—17 Sekolah Penerima Adiwiyata berhasil menyabet predikat Sekolah Sobat Bumi (SSB) Champion.  Program adopsi sekolah Adiwiyata dari Pertamina Foundation ini selanjutnya akan mendapatkan pendampingan program untuk melaksanakan empat proyek di bidang lingkungan. Selain itu, sekolah ini juga diwajibkan membina 10 sekolah lainnya untuk dipromosikan menjadi calon penerima Adiwiyata dari Kementrian Lingkungan Hidup.

Ketua Dewan Juri seleksi Sasmita Nugroho mengakui, 25 peserta yang telah melakukan presentasi proposal pada Senin dan Selasa (9-10/1/2012) lalu memiliki kualifikasi yang sama baik. Selain mereka telah lolos seleksi tahapa awal dari 56 sekolah, ke-25 sekolah ini adalah para pemenang Adiwiyata yang sebelumnya juga terseleksi secara ketat dari Kementerian Lingkungan Hidup.

“Kami sulit menentukan karena berkualitas semua. Tapi, tentu tetap ada yang terbaik. Itu yang kita pilih. Komitmen untuk berbagi dan mengajarkan pada sekolah lain juga menjadi pertimbangan penting” katanya.

Ia berharap, dengan ditetapkannya 17 sekolah Adiwiyata menjadi Sekolah SSB Champion, akan muncul sekolah lain yang berbudaya lingkungan. Apalagi, keempat proyek yang dijalankan di sekolah yakni energi terbarukan, tabung pohon, pengelolaan limbah dan transportasi ramah lingkungan merupakan hal-hal yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan warga sekolah.

Berikut 17 sekolah  Adiwiyata penyandang gelar SSB Champion dari Pertamina Fondation: SD Banjar Jati 9 Bogor; SD Citra Alam, Ciganjur Jakarta; SDN Benhil Jakarta Pusat; SDN 5 Bukit Raya, Riau; SDN 4 Metro Timur, Lampung; SDN Ungaran I, Yogyakarta; dan SDN 3,  Balikpapan.

Sedangkan kolompok SMP adalah SMPN 1, Balikpapan; SMPN 1 Kedamean Gresik, Jawa Timur; SMPN 7, Bandung; SMPN 4 Mendoyo, Bali; SMPN 10, Sukabumi. Untuk kelompok SMA diraih oleh SMAN 2 Probolinggo; SMKN 1 Probolinggo; SMK3 Sukabumi; SMAN 10 Malang; SMAN 5 Denpasar.

Kepala SDN 4 Metro Timur, Lampung Murti Siswanti mengaku bangga menjadi salah satu penerimaa SSB Pertamina Foundation.  Selain lebih bisa mengembangkan budaya lingkungan di sekolahnya, program SSB ini juga menjadi jembatan untuk mentransfer pembiasaan ramah lingkungan melalui pembinaan di sekolah-sekolah lain agar berbudaya lingkungan. “Secara SDM kami siap untuk membimbing sekolah lain karena melibatkan semua pihak. Sosialisasi juga kami lakukan dari pemda sampai orang tua murid,” ujarnya.

Dihubungi terpisah Kepala Sekolah SMPN 1 Balipapan Ismaji mengakui program SSB Pertamina Foundation berbeda dengan program sejenis lainnya. Sebab, SSB mengharuskan penerima program melakukan pembinaan pada sekolah lain, sehingga semakin tersebar sekolah yang berbudaya lingkungan. Walaupun sekolahnya kini telah melakukan pembinaan pada sekolah lain, Ismaji optimis, SSB dapat berhasil karena sekolah mendapatkan pembinaan langsung dari para ahli lingkungan. “Jadi kurikulum dan sasarannya jelas,” pungkas Ismaji.

Pertamina Foundation Jaring Mahasiswa Berprestasi di 17 PTN

16.Press Release-BeasiswaSobatBumi (17 PTN) copyJAKARTA—Pertamina Foundation menjaring mahasiswa berprestasi di 17 Perguruan Tinggi Negeri di seluruh Indonesia. Beasiswa bagi 205 mahasiswa ini tidak saja mensyaratkan nilai akademik tetapi juga yang memiliki wawasan dan berbudaya lingkungan.

“Kami ingin memberikan kesempatan lahirnya calon-calon pemimpin bangsa yang mampu menerapkan dan mengajak orang lain untuk berbudaya lingkungan,” demikian ditegaskan Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono, di Jakarta.

Sesuai dengan tujuan tersebut, lanjut Nina, maka program ini dinamakan Beasiswa Sobat Bumi Pertamina Foundation. Program Beasiswa Sobat Bumi Pertamina Foundation dihadirkan untuk mendukung terwujudnya kehidupan dan budaya ramah lingkungan di kalangan mahasiswa.

Untuk itu, selain persyaratan umum seperti nilai akademis, menjalani tes potensi akademi (TPA), mendapatkan rekomendasi dari Perguruan Tinggi tempat calon mahasiswa mengambil studi, mahasiswa juga harus menunjukkan potensi untuk menjadi pemimpin, wirausahawan, akademisi dan aktifis lingkungan hidup. “Hal ini yang membedakan Beasiswa Sobat Bumi dengan beasiswa lainnya,” tegas Nina.

Beasiswa Sobat Bumi Pertamina Foundation, katanya, kelak diharapkan menjadi calon pemimpin formal maupun informal yang berwawasan lingkungan, memiliki kemampuan untuk berwirausaha atau menjadi pemimpin di bidang akademik. “Karenanya mereka harus memiliki komitmen terhadap pembangunan masyarakat, khususnya dalam gerakan pendidikan nasional dan lingkungan hidup”” katanya.

Sedangkan 17 Perguruan Tinggi yang menjadi sasaran beasiswa ini adalah Universitas Syiah Kuala (Aceh), Universitas Sumatera Utara (Sumatera Utara), Universitas Sriwijaya (Sumatera Selatan), Universitas Indonesia (DKI Jakarta), Institut Teknologi Bandung (Jawa Barat).

Kemudian, Universitas Padjajaran (Jawa Barat), Institut Pertanian Bogor (Jawa Barat), Universitas Gadjah Mada (DIY), Universitas Diponegoro (Jawa Tengah), Institut Teknologi Sepuluh November (Jawa Timur) , Universitas Brawijaya (Jawa Timur), Universitas Airlangga (Jawa Timur), Universitas Udayana (Bali), Universitas Mulawarman (Kalimantan Timur), Universitas Hasanuddin (Sulawesi Selatan), Universitas Mataram (Nusa Tenggara Barat) dan Universitas Cendrawasih (Papua).

Pertamina Foundation Buka Relawan “Guru Sobat Bumi” ke Malaysia

28.Press Release-Guru Sobat Bumi copyJAKARTA—Jumlah anak-anak Indonesia yang mengalami buta huruf di Malaysia saat ini tidak kurang dari 59.000 orang. Sebanyak 49.000 diantaranya merupakan putra-putri Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tersebar di Sabah.

“Inilah yang menjadi target kami, mereka harus melek huruf agar memiliki masa depan,” tandas Ahmad Rizali Direktur Pendidikan Pertamina Foundation di Jakarta, Selasa (12/2).

Pemberantasan buta huruf yang dilakukan salah satunya adalah dengan mengirimkan langsung relawan “Guru Sobat Bumi” ke titik-titik dimana anak-anak buta huruf berada. Mengingat luasnya kawasan Sabah, maka akan disebar tidak kurang dari 20 guru.

“Mereka adalah para relawan guru dan tenaga pengajar. Karenanya, kami menyebut kegiatan ini Program “Guru Sobat Bumi”,” kata Ahmad.

Dijelaskan Ahmad, relawan “Guru Sobat Bumi” akan tinggal di lokasi selama 9 bulan hingga setahun dengan target membantu pengajaran membaca anak usia sekolah dan pembelajaran murid SD kelas 1 sampai dengan kelas 3, dengan jumlah sedikitnya 5.000 anak.

Pembukaan Relawan Guru Sobat Bumi,  lanjut Ahmad, akan dilakukan pada pertengahan Februari 2013 melalui website www.beasiswa-sobatbumi.com.  Adapun seleksi dari tim independen berlangsung hingga akhir Februari 2013. “Guru Sobat Bumi” ini terbuka bagi umum dan lebih diutamakan para penerima beasiswa Pertamina Foundation dan juga alumninya.

“Kami juga membuka kesempatan bagi alumni pendidikan guru Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidik atau LPTK serta S1 lainnya. Yang penting semua calon harus memiliki jiwa pionir dan tahan uji,. Kesempatan ini berlaku bagi pria dan wanita” kata Ahmad.

Para calon relawan yang dinyatakan lulus, sambung Ahmad, akan dibekali pelatihan dasar mengajar selama 40-56  jam dari tim trainer Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan latihan survival dari TNI AD. Serangkaian pelatihan tersebut akan mulai dilaksanakan pada awal Mei 2013.

“Selain itu, peserta juga akan mendapatkan ongkos pengurusan paspor, semua urusan imigrasi, tiket pesawat PP, biaya hidup serta akomodasi selama 9 bulan hingga setahun.

Dikatakan, relawan guru akan mulai diberangkatkan pada peterengahan Agustus 2013 dan mulai mengajar paling lambat di awal September  2013.

Anugerah Riset Sobat Bumi Bagi 55 Peneliti

25.Press Release-Anugerah Penelitian copyJAKARTA—Para peneliti di Indonesia mendapatkan kesempatan luas untuk memperoleh  dukungan dana bagi risetnya. Peluang ini terbuka bagi 55 peneliti terbaik yang akan menyelesaikan tugas akhir untuk skripsi, tesis maupun disertasi. Selain para mahasiswa, peluang sama juga diberikan bagi para maestro yang akan melakukan riset dengan penelitian mandirinya.

“Kami ingin mendorong munculnya peneliti-peneliti dengan hasil riset terkait dengan pilar Education for Sustainable Development (ESD),” terang Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono di Jakarta, Senin (18/2).

Yang dimaksud dengan pilar ESD, lanjut Nina, adalah ekologi atau alam, sosial, budaya, ekonomi dan kesejahteraan. Adapun anugerah riset bagi topik-topik yang disediakan Pertamina Foundation tersebut berlaku selama selama tahun 2013 dengan nilai total tidak kurang dari Rp 1,3 milyar untuk 55 peneliti.

Lebih lanjut dikatakan, dari nilai total anugeah tersebut, rentang hadiah yang diberikan bagi setiap peneliti antara Rp 10-50 juta, yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan. “Salah satu kunci penilaian adalah jika penelitian yang dilakukan mampu mengintegrasikan setiap topik dalam pilar ESD,” kata Nina.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Ahmad Rizali menegaskan, seleksi akan dilakukan secara ketat oleh tim pakar di bidang masing-masing yang merupakan juri independen. “Kalau lulus ditahap ini, mereka diminta mempresentasikan proposalnya dihadapan dewan juri,” katanya.

Proses awal penjurian adalah peserta diminta untuk mengirimkan proposal penelitiannnya via email  ke Sekretaris Panitia (anugrah.risetsobatbumi@gmail.com) mulai 5 Maret 2013.  Adapun syarat dan ketentuan dapat dilihat melalui www.beasiswa-sobatbumi.com mulai tanggal 25 Februari 2013.

“Untuk yang lulus seleksi proposal, kami akan undang untuk presentasi pada pekan akhir Maret 2013. Sedangkan pemenang anugerah riset diumumkan pada pekan kedua April ,” tandas Ahmad.

Pertamina Foundation Buka Beasiswa Sobat Bumi

17.Press Release-BeasiswaSobatBumi (Pendaftaran) copyJAKARTA—Pertamina Foundation akan membuka Beasiswa Sobat Bumi awal Oktober 2012. Pengumuman beasiswa yang secara khusus menjaring mahasiswa berprestasi dan sekaligus berwawasan dan berbudaya lingkungan ini dapat dilihat di portal www.beasiswa-sobatbumi.com.

Beasiswa Sobat Bumi diperuntukkan bagi mahasiswa di 17 Perguruan Tinggi Negeri yang telah menyelesaikan semester empat. Total mahasiswa yang akan dijaring tahun ini berjumlah 205 mahasiswa. Sedangkan beasiswa yang saat ini masih dikelola Pertamina Foundation sebanyak 49 mahasiswa.

“Jumlah tersebut di luar beasiswa Laskar Pelangi sebanyak tiga orang dan tiga orang beasiswa untuk mahasiswa berprestasi dari luar negeri” terang Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali di Jakarta.

Dijelaskan Ahmad, para penerima Beasiswa Sobat Bumi akan mendapatkan biaya pendidikan yang meliputi biaya operasional pendidikan, sumbangan pembinaan pendidikan dan bantuan biaya hidup. “Total beasiswa yang didapat masing-masing mahasiswa sekitar Rp 12,3 juta setahun,” katanya.

Yang membedakan Beasiswa Sobat Bumi, menurut Ahmad adalah mahasiswa mendapatkan dukungan proyek kelompok dengan nominal ratusan juta per tahun. Mahasiswa juga akan mendapatkan dukungan tugas akhir  yang terseleksi sekitar Rp 15 juta.

Selain itu, mahasiswa ini juga diberikan kesempatan untuk menjadi sukarelawan di Pertamina Foundation. Untuk menjalin keakraban dan sinergi dengan para penerima beasiswa lain, Pertamina Foundation juga memfasilitasi pertemuan tahunan bagi para penerima beasiswa Pertamina Foundation di seluruh Indonesia. “Yang terpenting, mereka juga akan mendapatkan pelatihan kepemimpinan,” tegas Ahmad.

17 Perguruan Tinggi yang menjadi sasaran Beasiswa Sobat Bumi adalah Universitas Syiah Kuala (Aceh), Universitas Sumatera Utara (Sumatera Utara), Universitas Sriwijaya (Sumatera Selatan), Universitas Indonesia (DKI Jakarta), Institut Teknologi Bandung (Jawa Barat).

Kemudian, Universitas Padjajaran (Jawa Barat), Institut Pertanian Bogor (Jawa Barat), Universitas Gadjah Mada (DIY), Universitas Diponegoro (Jawa Tengah), Institut Teknologi Sepuluh November (Jawa Timur) , Universitas Brawijaya (Jawa Timur), Universitas Airlangga (Jawa Timur), Universitas Udayana (Bali), Universitas Mulawarman (Kalimantan Timur), Universitas Hasanuddin (Sulawesi Selatan), Universitas Mataram (Nusa Tenggara Barat) dan Universitas Cendrawasih (Papua).

Pertamina Foundation Bantu Pemberantasan Puluhan Ribu Buta Huruf di Malaysia

18. Press Release-Buta Huruf copySURABAYA—Saat ini lebih dari 20 juta penduduk Indonesia masih belum dapat membaca apalagi menulis. Dari jumlah itu diperkirakan 59.000 berasal dari putra-putri Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Anak-anak ini terabaikan pendidikannya tanpa pelajaran membaca, tanpa pendidikan menulis, dan tanpa bimbingan berhitung.

“Menyadari kondisi seperti itu Pertamina Foundation terpanggil untuk berbuat sesuatu. Kami ingin anak-anak TKI juga mempunyai hak atas pendidikan,” tegas Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono di Surabaya (25/11) saat secara resmi mengirimkan 13.000 buku pemberantasan buta huruf ke Sabah Malaysia.

Pertamina Foundation menggandeng Ikatan Guru Indonesia (IGI) dalam teknis pelaksanaan pemberantasan buta huruf di Malaysia tersebut.  Program pemberantasan buta huruf putra-putri TKI di Sabah Malaysia ini terdiri dari empat program.

Pertama, Bantuan Buku Sekolah Elektronik (BSE) untuk SD dan Buku Pemberantasan Buta Huruf. Kedua, ToT “Effective and Basic Teaching” yakni meningkatkan kualitas guru-guru di Sabah Malaysia dengan training. Ketiga, pengiriman guru bantu dan Keempat, Bantuan alat bantu belajar dan sarana transportasi.

Dikatakan Nina, untuk tiga program pertama dilaksanakan hingga satu tahun ke depan, dengan nilai total tidak kurang dari Rp 1 milyar. Untuk pengiriman 13.000 buku ini terdiri dari Buku Sekolah Elektronik dan Buku Pemberantasan Buta Huruf. “Kami merasa prihatin dengan kondisi anak-anak TKI di Malaysia. Karenanya kami ingin membantu upaya yang juga dilakukan oleh pemerintah”  lirih Nina.

Sekjen IGI Muhammad Ihsan menyambut baik program Pertamina Foundation ini dan siap untuk mengirimkan tenaga-tenaga pendidik terbaiknya. Senada dengan Nina, Ihsan juga miris melihat anak-anak TKI di Malaysia jauh dari akses pendidikan.

Paling tidak di Sabah saja saat ini ada sekitar 40.000 anak-anak TKI yang tidak terurus. Sedangkan ribuan lainnya tersebar di Sarawak hingga Semenanjung dengan total mencapai 59.000 anak buta huruf. “Sebagian besar dari mereka adalah buruh dari perkebunan sawit,” tandasnya.

Ihsan menambahkan, program Pertamina Foundation adalah bentuk nyata dukungan terhadap upaya pemberantasan buta huruf dari pemerintah yang belum maksimal. Sebab, selama ini anak-anak TKI memang dilarang Pemerintah Malaysia untuk bersekolah formal.

Akibatnya, lanjut Ihsan, anak-anak tersebut hanya dapat mengakses pendidikan tidak resmi semacam kursus atau community learning centre (CLC). Itupun hanya diizinkan berdiri di area ladang sawit. “Satu-satunya yang diijinkan di luar ladang sawit hanya Sekolah Indonesia Kota Kinabalu atau SIKK,” ujar Ihsan.

Karenanya, Ihsan meyakini, terobosan yang dilakukan Pertamina Foundation akan membantu begitu banyak anak-anak TKI untuk dapat mengakses pendidikan. Setelah pengiriman buku, saat ini IGI juga tengah mempersiapakan materi untuk training bagi 60 guru di Malaysia.

“Proses seleksi 25 guru yang akan dikirim ke Malaysia juga sedang berlangsung. Mereka akan mengajar di Malaysia selama periode satu tahun,” jelas Ihsan.

Pertamina Foundation Siapkan Rp 2,5 Milyar untuk Beasiswa Sobat Bumi

19. Press Release-BeasiswaSobatBumi copyJakarta—Pertamina Foundation menyiapkan dana Rp 2,5 milyar untuk Program Beasiswa Sobat Bumi di tahun 2013. Dana sebesar itu diperuntukkan bagi 205 mahasiswa berprestasi yang memiliki kepedulian dan rekam jejak terhadap lingkungan.

Saat ini proses seleksi yang dimulai sejak September 2012  melalui pendaftaran di situs www.beasiswa-sobatbumi.com telah tuntas dilaksanakan di 16 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan terpilih 200 mahasiswa. Sedangkan satu PTN lain, yakni Universitas Cendrawasih baru akan menyelesaikan seleksi untuk menentukan lima mahasiswa penerima beasiswa awal Desember 2012 mendatang.

Peminat Beasiswa Sobat Bumi terbilang besar. Dari data yang masuk, teregister sebanyak 4.620 mahasiswa. Dari jumlah itu yang dinyatakan lolos administrasi dan layak untuk meneruskan tahapan wawancara sebanyak 410 mahasiswa.

Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali, Jumat (23/11) ini mengatakan, ada beberapa alasan  mengapa peminat Beasiswa Sobat Bumi begitu besar. Diantaranya, Pertamina Foundation selain memberikan  fasilitas berupa pembiayaan studi, biaya hidup, juga membiayai proyek kelompok yang bertemakan lingkungan dan pendidikan.

“Yang istimwea para penerima  Beasiswa Sobat Bumi akan diberikan Pelatihan Kepemimpinan dan secara otomatis tergabung dalam ikatan keluarga Pertamina Foundation Scholars yang tersebar dari Sabang sampai Merauke,” katanya.

Lebih dari itu, tegas Ahmad para penerima beasiswa juga diberikan kesempatan untuk menjadi volunteer di setiap kegiatan yang dilakukan Pertamina Foundation. Itulah sebabnya, para penerima beasiswa ini harus memiliki kriteria khusus selain nilai akademik.

Dari 200 mahasiswa yang kini telah diterima dalam Program Beasiswa Sobat Bumi, kesemuanya memiliki rekam jejak dan kepedulian tinggi terhadap pelestarian lingkungan. Sebagian besar dari mereka tergabung dalam LSM Lingkungan dan Pramuka.  “Yang kami cari adalah mahasiswa dan mahasiswi aktivis kampus, tidak hanya si jenius dengan IPK 4 yang tidak melakukan apa-apa selain belajar”, tegas Ahmad.

Dalam waktu dekat, para penerima beasiswa Sobat Bumi akan dipertemukan dalam kegiatan “Gathering Pertamina Foundation Scholars” yang rencananya akan dilaksanakan pada  13 hingga 15 Desember 2012 di kawasan Pertamina Geothermal Energy, Kamojang, Jawa Barat.

Berikut jumlah penerima beasiswa di 16 PTN. Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) 10 mahasiswa, Universitas Sumatera Utara (USU) 8 mahasiswa, Universitas Sriwijaya (Unsri) 12 mahasiswa, Institut Teknologi Bandung (ITB) 6 mahasiswa, Universitas Padjadjaran (Unpad) 16 mahasiswa, Institut Pertanian Bogor (IPB) sebanyak 18 mahasiswa, Universitas Indonesia (UI) 22 mahasiswa, Universitas Gadjah Mada (UGM) 16 mahasiswa, Universitas Diponegoro (Undip)  14 mahasiswa, Universitas Brawijaya (UB) 5 mahasiswa, Universitas Airlangga (Unair) 18 mahasiswa, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) 18 mahasiswa, Universitas Udayana (Udayana)  13 mahasiswa, Universitas Mataram (Unram) 6 mahasiswa, Universitas Mulawarman (Unmul)  5 mahasiswa, Universitas Hasanuddin (Unhas)  13 mahasiswa.

Pemberdayaan Generasi Muda Sebagai Duta Lingkungan

20. Press Release-PraGathering copyJAKARTA—Salah satu Program Pertamina Foundation adalah menabung Pohon. Program ini, selain bisa melestarikan lingkungan, masyarakat sekitar juga dapat merasakan manfaatnya dari segi ekonomi melalui pola bagi hasil.

Untuk lebih menyosialisasikan program menabung pohon ini kepada masyarakat, Pertamina Foundation menggandeng 200 penerima Beasiswa Sobat Bumi Pertamina Foundation (BSBPF) dari 17 universitas di Indonesia. Selain itu, untuk memberikan pemahaman lebih mendalam tentang konsep Menabung Pohon, Pertamina Foundation juga mengundang 100 relawan yang berasal dari seluruh Indonesia.

Kegiatan Gathering BSBPF yang dijadikan satu dengan Jambore Menabung Pohon ini pada 13-15 Desember 2012 di Kompleks Pertamina Geothermal Energy Area Kamojang, Garut, Jawa Barat ini diharapkan dapat menjadi sarana yang efektif baik bagi mahasiswa maupun para relawan untuk mengimplementasikan gerakan Menabung Pohon di seluruh Indonesia.

Pada acara gathering, penerima BSBPF akan mendapat pelatihan seputar kepemimpinan. Melalui program ini pula, para penerima BSBPF akan dibekali pengetahuan untuk melakukan aktivitas berjejaring sosial.

Hal ini dimaksudkan agar para penerima BSBPF dapat dengan mudah bersosialisasi di antara mereka sendiri ataupun dengan masyarakat luas, baik melalui media virtual menggunakan internet maupun dengan terjung langsung ke lapangan.

Dengan acara gathering dan jamboree seperti ini diharapkan dapat menjadi langkah awal terciptanya “bank” sumber daya manusia yang terampil di bidang kelestarian lingkungan.

Setelah mendapat pelatihan tentang lingkungan, para penerima penerima BSBPF dan relawan akan melakukan praktik menabung pohon untuk menggenapi penanaman pohon di kawasan itu menjadi sebanyak 55.000 batang.

Penanaman pohon ini dilakukan di kawasan Pertamina Geothermal Energy di Kamojang yang menjadi sumber resapan air di Daerah Aliran Sungai Citarum. Acara ini sekaligus merupakan rangkaian peringatan ulang tahun PT Pertamina (Persero) ke-55.

Pertamina Foundation yakin, dengan melibatkan generasi muda dan juga relawan untuk menjadi duta dalam kelestarian lingkungan, negara ini akan menjadi bangsa yang lebih peduli dan mampu hidup bersinergi dengan alam.

Ratusan Relawan Deklarasikan Menabung 1 Milyar Pohon

21. Press Release-Jambore Beasiswa copyJakarta—Tidak kurang dari 100 relawan menabung pohon dari seluruh Indonesia, Sabtu (16/12), di Kawasan Pertamina Geothermal  Energy Kamojang, Garut, Jawa Barat, mendeklarasikan Menabung 1 Milyar Pohon. Deklarasi Kamojang ini terinspirasi Gerakan Menabung Pohon (GMP)  yang digagas Pertamina Foundation.

GMP adalah sebuah gerakan yang  mememberdayakan masyarakat—diharapkan yang memiliki tingkat kesejahteraan rendah—untuk mengusahakan hutan melalui produksi kayu dan penjualannya pada pasar lokal guna meningkatkan pendapatan masyarakat. Untuk mendukung hal tersebut, GMP tidak saja mengandalkan relawan, tetapi juga lembaga pendidikan, dan juga bisnis.

“Namun, keberpihakan kepada masyarakat luas menjadi prioritas program ini dengan melibatkan berbagai stakeholder yang peduli terhadap lingkungan dan ekonomi,” Wakil Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Wahyudin Akbar.

Deklarasi yang dilakukan sebelum penanaman 1000 pohon untuk melengkapi penanaman 55.000 pohon di kawasan  tersebut juga dilakukan oleh 208 mahasiswa penerima Beasiswa Sobat Bumi Pertamina Foundation. Deklarasi ini dicetuskan setelah selama tiga hari (13-15/Desember) mereka berkumpul untuk memperkuat jaringan sesama relawan dan menyelaraskan aksi dalam sebuah Jambore GMP.

Dikatakan Wahyudin, Jambore GMP ini  sangat penting untuk menemukan sistem yang tepat Menabung Pohon, karena akan direplikasi ke tempat-tempat lain di seluruh Indonesia. Dalam jambore, semua pihak melakukan langkah konsolidasi untuk merapatkan barisan dalam merencanakan secara partisipatif, mengimplementasikan secara kolaboratif dari prakarsa-prakarsa yang sudah ada maupun yang belum.

“Konsolidasi berbagai pemangku kepentingan secara sistematis akan mengundang para pelaku mulai dari sisi hulu sampai dengan hilir sehingga keberlanjutan proses dan rantai terus terjaga dengan mengupayakan kondisi win-win,” tegasnya.

Progam Menabung Pohon yang telah dijalankan Pertamina Foundation sejak 2011, saat ini telah melibatkan sedikitnya 100 relawan, 2500 petani sekaligus pemilik lahan. Demi keterbukaan dan transparansi, publiK dapat mengakses www.twitgreen.com untuk mengetahui proses penabungan pohon yang telah dilakukan. Hingga data terakhir, Rabu (13/11)  terapat 57 juta pohon yang siap untuk ditanam

Sementara itu Direktur Greenlife Lendo Novo mengatakan, Jambore ini memiliki nilai strategis untuk meningkatkan  pemahaman serta kesadaran akan pentingnya gerakan menabung pohon bagi pembangunan manusia yang berkelanjutan ke dalam aksi-aksi nyata.

Lebih jauh dari itu, lanjut Lendo, peserta dapat merumuskan metode menabung pohon yang efektif, efisien dan applicable dalam konteks jangka pendek, menengah dan panjang.

“Esensi paling utama adalah terbentuknya jaringan kerja sosial (social networking) yang mampu menggerakkan dan memobilisasi, sehingga berbagai sumber daya khususnya inisiatif dan aksi gerakan menabung pohon dapat diaplikasi,” terang Lendo.

Beasiswa Sobat Bumi Lahirkan Calon Pemimpin Lingkungan

22. Press Release-Gathering Beasiswa copyJakarta—Para penerima Beasiswa Sobat Bumi Pertamina Foundation angkatan kedua tahun 2012 memperoleh pembekalan kepemimpinan selama tiga hari dari tanggal 13-15 Desember 2012 di Kawasan Pertamina Geothermal Energy, Kamojang, Garut, Jawa Barat.  Pembekalan dimaksudkan agar penerima beasiswa kelak, setelah lulus dapat menjadi pemimpin di masyarakat.

Dalam merekrut beasiswa tahun 2012, Pertamina Foundation tidak semata melihat sisi akademis calon mahasiswa. Dalam seleksi mahasiswa yang diselenggarakan sejak Oktober-November 2012, aspek penting yang dipertimbangkan adalah rekam jejak mahasiswa dalam keorganisasian terutama dalam bidang lingkungan.

“Sehingga diharapkan setelah pembekalan ini mahasiswa akan menjadi calon-calon pemimpin, sekaligus duta-duta di bidang pendidikan dan lingkungan,” tegas Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono.

Lebih lanjut, Nina mengatakan, salah satu tujuan dari pemberian Beasiswa Sobat Bumi Pertamina Foundation adalah mencetak generasi cerdas yang mampu berkontribusi pada masyarakat umum, khususnya sosial dan lingkungan hidup. “Hal ini tentu  beririsan dengan tujuan Gerakan Menabung Pohon Pertamina Foundation, yaitu untuk mengatasi masalah sosial dan lingkungan,” tegasnya.

Untuk itulah, sambung Nina, Gathering Beasiswa Sobat Bumi ini  menjadi satu rangkaian acara dengan Jambore Menabung Pohon yang menjadi milestone untuk Gerakan Menabung Pohon.  Dimana, mahasiswa juga mendapatkan pembekalan mengenai Menabung Pohon dan mengimlementasikannya langsung di lapangan saat penanaman 1000 pohon untuk melengkapi total penanaman  di kawasan tersebut sejumlah 55.000 pohon.

Materi pembekalan dan inspirasi yang didapat mahasiswa diantaranya  “Seni Bercita-cita dan Merencanakan Masa Depan” oleh A. Fuadi, penulis buku “Negeri 5 Menara”. Yang menjadi sesi paling menarik dan selalu ditunggu mahasiswa adalah Talent Mapping. Di sini mahasiswa dapat melihat tentang kemampuan dan kecocokan bidang kerjanya.

Direktur Pendidikan Ahmad Rizali menambahkan, gathering beasiswa selalu dilaksanakan setiap tahun dan tahun ini merupakan yang kedua kalinya. Gathering bertujuan membangun jejaring atau ikatan yang kuat antara sesama penerima beasiswa.

Gathering ini dilaksanakan sebagai media untuk meregenerasi kepengurusan PFS tahun 2011-2012. Sehingga, program ini diharapkan dapat menjadi awal terciptanya “bank” sumber daya manusia dan tempat mengelola pengetahuan serta memperoleh keterampilan kepemimpinan.

“Ujungnya adalah para mahasiswa setelah penggemblengan ini diharapkan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap lingkungan dan puncaknya kepada bangsa dan negara Indonesia.

Sebarkan Gerakan Lingkungan Lewat Cerita

23. Press Release-Pelatihan Akon copyJakarta—Narasi selama ini telah dikenal sebagai medium ampuh untuk menurunkan nilai-nilai. Cerita juga terbukti efektif mengispirasi orang untuk bertindak. Melalui pendekatan inilah Pertamina Foundation mengajak lebih banyak orang peduli terhadap lingkungan.

Pertamina Foundation bersama Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) yang menjadi pionir Sobat Bumi di kalangan kampus, melatih 30 mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Indonesia untuk mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Membangun Narasi Besar Sobat Bumi.

Sobat Bumi adalah upaya mengajak masyarakat untuk ramah lingkungan dan karenanya diperlukan seorang pemimpin. Pada pelatihan angkatan pertama ini anak-anak muda berpotensi dibekali pemahaman tentang Sobat Bumi, serta wacana ramah lingkungan khas Indonesia. Nantinya, pelatihan-pelatihan serupa akan diselenggarakan di kampus-kampus lain.

“Mahasiswa juga dibekali tentang pentingnya gerakan sosial dan teknik penggunaan narasi. Metode ini sejak dulu dikenal sudah efektif untuk membina hubungan dan memotivasi orang. Terutama untuk mengajak mereka ramah lingkungan,” tegas Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali di Kampus UI, Kamis (20/12).

Ahmad mengatakan, para peserta saat ini merupakan Sobat Bumi dan telah menjadi pemimpin di lingkungannya. Untuk itu, mereka diharapkan dapat menerapkan teknik bercerita dan sharing untuk mengajak lebih banyak orang lebih peduli terhadap lingkungan.

Pertamina Foundation dalam menggalang anak-anak muda ini memang memilih mereka yang sudah terbukti perduli terhadap lingkungan seperti yang dilakukan oleh Mapala UI. Karena itu, salah satu sarat terpenting untuk mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Membangun Narasi Sobat Bumi, dengan mentor dari Akon Labs ini adalah rekam jejak mereka terhadap lingkungan.

“Dengan begitu mereka akan mudah diajak maupun mengajak orang lain peduli terhadap lingkungan, karena sudah ada bukti,” tegas Ahmad.

Dalam sambutan penutupan acara, Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono mengatakan, sebagai bagian dari Sobat Bumi, peserta diharapkan dapat menularkan cerita-cerita baik yang dimilikinya. “Tentu saja pengalaman yang dirasakannya agar dapat  disebarkan sehingga menjadi narasi besar yang diharapkan dapat menggungah masyarakat,” kata Nina.

Sementara itu, Direktur Greenlife Lendo Novo saat memberikan materi Wacana LIngkungan Sobat Bumi menekankan, Indonesia memiliki kekhasan tentang bagaimana hidup ramah lingkungan. Untuk itu, cerita-cerita lokal yang menginspirasi semestinya dijadikan acuan untuk menggerakkan hidup ramah lingkungan. “Apa yang dilakukan Barat belum tentu cocok dengan kita,” tandasnya.

Pertamina Komit Majukan Sepakbola Tanah Air

24.Press Release-Hut PF copyJAKARTA—Pertamina telah berkomitmen ikut memajukan persepakbolaan di Tanah Air. Hal ini diwujudkan dengan lahirnya Pertamina Soccer School pada 15 September 2012 lalu.

Pertamina Soccer School yang pengelolaannya dilakukan oleh Pertamina Foundation adalah bukti nyata dari kontribusi Pertamina terhadap pembinaan generasi muda khususnya di bidang olahraga.  Saat ini terdapat 24 pemain muda berbakat usia 14-15 tahun yang mendapat pembinaan.

“Harapannya mereka dapat memberikan hal berarti bagi kemajuan persepakbolaan di Tanah Air,” tegas Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono saat syukuran Ulang Tahun Pertamina Foundation kedua di Jakarta, Sabtu (12/1).

Nina mengakui, prestasi sepak bola Indonesia cenderung stagnan. Salah satunya karena kurangnya regenerasi pemain sepak bola. Untuk mewujudkan hal tersebut, saat ini Pertamina Soccer School telah melakukan kerjasama dengan AC Milan dalam pembinaannya.

Dalam rangkain itu, Pertamina Foundation menjadi sponsor utama pada acara AC Milan Glory yang akan melakukan kunjungan ke Indonesia dari tanggal 5-9 Februari 2013. “Keterlibatan Pertamina Foundation dalam acara ini untuk membuktikan pada publik mengenai keseriusan dan kerjasama yang telah dibangun dengan AC Milan,” katanya.

Jalinan kerjasama Pertamina Foundation dengan AC Milan ini akan dilanjutkan dengan program donasi dari AC Milan Foundation terhadap Pertamina Foundation bagi kepentingan pembinaan sepakbola di Tanah Air.

Salah satu program untuk melaksanakan kepercayaan yang telah diberikan oleh AC Milan Foundation ini adalah program homeless children yang mengajak anak-anak jalanan untuk ikut berlatih sepakbola. Tujuannya, mengurangi jam anak-anak berada di jalanan dengan harapan dapat diisi oleh kegiatan yang mampu mengasah bakat anak-anak jalanan, khususnya bidang sepakbola.

“Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kado untuk ultah kami yang kedua dan mengukuhkan keseriusan kami dalam mendukung kemajuan sepakbola Tanah Air,” tegas Nina.

 Dalam rangkaian tersebut Pertamina Foundation mengadakan dialog sepakbola dengan Tema “Mau Dibawa Kemana, Arah Pembinaan Sepakbola Indonesia”. Melalui dialog ini, diharapkan muncul gagasan-gagasan konkret dan solutif untuk perbaikan proses pembinaan para pemain muda potensial yang nantinya akan menjadi kebanggaan bangsa.

Dalam dialog ini hadir pembicara yang telah lama berkecimpung di dunia sepak bola, yakni Prof. Djoko Pekik Irianto (Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga), Indra Syafri (pelatih tim nasional sepak bola Indonesia U-17), dan Anton Sanjoyo (jurnalis, pengamat sepak bola). Hadir pula dalam dialog ini Hadi Rahmaddani selaku Direktur Pertamina Soccer School.

5000 Guru Dilatih Kecapakan ESD

26.Press Release-ESD Pasir Mukti copy

JAKARTA—Indonesia saat ini masih sangat minim master trainer di bidang Education for Sustainable Development (ESD) atau pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Padahal, ESD penting dalam mengakselerasikan dan meraih dukungan publik bagi permasalah lingkungan yang saat ini makin memprihatinkan.

Kurangnya tenaga pengajar ESD boleh jadi menjadi sebab semakin sulitnya bangsa Indonesia keluar dari masalah seperti kelangkaan sumber daya alam dan habitat Indonesia. Menurunnya mutu lingkunan, bencana yang tiada henti baik karena lingkungan maupun ulah manusia. “Yang lebih menyedihkan jika kebanggaan dan tanggungjawab sebagai warga negara Indonesia ikut menurun,” kata Direktur Eksekutif Pertamin Foundation Nina Nurlina Pramono di Jakarta, Rabu (30/1) hari ini.

Menyadari hal tersebut, Pertamina Foundation saat ini akan melakukan pelatihan bagi 40 calon master trainer  untuk pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan di Cetereup, Bogor, Jawa Barat dari tanggal 30 Januari—3 Februari 2013. Mereka adalah para pelatih ESD bersertifikat yang nantinya akan memberikan pelatihan bagi 5000 guru di Sekolah Sobat Bumi.

Para master trainer ini, lanjut Nina, dapat mengimplementasikan keahliannya di 17 Sekolah Sobat Bumi Champions Pertamina Foundation yang tersebar di 12 kota, yakni (Riau, Metro-Lampung, Jakarta, Bogor, Sukabumi, Bandung, Yogyakarta, Gresik, Malang, Probolinggo, Samarinda dan Balikpapan).

Lebih lanjut dikatakan, 5000 pendidik ini nantinya akan memiliki kecakapan dalam mengelola sekolah dan mendesain kelas pembelajaran berbasis ESD. Sebab, masing-masing Sekolah Sobat Bumi Champions memiliki 10 sekolah imbas, sehingga total ada 187 sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip ESD. “Itu belum termasuk 11 sekolah di Proponsi Kalimantan Tengah mengadopsi program Sekolah Sobat Bumi,” tegas Nina.

Direktur Pendidikan Ahmad Rizali menambahkan, dengan semakin banyaknya master trainer ESD, memudahkan Indonesia dalam menumbuhkan dan mewujudkan dunia pendidikan yang responsif terhadap segala aspek yang terkait pembangunan berkelanjutan. “Sekolah Sobat Bumi Pertamina Foundation dapat dijadikan model pengembangannya,” tandas Ahmad.

Lebih dari itu, lanjut Ahmad, dengan kegiatan ini jaringan dari para pihak (sekolah, LSM dan Pemerintah) yang peduli dan aktif dalam kegiatan pembelajaran yang berdasarkan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dapat makin kuat.

Liga Pertamina U-16 2013 Diluncurkan

27.Press Release--Liga Pertamina copyJAKARTA—Liga  Pertamina U-16 dilatarbelakangi belum adanya kompetisi sepak bola usia 16 tahun di Indonesia. Pertandingan untuk para remaja di usia dini ini sangat penting karena dapat digunakan sebagai ajang menyeleksi pemain berbakat yang akan dipersiapkan mengikuti liga-liga profesional usia 17 tahun ke atas.

Sebagai salah satu lembaga yang peduli terhadap pencarian bakat pemain sepak bola, Pertamina berharap kegiatan ini dapat dijadikan pengalaman para pemain muda dalam bertanding. Keberadaan Liga Pertamina U-16 ini juga dirasakan sangat penting dan berguna untuk menindaklanjuti sistem evaluasi secara komprehensif dari pembinaan dan pelatihan sepak bola usia remaja secara berkesinambungan. Dengan demikian, kompetisi ini dapat dijadikan sebagai rangkaian pertandingan dari usia sebelumnya yang telah ada dan sebagai media pengantar ke jenjang kompetisi usia berikutnya.

Ketua Liga Pertamina U-16 Ade Mulyadi berharap liga ini dapat dijadikan sebagai ajang para pemain usia di bawah 16 tahun untuk memperbanyak pengalaman bermain. “Ajang adalah panggung unjuk bakat bagi para pemain muda. Kompetisi ini juga bisa dijadikan sebagai ajang pencarian bibit pesepak bola nasional,” ujar Ade.

Untuk tahun pertama ini, Liga Pertamina diikuti oleh 14 peserta yang tersebari di wilayah Jabotabek. Dari Jakarta ada enam tim yang akan bertanding. Mereka terdiri atas Pertamina Soccer School, Asiop, Persigawa, Binataruna, Jakarta North City, dan G-Razz.

Dari Depok diwakili Pelita Jaya dan Sukmajaya. Dari Bogor ada Cibinong Putra. Tangerang diwakili Villa 2000 dan Benteng Muda. Dari Bekasi ada Tunas Patriot Soccer Team, dan Bina Muda. Masing-masing tim terdiri atas 25 pemain dan lima ofisial. Dalam bertanding, setiap tim terdiri atas 11 pemain dengan durasi pertandingan 2 x 35 menit.

Liga Pertamina U-16 ini memakai sistem kompetisi penuh yang menggunakan satu lokasi bertanding. Ke-14 tim akan saling dipertemukan dalam pertandingan. Dengan demikian, setiap tim akan mendapat kesempatan bermain sebanyak 26 kali selama satu musim. Total pertandingan Liga Pertamina U-16  tahun ini sebanyak 182 kali. Tim yang mendapat poin terbanyak di klasemen akan menjadi juara. Poin ini dijumlahkan dari setiap pertandingan dengan penilaian: menang 3 poin, seri 1, dan kalah 0.

Sebagai tahap awal liga, pada 2 Februari akan dilakukan seleksi pemain. Pada 4 Februari dilakukan technical meeting. Selanjutnya, tes fisik dilakukan pada 10 Februari. Pertandingan pertama akan dimulai pada 16 Februari. Menurut rencana, pertandingan musim ini akan berakhir pada November 2013.

Jadwal pertandingan ini sudah memperhitungkan jadwal sekolah, mengingat para peserta kompetisi ini masih duduk di bangku SMP ataupun SMA. Kompetisi ini juga dilakukan di saat libur, yaitu setiap Sabtu, dengan jadwal pertandingan sebanyak tujuh kali setiap pekan. Menghadapi bulan puasa dan Idul Fitri, kompetisi ini juga diliburkan.

Para pemenang kompetisi ini akan mendapat fasilitas pembinaan dan perlengkapan sepak bola untuk menunjang latihan dan meningkatkan prestasi. Dengan diselenggarakan Liga Pertamina U-16 ini, diharapkan bibit-bibit baru akan muncul untuk meningkatkan dunia persepakbolaan di Indonesia.

Beasiswa Sobat Bumi Hadir di Indonesia Timur

29.Press Release--Pendidikan Papua copyJAKARTA—Propinsi-propinsi di Indonesia bagian Timur diakui memiliki ketertinggalan  akses maupun mutu pendidikan dibandingkan daerah lain di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Padahal, potensi yang dimiliki mereka tidak kalah besarnya dengan wilayah lain.

Untuk itu, diperlukan terobosan dan inisiatif agar potensi anak-anak tersebut dapat berkembang. Salah satu inisiatifnya adalah seperti yang digagas Pertamina Foundation dengan memberikan beasiswa untuk wilayah-wilayah seperti Papua, Papua Barat, Ambon dan Sumba Barat/Timur.

“Hal ini sejalan pula dengan inisiatif pemerintah memajukan Indonesia Timur. Termasuk melalui Masterplan Perencanaan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia,” tegas Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono di Jakarta.

Inisiatif Pertamina Foundation yang hadir untuk mendorong perkembangan pendidikan dan potensi Indonesia bagian Timur tersebut akan berlaku di semua jenjang mulai dari SD,SMP,  SMA atau SMK, serta Pendidikan Tinggi.

Langkah untuk menyentuh Indonesia bagian Timur ini adalah untuk melengkapi program pendidikan yang selama ini telah dilakukan Pertamina Foundation. Seperti,  Beasiswa Sobat Bumi dengan total penerima 250 mahasiswa yang tersebar di 16 Perguruan Tinggi Negeri. Sekolah Sobat Bumi dengan jumlah total 187 sekolah yang berada di 8 propinsi.

“Pertamina juga mengelola Pertamina Soccer School (PSS) yang bermitra dengan AC Milan. Padahal, kami sadari Papua dan Papua Barat yang akses dan mutu pendidikannya lebih rendah daripada Jawa memiliki potensi bermain bola yang hebat,” kata Nina.

Direktur Pendidikan Ahmad Rizali mengatakan, beasiswa S1 diberikan bagi mahasiswa Universitas Cendrawasih dan Universitas Negeri Papua (dahulu IKIP Manokwari) yang sudah semester 5 di semua bidang studi. Masa berlaku beasiswa tersebut adalah 4 semester. “Mahasiswa yang terseleksi akan mendapatkan latihan kepemimpinan dan otomatis menjadi anggota Pertamina Foundation Scholars yang memilki banyak aktivitas. Beasiswa akan efektif Awal April tahun ini,” tegasnya.

Untuk pendidikan menengah, sambung Ahmad, akan diberlakukan pola “sandwich”. Melalui cara ini siswa SMA/SMK yang baru naik kelas tiga dari Papua dan Papua Barat dipindahkan ke SMA/SMKA Sekolah Sobat Bumi Champions Binaan Pertamina Foundation.

Dijelaskan Ahmad, kandidat SMA/SMK yang akan dipindahbelajarkan berada dikota Sorong, Manokwari, Jayapura dan Merauke. Sedangkan SMA/SMK yang siap menerima adalah SMAN10 Malang, SMAN 4 Denpasar, SMAN 2 Probolinggo, SMKN 3 Sukabumi dan SMKN 1 Probolinggo. Rencananya program ini akan mulai efektif awal semester gasal tahun 2013/2014 untuk kelas tiga.

Untuk program pendidikan dasar SD/SMP yang akan dilakukan awal April ini, katanya, Pertamina Foundation akan memberikan insentif bagi murid berprestasi akademik dan tergabung di sepakbola setempat. Status mereka sebagai pelajar akan dikontrol oleh klub bola.

“Artinya kalau prestasi akademik mereka menurun bisa saja murid tersebut tidak dimainkan lagi di klubnya,” katanya.

Bentuk beasiswa untuk jenjang ini, imbuh Ahmad, diberikan kepada Klub Sepakbola setempat dalam bentuk natura sepakbola, seperti bola, kaus tim, sepatu dan alat olahraga lain atau sponsorship pertandingan. Untuk SD/SMP dan Klub Bola yang mendapatkan beasiswa ini adalah kota yang sama dengan SMA/SMK yang mendapatkan program beasiswa “sandwich”.

Nantinya, lanjut Ahmad, selain beasiswa sebesar Rp 10 juta/mahasiswa/tahun dan beasiswa sepakbola di SD/SMP, semua biaya pemindahan dan biaya hidup di kota yang baru serta program pembimbingan dari SMA/SMK di Jawa menjadi beban Pertamina Foundation bersama pemerintah daerah setempat.

Sentuhan AC Milan untuk Tim Pertamina Soccer School

30.Press Release--AC MILAN (CETAK) copyJAKARTA–Kedatangan tim AC Milan Glorie ke Indonesia tidak hanya memberikan pengalaman bertanding yang tak terlupakan bagi tim Indonesia All Star Legends. Meskipun kalah 2-4 dari AC Milan Glorie, tim Indonesia tentu mendapat pelajaran yang sangat berharga tentang cara bertanding sepak bola tingkat dunia.

Pengalaman ini pula yang dirasakan tim Pertamina Soccer School (PSS) saat bermain pre-match sebelum pertandingan antara AC Milan Glorie dan Indonesia All Star Legends di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta digelar.

Sebagai tim yang mengawali pertandingan akbar tersebut, laga antarpemain PSS ini disaksikan oleh lebih dari 20.000 penonton. Pre-match yang berlangsung selama 2 kali 15 menit ini tentu dapat menjadi pengalaman berharga dalam melatih mental anggota tim PSS yang kebanyakan masih berusia sekitar 16 tahun dalam bertanding di skala internasional.

“Saya merasa senang bisa ikut pre-match di ajang ini. Dengan bermain di sini, saya berharap tim PSS bisa dilirik oleh tim nasional atau bahkan oleh tim internasional seperti AC Milan,” kata Ary Rezqy Hakim, bek kanan tim PSS, yang ikut dalam laga pembuka ini.

Sebelum bertanding dalam laga pre-match ini, para pemain PSS mendapat coaching clinic bersama para mantan pemain AC Milan. Para pemain PSS dibagi menjadi dua  tim. Mereka mendapat kesempatan berlatih teknik dasar sepak bola bertaraf internasional seperti dribbling, passing, dan shooting.

Menurut pelatih PSS Danang Suryadi, secara teknik, sebenarnya para pelatih AC Milan sama dengan pelatih di Indonesia. Hanya bahasanya yang berbeda. “Tapi mereka lebih berpengalaman mengasuh tim-tim besar yang menjuarai liga-liga ternama di dunia. Pengalaman itulah yang ingin kita dapatkan,” ujar Danang.

Ajang pelatihan bekerja sama dengan AC ini merupakan tindak lanjut dari Milan Junior Camp. Hingga saat ini, Milan Junior Camp telah memasuki tahun ketiga. Ini merupakan ajang pencarian pemain bola muda berbakat dari sejumlah provinsi di Indonesia yang disponsori oleh Pertamina.

Menurut rencana, PSS terus bekerja sama dengan AC Milan hingga tiga tahun ke depan. Sebagai tindak lanjut, saat ini pelatih dari Italia sudah datang ke Indonesia dan terjun langsung menangani tim PSS.

Pelatih dari AC Milan yang ditugaskan menangani PSS bernama Mauro Arizon. Sebelum menangani PSS, Mauro juga sempat melatih pemain sepak bola usia 16 tahun. Dengan mendatangkan pelatih sekaliber internasional, diharapkan akan muncul bibit-bibit baru yang lebih dapat berbicara di kancah persepakbolaan dunia.

1000 Tas Sobat Bumi dari Pertamina Foundation Scholars

31.Press Release-Tas Sobat Bumi (PFS) copyJAKARTA – Perkiraan penggunaan plastik di seluruh dunia sudah mencapai 1 triliun plastik per tahunnya. Hampir seluruhnya tidak terpakai kembali dan menjadi sampah yang kian hari semakin menumpuk dan menimbulkan permasalahan lingkungan. Seperti diketahui, bahan plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai sempurna di dalam tanah, yakni sekitar 500 – 1.000 tahun.

Untuk menjawab tantangan tersebut, sebanyak 150 orang yang tergabung dalam Pertamina Foundation Scholars, membagikan 1000 Tas Sobat Bumi di Bunderan HI, Minggu (17/2). Nantinya, tas ini diharapkan dapat digunakan oleh masyarakat sebagai alternatif masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari.

“Aksi ini dilakukan sebagai upaya nyata kami untuk membangun kesadaran serta mengajak masyarakat untuk memulai gaya hidup ramah lingkungan, yang salah satunya kami wujudkan melalui pembagian Tas Sobat Bumi untuk mengurangi dampak limbah plastik,” tutur Tegar, Presiden Pertamina Foundation Scholars.

Ditambakan Tegar, Tas Sobat Bumi ini terbuat dari bahan daur ulang dan dapat digunakan oleh masyarakat ketika berbelanja dan melakukan aktivitas lainnya. Model tas ini juga disesuaikan dengan tren saat ini, sehingga masyarakat dapat tetap merasakan kenyamanan dalam penggunaannya.

Aksi yang bertemakan “Langkah kecil agar bumi tetap bernafas” ini merupakan puncak acara Rapat Kerja Nasional Pertamina Foundation Scholars yang berlangsung pada tanggal 15-17 Februari 2013, di Jakarta. Dalam Rakernas ini dipilih 5 program kerja bertemakan lingkungan yang nantinya akan dijalankan oleh Pertamina Foundation Scholars di seluruh Indonesia selama tahun 2013.

Pertamina Foundation Buka Peluang Sukarelawan Bagi Pekerja Pertamina

35.Press Release--Sukarelawan Sobat Bumi copyJAKARTA—Pertamina Foundation membuka kesempatan bagi para pekerja Pertamina untuk menjadi sukarelawan. Program yang diberinama “Sukarelawan Sobat Bumi” ini nantinya diharapkan dapat mendorong dan mengembangkan empat program yang diinisasi Pertamina Foundation bagi bangsa.

Keempat program tersebut adalah Menabung Pohon, Sekolah Sobat Bumi, Beasiswa Sobat Bumi dan Pertamina Soccer School. Para pekerja Pertamina dapat mengajukan diri sebagai sukarelawan sesuai dengan minat dan kapasitasnya dalam progam yang ditawarkan.

Selain membantu mengembangkan program Pertamina Foundation, keterlibatan pekerja Pertamina juga penting untuk memberikan kesempatan pada mereka untuk ikut berbagi.

Untuk mempermudah proses, pekerja yang berminat dapat mengunduh formulir pendaftaran pada portal www.sobatbumi.com dengan syarat mendaftar terlebih dahulu sebagai  anggota di portal tersebut. Pendaftaran Sukarelawan Sobat Bumi juga akan dibukan saat  HR Ekspo tanggal 25-27 April 2013 mendatang.

Untuk program Menabung Pohon, pekerjaan yang ditawarkan adalah sebagai verifikator dan menjadi tim pembibitan. Sedangkan untuk Program Sekolah Sobat Bumi pekerjaan yang ditawarkan adalah menjadi dokumenter, tim monitoring, narasumber, dan trainer di sekolah Sobat Bumi.

Selanjutnya, untuk Program Beasiswa Sobat Bumi memberikan kesempatan menjadi sahabat bagi para mahasiswa penerima beasiswa dan menjadi mentoring bagi calon penerima beasiswa S-1.

Untuk program Pertamina Soccer School, kesempatan yang ditawarkan adalah tenaga pendidik, tim motivator, kesehatan dan supporting sekolah sepak bola berbentuk profit yang akan rencananya akan dibangun.

Keterangan lebih lengkap mengenai posisi sukarelawan yang ditawarkan dapat dilihat di portal www.sobatbumi.com

Menabung Pohon Bangun Jiwa Anak Bangsa

37. Press Release--Siaran Pers Sikip (Tamanmini) copyJakarta, 4 Mei 2013, di Taman Bunga Keong Mas Taman Mini Indonesia Indah, pukul 09.00-12.00 WIB, diselenggarakan acara  JUNIO PESTA ANAK NEGERI dalam rangka memperingati Hari Pendidikan NasionalKegiatan ini merupakan hasil kerjasama dari Pertamina Foundation, Gaung Communication, dan Majalah Parents GuideHadir membuka acara ini Ibu Okke Hatta Rajasa, Ketua Bidang Pendidikan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB),

JUNIO PESTA ANAK NEGERI memberikan arena permainan tradisional bagi anak-anak Indonesia, di antaranya: Benteng, Balap Bakiak, Galasin, Balap Karung, Lompat Tali, Kata Berantai, Kelereng, Lomba Tari Tradisional, Lomba Paduan Suara & Perkusi Tradisional, serta permainan tradisional lainnya yang mulai jarang dimainkan anak-anak.

 Tak hanya menanamkan nilai-nilai kebudayaan, kebersamaan, interaksi sosial melalui permainan tradisional, anak-anak juga akan diajak untuk ikut serta menjaga lingkungan sekitar.  Partisipasi untuk lebih mencintai dan menjaga ligkungan sekitarnya dicanangkan dengan menanam 105 pohon yang berasal dari seluruh propinsi di Indonesia melalui ‘Menabung Pohon bersama Pertamina Foundation’ dan kemudian dijadikan Kebun Raya Mini – Taman Mini Indonesia Indah.

Peran anak dalam menjaga lingkungan hidupnya sejak dini sangatlah vital di masa kini dan masa depan. Sebagai sarana mengajarkan anak untuk peduli terhadap pelestarian lingkungan sekitarnya melalui hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kelestarian dengan menanam pohon dapat ikut andil dalam menciptakan Kota Layak Anak dan mendukung Green Style Family.

Gerakan Menabung Pohon merupakan salah satu pilar inisiatif pemberdayaan, yaitu  peningkatan kualitas lingkungan hidup.  Sesuai visi CSR Pertamina  ”Menuju Kehidupan yang Lebih Baik”, Gerakan Menabung Pohon  diselaraskan dengan tujuan pembangunan serta Millenium Development Goals (MDGs) dan mendukung komitmen Indonesia terhadap program Reducing Emissions (from  Deforestation and Forest Degradation (REDD+), yang merupakan suatu mekanisme yang bertujuan untuk memperlambat perubahan iklim global dengan memberikan kompensasi kepada  Negara berkembang untuk melindungi hutannya.

Anak-anak ialah pemimpin masa depan bangsa, meningkatkan kepedulian mereka terhadap kebudayaan dan lingkungan sekitarnya menjadi esensi kemanusiaan dan niscaya akan membangun jiwa dan raga mereka.  Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya.

Pekan Baru Canangkan GSG City

38. Press Release--(GSG-PEKANBARU) copyJAKARTA—Pemerintah Kota Pekan Baru berkomitmen ingin menjadikan kota ini sebagai Good School Governance (GSG) City.  Untuk mewujudkan hal tersebut, Dinas Pendidikan Kota Pekan Baru bersama Pertamina Foundation Jumat (10/5)  merumuskan metode pelaksanaannya.

Hadir dalam pertemuan tersebut Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekan Baru Zulfadil, Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali, Direktur Sinergy Icon Solution Bowo Priyanto, serta 21 perwakilan sekolah di Pekan Baru.

Zulfadil mengatakan, program kerjasama untuk mewujudkan Tata Sekolah yang Baik di semua sekolah di Pekan Baru menjadi begitu penting. Sebab, hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sekolah dalam pengelolaan keuangannya. “Pada akhirnya, sekolah memiliki karakter, beritegritas serta akuntable,” tegasnya.

Mengenai alasan Pertamina Foundation yang diharapkan dapat mendukung program ini, ia mengungkapkan, lembaga ini dinilai telah sukses melaksanakan progam Sekolah Sobat Bumi. Bersama Pertamina Foundation dirinya menyakini Kota Pekan Baru akan menjadi rujukan pengelolaan sekolah yang memiliki tata sekolah baik.

Seperti diketahui, salah satu Program unggulan Pertamina Foundation adalah Program Sekolah Sobat Bumi. Dari empat pilar Sekolah Sobat Bumi, satu pilar terpentingnya adalah menerapkan GSG bagi 17 Sekolah Sobat Bumi Champions beserta 170 sekolah binaannya.

Sementara itu, Ahmad Rizali mengaku gembira atas rencana Dinas Pendidikan Kota Pekan Baru yang ingin menjadikan Pekan Baru sebagai kota pertama di Indonesia yang menerapkan GSG di semua sekolah. Nantinya, dalam pelaksanaan disain dan pelatihan akan difasilitasi oleh Synergy Icon Solution yang selama ini telah membina Sekolah Sobat Bumi di bidang GSG.

“Jika program ini sukses, maka unit cost setiap sekolah di Kota Pekan Baru akan dapat diketahui.  Dengan begitu pemberian Bantuan Operasional Sekolah bisa lebih pasti dan bukan berdasarkan perkiraan-perkiraan saja. Kota Pekan Baru bisa jadi model nasional nantinya,” tegas Ahmad.

Bowo menambahkan, penerapan GSG di sekolah sangat penting. Salah satunya karena transparansi dan akuntabilitas dari penerapan GSG dapat menjadi bahan evaluasi bagi sekolah. Sehingga, ada ukuran-ukuran yang jelas bagi Dinas Pendidikan untuk menerapkan kebijakan terhadap sekolah bersangkutan.

Selama ini, lanjut Bowo, pengajaran program untuk GSG adalah pembelajaran administrasi finansial serta internal kontrol. Sekolah juga diberikan materi seperti sistem informasi, pembelajaran menajemen sistem, peningkatan kapasitas SDM dan pendukung SDM.

“Semua materi tersebut mendukung terciptanya pengelolaan keuangan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Setidaknya sekolah nanti siap untuk diaudit oleh Kantor Akuntan Publik.” imbuh Bowo.

Beasiswa Sobat Bumi Bagi 200 Mahasiswa

40. Press Release--(Penerimaan Beasiswa 2013) copyJAKARTA—Pertamina Foundation kembali membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan Beasiswa Sobat Bumi. Peluang beasiswa ini diberikan kepada 200 mahasiswa berprestasi di 20 Perguruan Tinggi Negeri.

Menurut Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono, di Jakarta (20/6), Beasiswa Sobat Bumi ini tidak hanya menitikberatkan pada prestasi akademik saja, namun juga harus memiliki wawasan dan berbudaya lingkungan.

“Tujuannya agar memberikan kesempatan lahirnya calon-calon pemimpin bangsa yang mampu menerapkan dan mengajak orang lain untuk berbudaya lingkungan,” tegas Nina.

Untuk itulah, selain persyaratan umum seperti nilai akademis, menjalani serangkaian seleksi, mendapatkan rekomendasi dari Perguruan Tinggi dimana mahasiswa mengambil studi, mereka juga harus menunjukkan kemampuannya menjadi pemimpin.

Selain itu, sambungnya, mahasiswa juga dituntut memiliki  jwa wirausaha, akademisi dan aktivis lingkungan. “Inilah yang menjadi ciri khas Beasiswa Sobat Bumi,” Nina menandaskan.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali mengatakan,  untuk persyaratan akademis nilai IPK minimal 3,01. Disamping itu, kriteria lain adalah calon penerima beasiswa memiliki jiwa filantropis, serta komitmen untuk mewujudkan sinergi antara kelestarian alam dan kemajuan bangsa.

Dikatakan, pembukaan pendaftaran dilakukan melalui online di portal www.sobatbumi.com dan www.beasiswa-sobatbumi.com, mulai tanggal 19 Juni dan berakhir tanggal 19 Juli 2013. Adapun pengumuman penerimaan akan dilakukan pada  September 2013, setelah sebelumnya peserta harus lulus dalam setiap tahapan seleksinya.

Ahmad melanjutkan, program ini selain memberikan manfaat berupa biaya pendidikan setiap semester dan biaya hidup setiap bulan, penerima beasiswa juga didorong untuk membuat project kelompok melalui Pertamina Foundation Scholars.

Bagi mahasiswa tingkat akhir yang akan menyusun skripsi diberikan peluang mendapatkan dukungan dana maksimal Rp 10 juta, dengan syarat memenuhi topik yang disetujui Pertamina Foundation. Untuk meningkatkan kapasitas, mereka mendapatkan pelatihan kepemimpinan, sarana berkumpul semua penerima beasiswa yang pada periode 2012/2013 mencapai 329 mahasiswa. “Mereka juga akan diberikan kesempatan menjadi sukarelawan di Pertamina Foundation,” tegas Ahmad.

Pertamina Soccer Stars Jaring Potensi Sepak Bola Indonesia

39. Press Release--(Pertamina Soccer Stars dari Pertamina) copyJakarta, 3 Juni 2013Pertamina menggelar kegiatan talent scouting dengan nama “Pertamina Soccer Stars” yang diselenggarakan di 6 (enam) kota Indonesia yaitu Jakarta, Balikpapan, Malang, Palembang, Makasar dan Sorong.

Melalui Pertamina Soccer Stars, Pertamina mencari 24 pemain berbakat yang akan diberikan beasiswa selama 3 (tiga) tahun di Pertamina Soccer School, Jakarta. Pertamina Soccer School yang berdiri sejak 15 September 2012 adalah wujud kepedulian Pertamina terhadap pembinaan generasi muda dan pembinaan olah raga Indonesia.

Kegiatan Pertamina Soccer Stars akan diselenggarakan di kota Balikpapan dan Malang pada tanggal 22-23 Juni 2013, di kota Balikpapan akan diselenggarakan di Stadion PERSIBA Balikpapan dan di Malang di Stadion Kahuripan Turen Malang. Di kota Palembang dan Makasar akan diselenggarakan pada tanggal 29-30 Juni 2013, di Palembang akan dilakukan di Stadion Bumi Sriwijaya dan di Makasar akan dilaksanakan di Stadion Andi Matalatta. Di Sorong akan dilaksanakan di Lapangan Sepakbola Pangkalan Angkatan Laut (LANAL) pada tanggal 5-6 Juli 2013, Sedangkan di Jakarta akan diselenggarakan pada tanggal 6-7 Juli 2013 di Lapangan Simprug.

Diharapkan di masing-masing kota terjaring 500 peserta yang akan mengikuti seleksi selama 2 (dua) hari. Seleksi mencakup beberapa rangkaian tes, terdiri dari tes keterampilan dan small side games pada hari pertama, dihari kedua tes fisik dan permainan 11 vs 11. Dari tiap kota akan diambil 8 (delapan) anak berbakat yang nantinya akan dilatih (training camp) di Bandung selama satu minggu. Saat training camp 48 pemain tersebut dilatih oleh pelatih Pertamina Soccer School yang terdiri dari pelatih AC MILAN Academy dan pelatih local dari UNJ (Universitas Negeri Jakarta).

Pada tahun 2012 tim Pertamina Indonesia All Stars Team Chalange berhasil menjuarai kembali Milan Day Intessa San Paulo di Italia, dan menjadi Negara pertama yang berhasi meraih 3 (tiga) kali juara berturut-turut. Beberapa hasil dari seleksi yang diadakan Pertamina juga masuk ke dalam Tim Nasional U14 di Malaysia tahun 2012 (Handika Bayangkara, aziz) dan masuk tim pelajar nasional yang ke Thailand (Arie Sandy, M Alfian A).

Mahasiswa di Seluruh Tanah Air Berkumpul Membahas Program Ramah Lingkungan

Rakernas Scholars di Ragunan (6)

Sebagai wujud kecintaan terhadap alam semesta, lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai universitas terkemuka di seluruh Tanah Air berkumpul merumuskan program kampanye ramah lingkungan. Selama dua hari, 16-17 Februari di Ragunan, Jakarta Selatan, para mahasiswa yang tergabung dalam Penerima Beasiswa Sobatbumi dari Pertamina Foundation ini mengadakan rapat kerja membahas program-program ramah lingkungan yang akan dilakukan selama setahun ke depan.

Ini merupakan rapat program kerja kedua yang dilakukan Penerima Beasiswa Sobatbumi. Rapat pertama menghasilkan rumusan-rumusan kegiatan kelestarian alam, yang salah satunya adalah konservasi lingkungan di Pulau Karimunjawa. Program ini telah dilakukan Penerima Beasiswa Sobatbumi tahun lalu.

Dalam rapat kerja kedua ini, berbagai usulan program kelestarian lingkungan pun muncul. Kebanyakan mahasiswa mewakili ide kampanye ramah lingkungan dari daerah masing-masing. Mahasiswa dari Aceh, misalnya, mengusulkan program konservasi mangrove di wilayahnya. Ini untuk mengembalikan hutan bakau yang rusak akibat tsunami yang terjadi pada 2004. “Sebenarnya, tidak hanya di Aceh, masyarakat pesisir pantai di wilayah lain juga harus disadarkan akan pentingnya mangrove untuk kelestarian alam dan mengurangi dampak tsunami,” ujar Jullya Ramadhana Putra dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Aceh angkatan 2009.

Peserta lain yang datang jauh-jauh dari Makassar, Sulawesi Selatan, mengusulkan program pemberdayaan pemulung untuk tidak hanya mengumpulkan dan menjual sampah, tetapi juga mengolahnya agar memiliki nilai ekonomi tinggi. “Selain membantu mengurangi masalah sampah, program ini juga dapat meningkatkan pendapatan pemulung,” kata Zulfikar Taufik dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin Makassar angkatan 2009.

Semua usulan ini akan digodok lebih lanjut untuk menghasilkan suatu program nasional. Nantinya, program ini akan dilaksanakan oleh para penerima beasiswa Sobatbumi untuk membantu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kegiatan ramah lingkungan. “Kami berharap dari rakernas ini akan muncul program-program yang bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan tentu saja bagi lingkungan,” ujar Ketua Panitia Tegar Perkasa dari Antropologi Universitas Padjadjaran 2010.

Sebenarnya, program ini tidak diwajibkan. Masalah akomodasi dan tranportasi pun tidak semuanya ditanggung panitia. Namun ternyata para mahasiswa tetap antusias mengikuti program ini. “Saya salut terhadap teman-teman yang datang jauh-jauh hingga dari Aceh dan Makassar. Ini menunjukkan militansi teman-teman terhadap lingkungan begitu besar,” ujar Raisa Aurora, peserta asal Bekasi, dari Institut Pertanian Bogor angkatan 2009.

Rakernas ini ditutup dengan program kampanye goodie bag ramah lingkungan sebagai ganti kantong plastik. Para mahasiswa menyebarkan sekitar 1.000 kantong yang bisa dipakai beruang-ulang dan lebih ramah lingkungan ini kepada masyarakat yang ikut acara car free day di wilayah Bundaran Hotel Indonesia. []

Penjurian Anugerah Riset Sobat Bumi Berjalan Ketat

Anugerah Riset Sobat Bumi JAKARTA — Penjurian Anugerah Riset Sobat Bumi berjalan cukup ketat. Sebanyak 78 peneliti dari berbagai jenjang penelitian untuk skripsi, tesis, disertasi serta pengabdian masyarakat dan penelitian mandiri akan mempertahankan proposalnya dihadapan dewan juri.

“Mereka harus bisa meyakinkan juri tentang proposal yang diajukan,” tegas Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono di Jakarta, Selasa (23/4) ini.

Dikatakan Nina, setelah melalui proses seleksi tahap I, sebanyak 78 proposal dari 1.215 yang melamar, telah dinyatakan lolos untuk mengikuti seleksi tahap II dengan mempresentasikan di hadapan juri.

Untuk menjamin dan menjaga netralitas, Dewan Juri berasal dari berbagai unsur. Seperti, Dr.Ir.Ilah Sailah (Kemendikbud), Dr. Masrizal (Kemenristek), Dr. Tasdyanto, S.P, M.Si (Kementrian LH), Dr. Margaretha Rahayuningtyas, S.Si, M.Si (Akademisi, Unnes). Hanneman Samuel, Ph.D (Akademisi, UI) dan Dr. Salis Aprilian (Pertamina).

Salah satu kriteria yang menjadi penentu, terang Nina adalah kesesuaian tema penelitian Education for Sustainable Development (ESD) atau pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dengan pilar-pilar ESD, yakni ekologi/alam, sosial, budaya, ekonomi dan kesejahteraan. “Jika saat mempresentasikan peneliti dapat mengintegrasikan pilar-pilar tersebut, dia berpeluang untuk masuk dalam 56 peneliti yang akan mendapatkan Anugerah Riset,” tegasnya.

Sedangkan total hadiah bagi Anugerah Riset Sobat Bumi ini tidak kurang dari Rp 1,3 milyar. Selanjutnya agar riset ini dapat dinikmati dan bermanfaat bagi masyarakat luas, Pertamina Foundation berencana membukukan riset para pemenang tersebut.

Nina mengaku terkejut atas apresiasi yang tinggi dari masyarakat atas Anugerah Riset Sobat Bumi ini. Salah satunya karena ada 7 profesor yang mengajukan proposal dan 7 lainnya berasal dari universitas terkemuka di luar negeri.

Ketua Panitia Anugerah Riset Sobat Bumi Rida Hesti Ratnasari mengatakan, dari 1.215 proposal yang masuk, tersaring 771 proposal yang dianggap layak diseleksi. Terdiri dari 249 skripsi, 149 tesis, 65 disertasi, dan 308 pengabdian masyarakat dan penelitian mandiri.
Sedangkan di lihat dari institusi pendidikan, lanjut Rida, terdapat 93 dari Universitas—dimana 7 diantaranya dari universitas luar negeri—instansi pemerintah tidak kurang dari 15 dan NGO sedikitnya 10 lembaga.

“Penentuan siapa yang mendapat Anugerah Riset Sobat Bumi akan diumumkan pada Kamis, 25 April 2013,” terang Rida.

Data Anugerah Riset

Daftar Reviewer (Tim Juri) Seleksi Tahap II Anugerah Riset Sobat Bumi Pertamina Foundation

  1. Dr. Ir. Ilah Sailah (Kemendikbud)
  2. Dr. Masrizal (Kemenristek)
  3. Dr. Tasdyanto, S.P, M.Si (Kementerian KLH)
  4. Dr. Margaretha Rahayuningtyas, S.Si., M.Si (Akademisi, UNNES)
  5. Hanneman Samuel, Ph.D (Akademisi, Universitas Indonesia)
  6. Dr. Salis Aprilian (Pertamina)

I. Kategori Pengabdian Masyarakat dan Penelitian Mandiri

Nomor Nama Judul Kategori Instansi
1 Dr. Muchlis, M.Sc Peningkatan Kualitas dan Pengembangan Pemasaran Produk Berbahan Sampah di Bank Sampah RW 08 Notoprajan, Nampilan, Yogyakarta Pengabdian Masyarakat IST AKPRIND YOGYAKARTA
2 Miftahul Jannah Tabungan Sampah Pelajar – Sarana Edukatif Pemberdayaan Sampah Sekolah dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat Demi Tercapainya Lingkungan Berkelanjutan di Kelurahan Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul Pengabdian Masyarakat Desa Pleret, Bantul, DIY
3 Endang Triyanto, S.Kep, NS., M.Ked Gerakan sayangi bumi melalui pembentukan brigade siaga lingkungan Pengabdian Masyarakat Universitas Jendral Soedirman Purwokerto
4 Asri Wulandari, ST., MT Kemanfaatan sumber daya alam: Upaya pengolahan limbah ternak sapi sebagai instalasi biogas digester untuk penyediaan bahan bakar alternatif dan hemat energi skala rumah tangga Pengabdian Masyarakat Politeknik Negeri Jakarta
5 Sugeng Wahono Pemanfaatan dan pengelolaan kotoran sapi menjadi energi biogas dalam usaha meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyrakat Desa Kebon Agung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang Pengabdian Masyarakat Universitas Diponegoro
6 Dr. Ir. Amin Retnoningsih, Msi Pengembangan industri kreatif handmade paper di pelalangan Gunung Pati, Semarang Pengabdian Masyarakat Unnes Semarang
7 Agnes Fitria Widianto, SKm., MSc Menyelamatkan lingkungan melalui aplikasi teknologi pengkomposan model keranjang Takakura sebagai alternatif pengolahan sampah organik domestik Pengabdian Masyarakat Universitas Jendral Soedirman Purwokerto
8 Budi Nuryanto, SE A thousand weddings to green Pengabdian Masyarakat Forum Taaruf Indonesia
9 Tuti Wahyuni Sabun rumput laut untuk meningkatkan pemberdayaan kelompok citra mandiri di Desa Sangrawayan, Simpenan, Sukabumi Pengabdian Masyarakat Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan
10 Dedek Kusvianti, SP Kelola sampah lestarikan sungai Pengabdian Masyarakat The Ohio State University Program
11 Yunus Puratmoko, SP Green education melalui pengembangan Kebun Belajar untuk murid-murid Sekolah Dasar di Kelurahan Karang Asem, Kecamata Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah tahun 2013 Pengabdian Masyarakat YIS (Yayasan Insan Sembada)
12 Ervina Indrayani, S.Si., M.Si Budidaya ikan dengan teknik Keramba Jaring Apung (KJA) untuk peningkatan kesejahteraan lokal Danau Sentani di Dusun Ayapo, Kabupaten Jayapura, Papua Pengabdian Masyarakat Universitas Cendrawasih
13 Syahriyal Optimalisasi peran stakeholders dalam pengambilan kebijakan pengelolaan sumber daya pesisir di Desa Lubuk Damar, Kecamatan Seruwai, Kabupaten Aceh Tamiang Pengabdian Masyarakat Badan Pengembangan PDAM Regional Aceh
14 Satyaguna Rakhmatullah Community Development Berbasis Sistem Pertanian Terpadu Menuju Integrasi antara Pendidikan, Pertanian, dan Lingkungan Hidup secara Aman, Sejahtera dan Berkelanjutan: Studi Pengabdian Masyarakat pada Siswa-siswi M.Ts Insan Qoryah dan Masyarakat Lereng Gunung Merapi di Daerah Tlogolele Selo Boyolali Jawa tengah Pengabdian Masyarakat Universitas Gajah Mada
15 Epong Utami Aplikasi dan pelatihan sistem pengolahan air minum secara sederhana dalam upaya pemberdayaan masyarakat di Desa Sempadian, Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas Pengabdian Masyarakat Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa
16 Setia Marlyna M. Optimaliasi pedagang kaki lima dan pedagang asongan sebagai role model “Taman Suropati Berseni” sebuah solusi progresif mendukung kampanye “hidden park” di Jakarta Pengabdian Masyarakat Ombudsman RI
17 Dr. Ir. Wiludjeng Trisasiwi, MP Aplikasi briket bioarang untuk energi alternatif pengganti bahan bakar pedagang kaki lima Pengabdian Masyarakat Universitas Jendral Soedirman Purwokerto
18 Prof. Robert M.Z. Lawang Pengentasan kemiskinan melalui penerapan system of rice intensification untuk petani sawah di daerah irigasi Pinis, Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia
19 Prof. Dr. Abdi Dharma Gerakan membangun desa mandiri energi di Desa Limau Manis, Kota Padang Pengabdian Masyarakat Universitas Andalas Padang
20 Prof. Dr. Laode M. Aslan, M.Sc Produksi massal bibit rumput laut Kappaphycus Alvarezii strain coklat melalui seleksi klon menggunakan metode long line Penelitian Mandiri Universitas Haluoleo Kendari
21 Prof. Dr. Djoko Purnomo, MP Potensi budidaya tanaman kedelai organik pada berbagai sistem agroforestri Penelitian Mandiri Universitas Sebelas Maret
22 Prof. Dr. Muh. Effendi, M.Pd., M.Kes Efektivitas buku ajar bergambar untuk meningkatkan pemahaman terhadap alam dan lingkungannya bagi anak tuna rungu di Sekolah Dasar Luar Biasa Penelitian Mandiri Universitas Negeri Malang
23 Prof. Dr. Dra. R. Iis Arifiantini, Msi Upaya teknologi reproduksi untuk mendukung budidaya berkelanjutan ulat sutra (Attacus atlas) liar asli Indonesia Penelitian Mandiri Institut Pertanian Bogor
24 Dr. Sahrul Saehana, M.Si Pemanfaatan Biji Kelor (Moringa Oleifera) yang Dilapisai Material Nanopartikel Titanium Dioksida (TiO2) untuk Mengatasi Pencemaran Air Limbah (Studi Kasus di Daerah Tambang Emas Poboyo Palu Sulawesi Tengah) Penelitian Mandiri Univ. Tadulako

II. Kategori Tesis dan Disertasi

Nomor Nama Judul Kategori Instansi
1 Nur Rachmat Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan di lingkungan Rumah Tangga sebagai Pemasok Listrik dan Air Bersih bagi kebutuhan Rumah tangga Disertasi POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2 Fahmi Arifan, S.T., M.Eng Pengembangan Bioreaktor Membran Photokatalitik Berbasis Go Green Batik Resolution untuk Mengolah Limbah Cair Industri Batik di buaran Pekalongan Disertasi Universitas Diponegoro
3 Muhammad maulana Azimatun Nur Pemanfaaatan Limbah Cair Kelapa Sawit sebagai Media Pngganti Nutrien Sintesis untuk Kultivasi Mikroalga Chlorella sp sebagai Feedstock Biofuel Thesis Universitas Diponegoro
4 Yulianti Seleksi Mikroalga Lokal yang Unggul Memproduksi Lipid untuk Biodisel Thesis Universitas Andalas
5 R.S. Bayu Mangkurat Prospect Proteorhodopsin (PR) Gene as Probiotic Thesis The University of Tokyo
6 Muhammad Syukur Sarfat Modifikasi Fermentasi Eucheuma cottonii Menjadi Bioetanol Menggunakan Saccharomyces cerevisiae dan Pachysolen tannophilus Thesis Institut Pertanian Bogor
7 Hikayat Rahmaddan Syah Pengolahan Limbah Cair Pabrik CPO menjadi Biodiesel dengan Memanfaatkan Radiasi Gelombang Mikro dan Uji Emisi Gas Buangnya Pada Mesin Diesel serta Implementasi Pada Pembelajaran Dunia SMA Thesis Universitas Bengkulu
8 Suyadi Uji Potensi Tumbuhan Mangrove Sebagai Bio Indikator dan Pereduksi Pencemaran Minyak dan Logam Berat Studi Kasus Teluk Ambon Maluku Thesis Pusat Penelitian Oseanografi LIPI UPT Balai Konservasi Biota Laut Ambon
9 Neza Agus Dianita Pengaruh Model PLH Terintegrasi dalam Pembelajaran Tematik (IPA dan Matematika) Terhadap Kesadaran Lingkungan/ Biodiversiti bagi Siswa SD Thesis Universitas Pendidikan Indonesia
10 Senanjung Prayoga Analisis Motor Bertenaga Magnet Permanen Sebagai Pengerak Generator Listrik Bebas Bahan Bakar Thesis Institut Teknologi Sepuluh Nopember
11 Miftah Khairuza Pengaruh Program Kemitraan terhadap Peningkatan Kualitas Hidup Pada Usaha Kecil Menengah (UKM) Mitra Binaan PT. Pertamina (Persero) Region I Sumatera Utara Thesis Universitas Indonesia
12 Arin Mamlakah Kalamika Etika Agama dalam Etos Eksplorasi Energi (Studi Tentang Spirit Pesantren dan Pengelolaan Industri dalam Eksplorasi Energi Berbasis Bahan Bakar Nabati Nyamplung) Thesis Universitas Gadjah Mada
13 Fifi Khoirul Fitriyah Efektivitas Teknik Ekowisata Dalam Inclusive Group Guidance (E-IGG) untuk Mengembangkan Budaya Cinta Lingkungan bagi Siswa Autis Thesis Universitas Pendidikan Indonesia Bandung
14 Fahmi Nasrullah Analisa Digital Citra Hiperspektral Hyperion untuk Ekstraksi Informasi Tutupan Lahan Thesis Universiti Putra Malaysia
15 Tri Murti Managemen Praktis Diare Pada Anak Di Bawah Umur 5 Tahun dan Faktor yang Berhubungan Antara Ibu yang Menghadiri Klinik Kesehatan Di Balikpapan Selatan Kalimantan Timur Thesis Universiti Putra Malaysia
16 Ery Budiman Solusi Alternatif Kontruksi Pipa Bawah Laut dengan Menggunakan Struktur Submerged Floating Tunnel Disertasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember
17 Sugiarto, S. Hut., M. Agr Evaluasi Keragaman Jenis Kumbang Berantena Panjang (Coleoptera Cerambycidae) pada Areal Reklamasi Pasca Tambang Batu Bara di PT. Beraucoal Kab. Berau Disertasi Univ. Mulawarman
18 Ida Ansharyani Meningkatkan Kemampuan Adaptasi Petani terhadap Perubahan Iklim di DAS Batulanteh, Sumbawa, NTB Disertasi Rutgers, State University of New Jersey
19 Ichwana, ST, MP Model Penggunaan Lahan dan Keterlibatan Masyarakat untuk Mendukung Sumberdaya Air yang Berkelanjutan di Daerah Aliran Sungai Krueng Peusangan Disertasi Univ. Sumatera Utara
20 Hanny F. Sangian Pembuatan Bio Etanol dari Lignoselulosa Sabut Kelapa dengan Pretratement ionic liquid Disertasi ITS
21 Budi Kristiawan Pemanfaatan Fluida Nano Metalik Oksida pada Solar Oil Heater Berbasis TERMO XT 32 (Produk PT. Pertamina Lubricant) Disertasi UGM
22 Robin, S.Pi, M.Si Paket Teknologi Produksi Ikan Layak Konsumsi Berbasis Sumber Daya Alam Lokal di Kolong Bekas Tambang Timah Provinsi Bangka Belitung Disertasi IPB
23 Indra Gumay Yudha Pengelolaan Sumberdaya Ikan Lomo Labiobarbus Ocellatus (HECKEL, 1843) Berdasarkan Analisis Ekobiologi, Kebijakan Pemerintah Daerah dan Partisipasi Masyarakat di Sungai Tulang Bawang, Lampung Disertasi IPB
24 Nuryoto, ST.,M.ENG Pemanfaatan Zeolit Alam Bayah sebagai Katalisator pada Pengolahan Gliserol Produk Samping Biodiesel menjadi Triacetin sebagai Aditif Premium Disertasi Univ. Sultan Ageng Tirtayasa
25 Riska Ekawita Pengembangan Sistem Otomatisasi Triaksial untuk Uji Kekuatan Tanah Disertasi ITB
26 Ir. Ernitha Panjaitan, Msi Mitigasi Emisi Gas Metana dari Padi Sawah di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara Disertasi Univ. Methodist Indonesia
27 Budiman Pengaruh Modal Sosial pada Aksesbilitas Pembiayaan dan Kesejahteraan Petani Rumput Laut (Studi di Laguruda Kab. Takalar, Sulawesi Selatan) Disertasi Univ. Brawijaya
28 Andi Bejo Suwardi Potensi Sumber Daya Alam Hayati Hutan Ulu Gadut sebagai Aplikasi Komponen Perspektif Lingkungan dalam Pemantapan Nilai ESD Thesis Universitas Andalas Padang

Kategori Skripsi

Nomor Nama Judul Kategori Instansi
1 Andi Muhammad Khalidh Memodifikasi Perilaku Buang Sampah dengan FUN : Pengaruh Desain Tempat Sampah Terhadap Perilaku Buang Sampah Skripsi Universitas Negeri Makasar
2 Fajar Addana Pemanfaatan Ekstrak Kompos Sebagai Medium Kultivasi Nannochloropsis sp. Untuk Mengatasi Permasalahan Lingkungan Skripsi Universitas Indonesia
3 Ozi Priawadi P-Soft (Play an Save Our Forrest) Game Online Penyelamatan Hutan Indonesia Skripsi Institut Pertanian Bogor
4 Haafizh Izzatullah Biodegradasi PYRENE dan PHENANTHRENE Sebagai Limbah Pengeboran Minyak Bumi Menggunakan Bakteri Bacillus subtillis C19 dan Ochrobactrum sp. M2292 Skripsi Universitas Indonesia
5 Agie Nugroho Soegiono Coorporate Social Responsbility (CSR) Badan Usaha Milik Negara PT. Pertamina Geothermal Energy: Studi Deskriptif Tentang Dampak Green Collar Economy pada Masyarakat Kawasan Geothermal Energi Area Kamojang Bandung Jawa Barat Skripsi Universitas Airlangga
6 Ainul Mardhiah Potensi Pengalihan Wilayah Jelajah (Home Range) Sebagai Solusi Konflik Babi Hutan (Sus Scrofa Fittatus) Di Kecamatan Meuraxa Banda Aceh Skripsi Universitas Syah Kuala
7 Rizki Amelia Fitriyani Pembinaan Serta Pengembangan Tari Sebagai Upaya Branding Identitas Bangsa Di Era Globalisasi Skripsi Universitas Indonesia
8 Lutfi Chandra Perdana Peningkatan Daya Listrik Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro Desa Tokawi Kabupaten Pacitan Skripsi Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta
9 Andika Putra G Optimasi Dimensi Bendung Pada Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro Di Desa Plumputan Kecamatan Pengging Kabupaten Boyolali Skripsi Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta
10 Liska Rahayu Modal Sosial Sebagai Upaya Mengurai Rantai Belenggu Kaum Marginal Untuk Optimalisasi Pengembangan Diri Menuju Kemandirian Studi Kasus: Pekerja Seks Komersial Yogyakarta Skripsi Universitas Gadjah Mada
11 Gunardhi Indrawan Dampak Injakan (Trampling) Motor Trail Terhadap Ekologi Vegetasi Tumbuhan Bawah, Kondisi Fisik Tanah dan Sosial Ekonomi Masyarakat Sebagai Dasar Pembangunan Berkelanjutan Kawsan Wisata Bandung Utara (Studi Kasus Hutan Lindung Jayagiri, Lembang Jawa Barat) Skripsi Universitas Padjajaran
12 Hasfarn Dian Purba Skenario Keterlibatan Masyarakat Dalam Pengembangan Bank Sampah Di TPA Talangagung Kabupaten Malang Skripsi Universitas Brawijaya
13 Mohammad Inun Hiola Rancang Bangun Prototipe (Pembangkit Listrik Tenaga Nabati) sebagai alternatif Sumber Energi Listrik Terbarukan Berbasis Lingkungan Hijau Skripsi Universitas Hasanuddin
14 Achmad Faisal Akbar Respon Jamur Tiram Terhadap Media Tanam Limbah Popok Bekas Sebagai Upaya Pengelolaan Limbah Popok dan Peningkatan Hasil Jamur Tiram Putih (Studi Kasus Sentra Pengembangan Jamur Tiram Malang Raya) Skripsi
15 Ratih Novi Listiawati Pengembangan Bio-Energi Skala Rumah Tangga Di Desa Tegalweru Kecamatan Dau Kebaupaten Malang Skripsi Universitas Brawijaya
16 M. Nelza Multi Iqbal Perancangan Mangrove Rehabilitation Center Kreksaan Probolinggo Dengan Konsep Ekowisata Skripsi Universitas Brawijaya
17 Puji Hastuti Infentarisasi Folklor: Kukui, Agisiang, Sunsuludon, Komalid, dan Mamatik Suku Dayak Abagag Skripsi Universitas Indonesia
18 Nining Harnita Penerapan Sistem Pengajaran Berbasis Program Untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD) Studi Kualitatif di Sekolah Dasar Citra Alam Ciganjur Skripsi Universitas Indonesia
19 Veraliana Audia Utami Prototipe Sederhana Material Pendeteksi Emisi Udara Akibat Perubahan Iklim Global Untuk Adaptasi Pola Tanam Komoditas Penting Pertanian Tropika Skripsi Institut Pertanian Bogor
20 Miranda Elizabeth Manurung Mewujudkan Masyarakat yang Berwawasan Lingkungan Partisipasi dalam Pengelolaan Sampah Domestik Berbasis Masyarakat Studi Kasus: Kampuk Cilandak Sari Cilandak Barat Jakarta Selatan Skripsi Universitas Indonesia
21 Ade Hady khalilullah Teknologi Alat Perengkahan Sampah Plastik Menjadi Minyak Tanah Skripsi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
22 Sandra Cory Clarisa Tarigan Pengembangan Metoda Biomonitoring Efluen Industri Pelapisan Logam untuk Menjaga Kualitas Sungai Citarum Skripsi Institut Teknologi Bandung
23 Moh. Arif Rohmatullah Peningkatan Nilai Tambah Limbah Batang Kelapa Sawit untuk Biopellet sebagai Energi Terbarukan serta Pemanfaatannya untuk Konsumsi Energi Industri dan Rumah Tangga Skripsi Institut Pertanian Bogor
24 Astuti Lisa Wardany Pemanfaatan Nira Siwalan sebagai bahan baku Pembuatan Etanol untuk Mendorong Terciptanya Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pedesaan dan pasokan Energi Nasional Skripsi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
25 Mochammad Khoetiem Skripsi Universitas Tanjungpura Pontianak
26 Wahyu Ramdhan Wijanarko Masyarakat “Bertahan” bertani tanpa lahan dengan sistem vertical garden Skripsi Universitas Indonesia

Profil Pendaftar

A. Institusi Pendidikan

Dari 93 sekolah dan perguruan tinggi terdapat 43 perguruan tinggi negeri, 4 SMA Negeri dan swasta, 1 Sekolah Dasar, 1 Madrasah Tsanawiyah, 37 perguruan tinggi swasta se-Indonesia, dan 7 perguruan tinggi di luar negeri.

Nomor Perguruan Tinggi / Sekolah
1 UI
2 ITB
3 UGM
4 IPB
5 Universitas Diponegoro
6 UNS
7 USU
8 UNHAS
9 UB
10 UNPAD
11 Univ. Tadulako
12 ITS
13 Univ. Udayana
14 Univ. Pertahanan Indonesia
15 Univ. Haluoleo
16 Univ. Jember
17 Univ. Mulawarman
18 UNESA
19 UNM
20 Univ. Syiahkuala
21 UNJ
22 UPI
23 UNSRI
24 UNTIRTA
25 Univ. Andalas
26 Univ. Cendrawasih
27 Univ. Bangka Belitung
28 Univ. Bengkulu
29 Univ. Riau
30 UNILA Lampung
31 UNY
32 UNM Makassar
33 UNIPA
34 Univ. Soedirman
35 UNNES
36 UNAIR
37 UNY
38 Unmuh Malang
39 Univ. Ahmad Dahlan Jakarta
40 Univ. Atmajaya Yogyakarta
41 IT Sulawesi
42 Unmuh Pare-pare
43 UII
44 UPN
45 UIN Banten
46 IIQ
47 Univ. Borneo Tarakan
48 Univ. Gunung Kidul
49 Politeknik TEDC Bandung
50 Politeknik Negeri Jakarta
51 IAIN Lampung
52 Univ Malikus Saleh Aceh
53 Politeknik Negeri medan
54 Unmuh Surakarta
55 Univ. Samratulangi Manado
56 Univ. Tanjung Pura
57 Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Tangerang
58 Univ. Trisakti
59 Univ. Gunadharma
60 Univ. Indraprasta PGRI Jakarta
61 ISI Padang Panjang
62 Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung
63 Univ. Merdeka Madiun
64 Politeknik Banjarnegara
65 Institut Informatika dan bisnis Darmajaya
66 Univ. Methodist Medan
67 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
68 Unmuh Sumatera Utara
69 IST AKPRIND Yogyakarta
70 Univ. Gajah Putih
71 SDS Bruder Dahlia Pontianak
72 SMAN 1 Langsa
73 SMAN 27 Jakarta
74 MTsN Miftahul Huda Jambi
75 SMA Dempo
76 SMAN 1 Siabu
77 Univ. Khairun
78 STIE Bina Bangsa Banten
79 Politeknik Bandung
80 Univ. Maulana Malik Ibrahim Malang
81 Univ. PGRI Adibuana Surabaya
82 Universitas Nasional
83 Univ. Abul Yatama Aceh
84 STIKES Guna Bangsa Yogyakarta
85 STIKES Insan Unggul Surabaya
86 STAIM Sinjai
87 Universiti Putra Malaysia
88 Univ. Kebangsaan malaysia
89 The University of Tokyo
90 NUS (National University of Singapore)
91 The Ohio University Program
92 Univ. of Auckland
93 Rutgers – State University of New Jersey

B. Instansi Pemerintah

Kemenristek, Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan – Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Kabupaten Tegal, Ombudsman Republik Indonesia, Puskesmas Blang Cut Kota Lhokseumawe Aceh, BP2IP (Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran) Tangerang, Badan Pengembangan PDAM Regional Aceh, Pusat Studi Pariwisata, Pusat Penelitian Oceanografi LIPI, dll.

NGO

YIS (Yayasan Insan Sembada), FORTAIS (Forum Taaruf Indonesia) Yogyakarta, Lingkar Creative Network, Sanggar Harum (Harmoni Warga Bumi), Rainbow, Education and Empowerment, Lembaga Transformasi Masyarakat Jatrova, Fasilitator PNPM Mandiri Perkotaan Probolinggo, Yayasan Bina Kelola, Dompet Dhuafa (Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa), LSM Education Care, dll.

Anugerah Riset Sobat Bumi Dapat Sambutan Luar Biasa

Anugerah Riset Sobat Bumi JAKARTA — Anugerah Riset Sobat Bumi Pertamina Foundation mendapatkan apresiasi luar biasa dari masyarakat. Dari target panitia sebanyak 300 peneliti yang mengajukan proposal, hingga penutupan tanggal 8 April 2013 telah mencapai 1.215 proposal.

“Dari jumlah tersebut, tujuh diantaranya adalah profesor,” tegas Ketua Panitia Anugerah Riset Sobat Bumi Rida Hesti Ratnasari di Jakarta, Rabu (17/4) ini.

Apresiasi yang tinggi tersebut, lanjut Rida, bukan saja ditunjukkan oleh para akademisi dari dalam negeri, tetapi juga dari universitas terkemuka di luar negeri. Yaitu, University of Tokyo, The University of Auckland, National University of Singapore, university Kebangsaan Malaysia, The Ohio State University, University Putra Malaysia, Rutgers – The State University of New Jersey.

Seperti diketahui, Pertamina Foundation membuka peluang bagi para peneliti untuk melakukan riset tugas akhir skipsi, tesis, disertasi dan penelitian mandiri dengan tema terkait Education for Sustainable Development (ESD) dengan nilai total 1,3 milyar.

Sebanyak 56 peneliti terbaik akan dipilih melalui seleksi ketat oleh tim juri yang berasal ademisi, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Pertamina. Yang dimaksud dengan pilar ESD dalam penelitian ini adalah ekologi atau alam, sosial, budaya, ekonomi dan kesejahteraan.

Dikatakan Rida, dari 1.215 proposal yang masuk, terplih 120 proposal yang masuk. “Proposal-proposal tersebut dipilih berdasarkan kesesuaian tema, integrasi pilar-pilar ESD, originalitas, aspek partisipasi stakeholder dan aspek kemanfaatan bagi komunias,” terang Rida.

Dari jumlah tersebut, diverifikasi lagi oleh Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali sehingga menjadi 75 proposal. Terdiri dari dari 21 proposal pengabdian masyarakat dan peneliti mandiri, dimana tujuh profesor berada diantaranya. Kemudian, 27 proposal berupa thesis dan disertasi. Sedangkan 27 proposal terpilih lainnya berupa skripsi.

Selanjutnya, terang Rida, 75 peneliti ini akan mempresentasikan dihadapan juri pada tanggal 23-25 April 2013. Dimana hari pertama merupakan presentasi dari 21 peneliti untuk kategori pengabdian masyarakat dan penelitian mandiri. Hari kedua, presentasi proposal thesis dan disertasi. Dan, hari ketiga 27 presentasi proposal skirpsi.

Penentuan Anugerah Sobat Bumi akan dilakukan pada hari ketiga tanggal 25 April 2013.

Peminat Anugrah Sobat Bumi Membludak, Pendaftaran Diperpanjang

Anugrah Sobat Bumi JAKARTA — Peminat Anugerah Sobat Bumi Pertamina Foundation membludak hingga melampaui 700 orang, atau melewati jumlah pendaftar yang semula diperkirakan hanya 300 orang. Untuk mengakomodir minta yang begitu tinggi ini, panitia memutuskan untuk memperpanjang masa pengajuan proposal menjadi tanggal 8 April 2013.

Peminat Anugrah Sobat Bumi ini bukan saja dari dalam negeri tetapi juga berasal dari luar negeri seperti, Norwegia, Belanda, Filipina, Malaysia dan Maroko.

“Mengingat minat yang begitu tinggi, jadwal penerimaan proposal kami undur hingga 8 April 2013. Kami juga mengundang peneliti mandiri dari masyarakat umum untuk berpartisipasi dan melamar program ini,” terang Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali di Jakarta, Senin (25/3) ini.

Pertamina Foundation membuka peluang bagi para peneliti untuk melakukan riset tugas akhir skipsi, tesis, disertasi dan penelitian mandiri dengan tema terkait Education for Sustainable Development (ESD). Sebanyak 55 peneliti terbaik akan dipilih melalui seleksi ketat oleh tim juri yang berasal ademisi, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Pertamina.

Yang dimaksud dengan pilar ESD dalam penelitian ini adalah ekologi atau alam, sosial, budaya, ekonomi dan kesejahteraan.

Lebih lanjut, Ahmad mengatakan, total hadiah yang diberikan bagi 55 peneliti selama tahun ini sebesar Rp 1,3 milyar dengan rentang hadiah bagi setiap peneliti antara Rp 10-50 juta, disesuaikan dengan jenjang pendidikan. “Salah satu kunci penilaian adalah jika penelitian yang dilakukan mampu mengintegrasikan setiap topik dalam pilar ESD,” katanya.

Bagi para peneliti yang berminat dapat mengajukan proposal melalui email anugrah.risetsobatbumi@gmail.com selambat-lambatnya diterima panitia pada tanggal 8 April 2013.

Proposal Anugerah Sobat Bumi dalam bentuk hard file dapat dikirim melalui pos dengan alamat Panitia Seleksi Anugrah Riset Sobat Bumi Gedung Pertamina Foundation (R.8) Jl. Sinabung II, Terusan Simprug Raya, Kawasan Pertamina Simprug, Simprug Kebayoran Lama, Jakarta 12220 selambat lambatnya tanggal 15 April 2013 (cap pos).

Selanjutnya, pengumuman hasil seleksi tahap administratif dan substansi akan dimuat di portal www.beasiswa-sobatbumi.com pada 18 April 2013. Sebanyak 65 proposal riset terseleksi diberikan kesempatan untuk mempresentasikannya pada tanggal 22-25 April 2013. “Di hari akhir presentasi, kita langsung umumkan 55 peneliti terpilih,” tandas Ahmad.

Pertamina Foundation Buka Relawan “Guru Sobat Bumi” ke Malaysia

JAKARTA — Jumlah anak-anak Indonesia yang mengalami buta huruf di Malaysia saat ini tidak kurang dari 59.000 orang. Sebanyak 49.000 diantaranya merupakan putra-putri Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tersebar di Sabah.

“Inilah yang menjadi target kami, mereka harus melek huruf agar memiliki masa depan,” tandas Ahmad Rizali Direktur Pendidikan Pertamina Foundation di Jakarta, Selasa (12/2).

Pemberantasan buta huruf yang dilakukan salah satunya adalah dengan mengirimkan langsung relawan “Guru Sobat Bumi” ke titik-titik dimana anak-anak buta huruf berada. Mengingat luasnya kawasan Sabah, maka akan disebar tidak kurang dari 20 guru.

“Mereka adalah para relawan guru dan tenaga pengajar. Karenanya, kami menyebut kegiatan ini Program “Guru Sobat Bumi”,” kata Ahmad.
Dijelaskan Ahmad, relawan “Guru Sobat Bumi” akan tinggal di lokasi selama 9 bulan hingga setahun dengan target membantu pengajaran membaca anak usia sekolah dan pembelajaran murid SD kelas 1 sampai dengan kelas 3, dengan jumlah sedikitnya 5.000 anak.

Pembukaan Relawan Guru Sobat Bumi, lanjut Ahmad, akan dilakukan pada pertengahan Februari 2013 melalui website www.beasiswa-sobatbumi.com. Adapun seleksi dari tim independen berlangsung hingga akhir Februari 2013. “Guru Sobat Bumi” ini terbuka bagi umum dan lebih diutamakan para penerima beasiswa Pertamina Foundation dan juga alumninya.

“Kami juga membuka kesempatan bagi alumni pendidikan guru Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidik atau LPTK serta S1 lainnya. Yang penting semua calon harus memiliki jiwa pionir dan tahan uji. Kesempatan ini berlaku bagi pria dan wanita” kata Ahmad.

Para calon relawan yang dinyatakan lulus, sambung Ahmad, akan dibekali pelatihan dasar mengajar selama 40-56 jam dari tim trainer Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan latihan survival dari TNI AD. Serangkaian pelatihan tersebut akan mulai dilaksanakan pada awal Mei 2013.
“Selain itu, peserta juga akan mendapatkan ongkos pengurusan paspor, semua urusan imigrasi, tiket pesawat PP, biaya hidup serta akomodasi selama 9 bulan hingga setahun.

Dikatakan, relawan guru akan mulai diberangkatkan pada peterengahan Agustus 2013 dan mulai mengajar paling lambat di awal September 2013.